Tampilkan postingan dengan label Review film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review film. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2016

Trauma Minoritas (Review Film Ngenest)

Indonesia adalah rumah dari lebih dari 250 juta orang dari 1,340 suku bangsa, yang berbicara dalam 742 bahasa, dan memeluk 6 agama serta puluhan aliran kepercayaan lainnya. Dari sekolah kita belajar, bahwa lokasi geografis Indonesia di antara lalu lintas pergerakan ekonomi dan manusia ditambah ciri khas masyarakat Indonesia yang (katanya) ramah dan terbuka membuat Indonesia menjadi tempat singgah bagi banyak bangsa asing. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keberagaman tertinggi di dunia. Memiliki slogan “Bhineka Tunggal Ika”, masyarakat Indonesia (seharusnya) sudah terbiasa dan bisa berdamai melihat sesuatu yang berbeda, dan (seharusnya) membuat Indonesia adalah surga bagi semua suku, agama, ras, dan golongan. Apakah itu yang sebenarnya terjadi?

Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan jenaka oleh Ernest Prakasa, sang sutaradara, penulis skenario, sekaligus bintang utama di Film berjudul Ngenest ini. Ernest Prakasa menceritakan tokoh Ernest (Tierra Solana-Kevin Anggara-Ernest Prakasa), seorang Indonesia yang terlahir dari keluarga Cina. Kisah ini dibuat berdasarkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan Ernest Prakasa sebagai minoritas di negeri ini. Menurut hitungan kuantitas, Etnis Cina memang minoritas, tetapi menurut hitungan kekuatan ekonomi, mereka mayoritas. Hal ini menjadikan Ernest tumbuh dengan label minoritas, asing dan kaya.

Patrick dan filosofi tokai
sumber ; @catatanfilm
Label yang membuat Ernest menjadi bahan risak (bully) sepanjang hidupnya, entah itu karena fisiknya maupun selalu menjadi sasaran pemalakan. Tapi Ernest cukup beruntung, dia punya Patrick (Marvell Adyatama–Brandon Nicholas-Morgan Oey), sahabat yang punya seribu akal untuk menolongnya dari risak. Ernest remaja mencoba berbagai cara untuk mengakhiri risak yang ia alami. Dia berfikir dengan meninggalkan identitas dirinya sebagai seorang Cina dan mencoba menjadi mayoritas dia akan berhenti menjadi korban risak.

Bagian awal Film Ngenest ini sangat unik, sebagai seorang standup komedian Ernest Prakasa tahu betul bagaimana menghadirkan kisah pilu dalam sebuah komedi segar yang mengundang tawa. Sebuah kisah pilu yang akhirnya meninggalkan trauma yang akan menentukan kisah hidupnya selanjutnya.

Trauma menjadi seorang minoritas membuat Ernest memutuskan untuk mencari pendamping hidup seorang pribumi. Dia berharap melalui cara ini, apa yang dia alami menjadi seorang Cina tidak menurun ke anak-anaknya,  lalu munculah seorang gadis sunda bernama Meira (Lala Karmela). Menjalin hubungan dengan pribumi bukan hal yang mudah, di bagian ini kisah Ngenest berubah menjadi sebuah komedi romantis yang manis.

Kisah percintaan yang mengundang senyum ini tak bertahan lama, saat Ernest harus memasuki babak baru dari hidupnya sebagai seorang suami. Trauma masa kecilnya menyeruak saat dia menghadapi kenyataan buah hatinya kemungkinan akan mengalami apa yang ia alami sebagai minoritas.

Kisah Ernest yang harus diadili oleh sesuatu yang tidak ia pilih adalah secuil kisah dari kehidupan minoritas di negeri ini. Bahkan di negara yang mejemuk ini orang-orang yang berbeda masih dianggap aneh. Ernest kecil sudah menjadi korban risak oleh teman-teman sebayanya. Manusia tidak membawa sifat rasis saat dia lahir, lalu dari mana anak-anak ini belajar rasis? Mengapa diskriminasi tetap ada di negara semajemuk ini?

Artikel dari Robert Wrigt menyebutkan, manusia yang melihat sesuatu yang berbeda dengan dirinya akan diikuti dengan peningkatan aktifitas di amigdala, struktur otak yang berhubungan dengan emosi deteksi ancaman. Inilah yang membuat seseorang yang berbeda akan mengalami perbedaan sikap, bahkan di usia dini sekalipun. Kecenderungan diskriminasi ini makin membesar terhadap si minoritas yang menguasai ekonomi yang menciptakan sebuah ketakutan akan sebuah dominasi yang bisa mengecilkan mayoritas. Itu sebabnya mengapa warga keturunan Cina selalu menjadi korban risak.  

