Senin, 23 Desember 2013

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk; Mengangkat Cerita Cinta Klasik.

Beberapa bulan menjelang pergantian tahun 2013, para pecinta film "direnteti" sebuah trailer film kolosal Indonesia yang muncul di berbagai media. Trailernya mengingatkan kita akan film Great Gatsby & Titanic. Saya sendiri tidak bisa mencaci maki plagiat dalam trailer, karena trailer ini tampil dengan kekhasan budaya Indonesia. laksana Great gatsby atau trailer dengan cita rasa Indonesia. Sayangnya satu dua isi trailer dan juga posternya membuat saya meragukan isi filmnya, tetapi : “don’t judge the movie by its postres/trailers

Tenggelamnya Kapal Van der wijk bercerita tentang Zainuddin (Herjunot Ali), seorang anak pendekar minang yang merantau dan menikah dengan wanita bugis. Sepeninggal bapaknya, Zainuddin pulang ke tanah kelahiran bapaknya, tepatnya di Desa Batipuh Sumatera barat untuk mendalami ilmu agama. Di sana dia bertemu sang bunga desa, Hayati (Pevita pierce) yang memikat hatinya. Hayati pun terpikat dengan Zainuddin melalui keindahan puisi. Sayangnya, status Zainuddin sebagai orang buangan (keturunan suku minang dari ibu luar suku minang) membuat para datuk (tetua/kepala desa) menentang hubungan Zainuddin - Hayati, dan membuatnya diusir dari desa. Lalu pada menit ke-20 air mata pertama tokoh utama film ini pun jatuh dalam suatu adegan perpisahan yang mengharu biru dengan dialog-dialog deklamasi yang menyayat hati. Hayati berjanji untuk menunggu Zainuddin kembali, sebuah janji yang menjadi sumber segala petaka dan kesedihan dalam keseluruhan film ini (*anda bisa membaca kalimat terakhir ini dengan aksen Zainuddin)
  
Zainuddin pun pindah ke Padang panjang untuk melanjutkan pelajaran agamanya pada seorang guru mengaji. Disana dia bersahabat dengan Muluk (Randy Nidji) anak guru mengaji yang bandel. Walau berjauhan, Hayati terus berusaha untuk tetap menjalin hubungan serta bisa terus bertemu dengan Zainuddin. Upaya Hayati untuk melakukan pertemuan diam-diam dengan Zainuddin, justru membuatnya bertemu dengan Aziz (Reza rahadian), seorang pemuda kaya yang berkeja di kantor Belanda dengan gaya hidup orang kota yang suka berfoya-foya. Aziz pun terpikat dengan kecantikan

Hingga suatu saat, Aziz dan Zainuddin melamar Hayati dalam waktu bersamaan. Rapat desa pun digelar untuk memutuskan siapa orang yang tepat untuk bisa menikahi Hayati. Datuk Desa Batipuh pun memilih Aziz sebagai suami hayati. Sebuah keputusan membuat Zainuddin jatuh terpuruk, sekaligus titik balik hidupnya.
  
Selepas pernikahan Hayati, Zainuddin menulis semua keluh kesah hidupnya dalam sebuah novel. Tak disangka, novel Zainuddin terjual laris dan menghantarnya untuk memegang sebuah percetakan surat kabar di Surabaya. Hidup Zainuddin pun berubah menjadi kaya raya dan pindah ke sebuah rumah besar.
Aziz yang dipindah tugaskan ke Surabaya, memboyong Hayati ke Surabaya. Kebiasaanya Aziz mabuk & berjudi membuatnya bangkrut, dan kehilangan segalanya. Zainuddin pun menolong Azis dan suaminya, dengan mempersilahkan mereka berdua untuk tinggal di rumahnya. Lalu kisah cinta  Zainuddin dan Hayati kembali hadir, hingga sebuah tragedi mengkandaskan segalanya.