Diskriminasi terhadap minoritas ini juga makin diperparah dengan sikap dasar manusia yang cenderung mengelompokan orang dalam kelompok-kelompok kecil lalu mengadili dengan mengeneralisir berdasarkan pengalaman buruk yang ia terima, seperti apa yang papa Meira pandang terhadap Ernest. Wright juga menambahkan, aktivitas ini akan menurun jika dalam situasi yang majemuk, seperti halnya ketika Ernest memutuskan untuk berbaur dengan si mayoritas.

Lalu, walau beberapa hal dalam film ini belum bisa dieksekusi dengan baik, tetapi Ngenest sukses menyuarakan protes para minoritas dalam sebuah komedi segar. Protes yang membuat sang mayoritas bisa tertawa karena tertohok, dan si minoritas tertawa karena melihat persamaan nasib. Atau memang itu yang harusnya dibutuhkan bangsa Indonesia, tertawa bersama.

Jumat, 14 Oktober 2016

Merasakan Mimpi Buruk Pengebor Minyak (Deepwater Horizon)

Pada 20 April 2010, terjadi letupan lumpur bercampur oli di tempat ekplorasi minyak lepas pantai di teluk meksiko yang dioperasikan R&B Falcon. Letupan ini menyebabkan ledakan besar yang membunuh 11 orang pekerja, Ledakan tersebut menyebabkan kebakaran selama 87 hari serta menumpahkan jutaan barel minyak ke teluk meksiko dan mencatatkannya sebagai tragedi tumpahan minyak terbesar sepanjang sejarah.

Film dibuka tentang keseharian pekerja pengeksplorasi minyak, dari suasana rumah Mike Williams (Mark whalberg) yang hangat, lalu bagaimana pekerjaan menuntut mereka harus berpisah dengan keluarga untuk sekian waktu yang lama menuju ke tempat pengeboran minyak (rig) bernama Deepwater Horizon. 

Dari kehidupan rumah, Mike seakan mengajak para penonton untuk sedikit mengekplorasi "dunia" deepwater horizon. Ada si tomboy Andrea (Gina Rodriguez), satu-satunya wanita dalam rig tersebut, Mr Jimmy (Kurt Russel), si Bos yang disiplin, dan keras kepala. Di sini kita melihat tempat kerja yang keras dan terpencil terasa begitu hangat dan intim bagaikan rumah kedua mereka.

Tak berlama-lama mengekplorasi kehidupan para pekerja, film ini kemudian menghadapkan kita ke sebuah masalah klasik di semua tempat kerja saat keselamatan dan perhitungan teknis berhadapan dengan perhitungan bisnis. Belum berhasilnya mereka mengalirkan minyak dari perut bumi hingga 43 hari dari target membuat si perwakilan pemilik minyak British Petrolium, Donald (John Malkovich) menekan tim deepwater untuk lebih berani melampaui batasan teknis yang mereka punya. Lalu satu keputusan membuat ledakan yang membuat Deepwater Horizon dalam waktu singkat menjadi neraka.

Bercerita tentang dunia perminyakan, Deepwater Horizon tak serta merta meninggalkan penonton awam untuk mengetahui proses yang terjadi di dunia pengeboran minyak. Saya suka dengan cara film ini menyederhanakan berbagai proses yang rumit dengan cara yang menyenangkan. Seperti bagaimana mereka mengistilahkan minyak sebagai monster dinosaurus, dan para pekerja ekplorasi minyak adalah para penakluk monster. Seperti letupan lumpur bercampur minyak yang digambarkan laksana letupan kaleng coca-cola. serta bagaimana pekerjaan menantang maut yang mereka lakukan itu diibaratkan seperti memancing lele dengan menggunakan tangan  sebagai umpan, dan banyak hal lainnya.

Saya tahu, istilah-istilah tersebut terlalu menyederhanakan apa yang terjadi, tetapi itu sudah cukup membuat kita tahu rasanya menjadi pekerja pengeboran minyak lepas pantai lengkap dengan bagaimana saat mimpi buruk mereka menjadi kenyataan. Deepwater horizon sangat lengkap memberikan pengalaman bagi penonton tidak hanya dari segi visual, tetapi juga secara emosional menjadikan thrill film ini terasa lebih kental.