Secara teknis saya terpukau dengan penampilan film Tenggelamnya Kapal van der wijk. Sang sutradara, Sunil soraya berhasil menciptakan sebuah kisah romantis klasik yang sangat berkelas. Kota Minang, Batavia, dan Surabaya di tahun 30an dihidupkan dengan detail setting dan kostum dengan nilai art yang sangat mengagumkan. Film ini juga tampil dengan gambar dengan warna-warna buram makin menguatkan kesan klasik dari gambaran kota-kota tersebut. Sayangnya kota–kota ini tampil bukan secara landscape yang lebih lebar. Mereka belum berhasil menggunakan teknik blue screen untuk menggambarkan landscape Indonesia tahun 30an, seperti yang mereka gunakan scene Kapal Van der Wijk. Walau begitu, Saya masih mengangkat jempol tertinggi untuk kru teknik film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.
   
Karakter Zainuddin-Hayati-Aziz terjalin dengan amat apik. Gaya bicara bak deklamasi adalah pilihan tepat untuk membuat dialog–dialog klasik dalam novel terdengar nyata. Aksen Herjunot ali dan Pevita pierce yang awalnya terdengar aneh di telinga, lama-lama menjadi kekuatan dalam film ini. Terlebih saat adegan dialog ditampilkan dengan gaya berbalas surat, terdengar sangat indah, emosional, dan klasik. Reza rahardian terlihat sangat santai melahap karakter antagonisnya serta menjalin ikatan dengan 2 tokoh utama dengan meyakinkan. Sayangnya, saya melihat ada sesuatu yang hilang saat transformasi karakter Aziz dari seseorang yang berkuasa menjadi seseorang yang bangkrut.
  
Aziz - Hayati - Zainuddin
Karakter Muluk yang dibawakan Randy Nidji perlu mendapat perhatian. Jika anda pernah menyaksikan film Cold mountain, anda akan melihat Herjunot ali bagaikan Jude law & Pevita pierce bagaikan Nicole kidman, sedangkan Randy beberapa saat hampir menjadi Reese witherspon di film ini. Dia tampil sebagai penyeimbangan gaya deklamasi Herjunot & Pevita. Sayangnya ketika dia menemukan rulenya, karakter Muluk seperti terbungkamkan.
   
Musik yang dihadirkan Nidji melalui single  sumpah cinta mati memang berhasil menguatkan sisi emosional film ini.  Sayangnya, sang sutradara terlalu memaksa memasukkan lagu ini ke semua adegan, yang akibatnya justru kotradiktif. Beberapa lagu ditampilkan tidak pas, membuat beberapa adegan film ini laksana FTV siang hari. Bahkan dari twitter seorang penonton berkomentar “Lama-lama Nidji menjadi gengges di film ini”.
  
Walau judul dari film ini adalalah Tengelamnya Kapal Van Der Wijk, tetapi jangan bertanya penyebab tenggelam kapal ini. Alih–alih mengkritisi bagian ini, saya dibuat sibuk dengan letupan emosi yang timbul dari surat dari Hayati yang dibaca mengiringi tenggelamnya Kapal Van Der wijk. Sebuah ide bagus untuk menutup lubang besar baik secara visual effect maupun logika dalam film ini. Saya sangat memaklumi dan mengapresiasi film Indonesia yang berani menghadirkan adegan beresiko tinggi.
  
Akhirnya walaupun masih gagal disana-sini, Film Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, bisa dikatakan cukup berhasil mengadaptasi novel karya Buya hamka. Rasanya sulit dipercaya kisah cinta nan tragis ini dibuat oleh seorang ulama besar. Sebuah novel yang dibuat untuk mengkritik budayanya sendiri pada masa itu. Sebuah kritik yang sebenarnya universal, untuk tidak menghakimi seseorang dari label, masih sangat relevan untuk bangsa kita yang hingga saat ini gemar memberikan label lalu menghakimi.
Nilai : 3 / 5 

2 komentar:

  1. BAYAR PAKAI OVO GO-PAY PULSA XL = AXIS = TELKOMSEL

    || POKER | DOMINOQQ | CEME | CAPSA | SAKONG||


    Merdeka Deposit Min Rp.50.000 Bonus 4.500 || Merdeka Deposit Min Rp.100.000 Bonus 8.000

    Merdeka Deposit Min Rp.200.000 Bonus 17.000 || Merdeka Deposit Min Rp.500.000 Bonus 45.000


    WhastApp : 0812-9608-9061

    BalasHapus