Rating : 3.5/5



Minggu, 27 Maret 2016

XXI Short Film Festival 2016: Dokumenter

Sumber : http://21shortfilm.com/program-festival
Wasis
Sutaradar : Ima Puspita Sari
Pak Wasis adalah orang yang mencetuskan program jam belajar Masyarakat (JBM). Sebuah program yang dulu pernah dicanangkan saat orde baru hingga reformasi membuat masyarakat melupakan program ini. Merasa program ini penting Pak Wasis berusaha untuk menghidupkan lagi program ini dengan melakukan berbagai sosialisasi di berbagai daerah.

Dokumenter ini tidak hanya mengajak kita mengenai apa jam belajar itu, tetapi juga melihat bagaimana keseharian Pak Wasis. Menginjak usia 78 tahun, Pak Wasis masih sangat energik melakukan berbagai kegiatan untuk mensukseskan programnya. Yang unik, film ini juga seakan skeptis terhadap program yang nampak usang. Tidak melulu serius dengan bahasan tentang pendidikan, film ini mampu menangkap reaksi-reaksi unik masyarakat yang cukup mengundang tawa.

Score: 3.5/5

Sumber : http://21shortfilm.com/program-festival
Kesan pertama
Sutradara : M. Iskandar Tri Gunawan.
Dokumenter ini bercerita tentang sebuah keluarga Zarkoni yang tinggal di Yogyakarta. Keluarga Zarkoni adalah keluarga normal pada umumnya, dengan 2 anaknya yang masih kecil yang memiliki masalah kesehatan. Anak pertama Zarkoni memiliki masalah pada nafsu makan, sedangkan anak keduanya terserang batuk -pilek. Lalu seperti pada keluarga pada umumnya, dia mencari informasi mengenai pengobatan alternatif dari testimonial teman-teman terdekat yang akhirnya mengantarkannya pada jamu cekok. 

Film ini mengajak kita melihat lebih dekat mengenai bagaimana keluarga jawa menyelesaikan masalah kesehatan mereka secara tradisional, lengkap dengan keunikan teknik pengobatan jamu cekok itu sendiri. Dokumenter ini terasa sangat dekat dengan menampilkan adegan-adegan unik yang sangat segar seputar kehidupan keluarga Zarkoni. 
Score : 3/5


Sumber : http://21shortfilm.com/program-festival
Nostalgia Senja
Sutradara : Fazhilla Anandya
Oen Sin Yang atau dikenal dengan nama panggilan Pak Goyong adalah seorang pelestari musik tehyan. Ketika genre musik yang dimainkannya tergerus jaman dan ditinggalkan pendengarnya Pak Goyong masih setia untuk tetap memainkannya serta membuat alat musik tehyan walau itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Film ini mengajak kita melihat lebih dekat keseharian Pak Goyong, mulai dari pagi hari saat beliau menjadi pemulung hingga memenuhi undangan tampil ke acara festival. Film ini tampil manis, sendu, dan melankolis terlebih pada akhir film menampilkan Pak Goyong yang bermain musik saat senja menjelang di tepian sungai, berharap kita tidak melupakan orang-orang seperti Pak Goyong.

Score : 3/5

Sumber : http://21shortfilm.com/program-festival
Bibi Siti Switi
Sutradara : Cynthia Natalia
Jika anda sedang tidak memiliki ide untuk membuat cerita, dengarkan pembantu anda bercerita.

Film dokumenter ini berutat seputar kisah cinta seorang pembantu rumah tangga bernama Siti. Dengan gaya Bibi Siti yang lugu, polos dan penuh filosofi akan cinta film ini tampil sangat segar dan sangat-sangat menghibur. Akan tetapi jika dilihat dari tema dokumenter, film ini sangat dangkal. Kita hanya diajak mendengar tanpa ada ruang untuk bersimpati atau terhubung dengan isu yang lebih besar
Score : 2.5/5


Pak Tjipto Sang Designer Tipografi Vernakuler
Sumber : http://21shortfilm.com/program-festival
Sutradara : Andi Haryanto
Tipografi Vernakuler adalah seni menulis huruf secara manual. Jika dulu orang membuat iklan tulisan dan gambar secara manual, saat ini teknik ini sudah ditinggalkan sejak menjamurnya mesin cetak atau printer. Pak Tjipto tinggal di Yogyakarta adalah sedikit orang yang masih setia menjalankan bisnis tipografi vernakuler dan juga melukis becak.

Sang sutradara membuat film ini untuk mendokumentasi salah satu teknik desain grafis yang akan punah oleh perkembangan jaman.
Score : 2/5


Sumber : http://21shortfilm.com/program-festival
Viva Tar 
Sutradara : Yandy Laurens
Dokumenter ini dibuat untuk memperingati 50 tahun Marching band Korps Putri Tarakanita (KPT). Berisi kumpulan wawancara puluhan alumni KPT, yang banyak diantara mereka telah menjadi pesohor negeri ini seperti Ira wibowo, Tamara Geraldine, dll. para alumni ini bercerita tentang memori mereka saat bergabung di marching band ini. Mulai dari bagaimana kesan pertama mereka melihat KPT, hingga bagaimana akhirnya marching band ini ikut menjadi bagian terpenting kehidupan mereka. 

Yang unik dari dokumenter ini adalah editing. Kita mungkin akan bosan dalam 24 menit mendengar puluhan orang bercerita hal yang sama, tetapi dokumenter ini menampilkan semua wawancara ini secara efektif.  Fokus dokumenter Viva tar memang hanya tentang apa yang para alumni KPT rasakan dan untuk ini mereka berhasil, Viva Tar mampu membuat kita merasakan apa yang nara sumber itu rasakan mengenai korps marching band ini. akan tetapi, umur 50 tahun sepertinya terlalu panjang hanya untuk melihat sisi positif, tanpa ada pasang surut, serta bagaimana mereka bertahan selama itu dan ini membuat semua testimonial ini terasa berat sebelah.
Score : 2/5

Minggu, 15 November 2015

Agama dan Konspirasi (Review Film 3)

Berbagai adegan kekerasan dan juga aksi terorisme atas nama Agama menjadikan Pemerintah bersikap represif terhadap berbagai kelompok Agama. Dengan alasan yang sama, Masyarakat juga menjadi apatis terhadap Agama. Bagi Pemerintah juga masyarakat Agama hanyalah sebuah parasit yang merusak perdamaian. Hal ini merubah wajah Indonesia, begitu juga merubah kehidupan 3 sahabat kecil bernama Alif, Lam, dan Mim yang tinggal disebuah pondok pesantren.

Kekerasan atas nama agama telah membunuh orang tua Alif, dan tak berapa lama kondisi memaksa pondok pesantren tempat mereka belajar ilmu agama sekaligus tempat mereka memperdalam ilmu bela diri ditutup. Sang guru (Cecep A Rahman) pergi merantau mencari kehidupan baru, hal ini membuat 3 sahabat ini juga memulai kehidupan barunya masing-masing.

Waktu berlalu, di tahun 2036 Indonesia berubah total. Sikap represif Pemerintah terhadap kelompok Agama menjadikan kaum liberal berkuasa. Hal ini membuat ratusan rumah inadah, pondok pesantren ditutup. Sikap apatis masyarakat kepada Agama, juga membuat kaum relijius menjadi kaum yang didiskriminasikan dan dipandang sebelah mata. 

Dendam akan kematian orang tuanya, menjadikan Alif dewasa (Cornelia Sunny) menjadi seorang penegak hukum yang sangat idealis. Dengan alasan untuk menekan kekerasan, para penegak hukum hanya boleh menggunakan peluru karet, membuat ilmu bela diri tangan kosong menjadi hal utama. Di pembukaan film, kita akan disuguhi bagaimana Alif tampil laksana Karakter Rama di film The Raid. Kemampuannya ini menjadikan Alif seorang penegak hukum yang disegani, sayangnya idealismenya menghambat karirnya. Kehidupannya kembali berubah ketika mantan kekasihnya (Prisia nasution) membawanya ke sebuah konspirasi besar

Lam dewasa (Abimana Aryasatya) sukses berkarir dibidang jurnalistik. Bisa dibilang kehidupannya nyairs sempurna, berbagai penghargaan di bidang jurnalistik dia dapat, dia juga punya seorang istri cantik (Tika Bravani) yang selalu mendukungnya, dan seorang putra yang cerdas. Sayangnya karir Lam dalam bahaya, sebagai pemeluk Islam yang taat, membuat pimpinan redaksi tempat lam bekerja khawatir. Masyarakat akan menganggap media Lam tidak obyektif dan tentu saja pemilik modal akan sangat membencinya. Tidak hanya itu, sikap kritis Lam membawa dia menemukan konspirasi besar yang membenturkan penegak hukum dengan kelompok agama. Artinya dia akan melihat 2 sahabatnya Alif dan Mim akan saling bunuh.

Mim dewasa (Agus Kuncoro) tinggal di sebuah pondok pesantren menjalani cita-citanya untuk terus melakukan syiar Agama Islam. Ledakan di sebuah cafe membuat pondok pesantren Mim menjadi target yang dibidik oleh penegak hukum untuk dimusnahkan. Merasa dikhianati, Mim tidak tinggal diam, berbekal ilmu bela dirinya yang tinggi mereka berhadapan dengan sepasukan para penegak hukum sekaligus membawanya ke sebuah konspirasi besar. 

Film 3 dibuka dengan  provokatif. Islam digambarkan sebagai pemicu kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap berbeda, serta sebagai pemicu aksi terorisme yang mengganggu perdamaian. Sebuah rangkaian adegan yang mengharuskan film ini membuat peringatan para penonton untuk menonton film ini hingga selesai. Selanjutnya melalui konflik antara Alif, Lam dan Mim, pelan-pelan kita dibawa ke sebuah pertanyaan apakah benar Islam adalah agama yang penuh kekerasan ataua kah mereka hanyalah korban konspirasi?

Cerita konspirasi cukup sering terdengar di sekiar kita, dari obrolan warung kopi, media sosial, hingga ke mimbar Agama. Walau jadi konsumsi sehari-hari, hanya sedikit Film Indonesia yang mengangkatnya sebagai tema. Dari sedikit film yang membawa cerita konspirasi film 3 adalah yang paling berhasil menyampaikannya. Tak hanya punya cerita di atas rata-rata, skenario film 3 juga dipenuhi dialog-dialog aktual menggambarkan berbagai pandangan berbagai kelompok, dari pemeluk Agama konservatif, moderat hingga kaum liberal. 

Berbagai benturan kepentingan kelompok yang berseberangan bisa disampaikan tanpa membuat salah satu kelompok merasa direndahkan. Hingga kita diberi gambaran bahwa konspirasi yang selalu menjadi kambing hitam itu bekerja melalui kebencian dan intoleransi.

Walau bisa dikatakan sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini, film 3 bukan hadir tanpa cacat. Kelemahan terbesar film ini ada pada tampilan visualnya. Film 3 begitu berambisi menghadirkan Jakarta di masa depan dengan visual effect yang tampak begitu sangat murahan. Terlebih untuk kita yang telah terbiasa menikmati visual efect film Hollywood. Kelemahan terbesar film 3 bukan menjadi hal yang penting lagi saat di sepanjang film kita dimanjakan action dengan koreo yang apik, cerita dengan twist yang pas, berbagai karakter unik dengan dialog-dialog yang membuat kita merenung akan kondisi saat ini. 

Rating : 3.5/5

Kamis, 28 Mei 2015

89 Menit Rasa 7 Hari (Review Film 7 Hari Menembus Waktu)

Suatu waktu, Saya pergi ke bioskop dan memilih 1 buah film secara random untuk saya tonton. Dengan alasan "memiliki waktu tayang yang tak membuat saya menunggu terlalu lama" maka saya putuskan untuk memilih film 7 hari menembus waktu. Saya tak pernah mengetahui jenis film seperti apa yang saya tonton ini, tapi entah mengapa saya memiliki perasaan buruk begitu memasuki ruangan bioskop.

... dan perasaan buruk saya pun terwujud saat di layar muncul nama sang sutradara : Nayato Fio Nuala. 

FIlm 7 Hari menembus waktu bercerita tentang Marisa (Anjani Dina) seorang gadis semata wayang pengusaha kaya raya yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Alhasil, Marisa menjadi seorang gadis SMA yang manja dan bertingkah sangat menjengkelkan. 

Cerita berlanjut saat Marisa menemukan sebuah lukisan di lorong sekolah SMA (naruh lukisan di lorong sekolah, apa gak takut dicoret-coret anak SMA ya?) lengkap dengan judul lukisan dan khasiatnya (minus siapa yang melukis). Lukisan ini membawa Marisa ke tahun 1994. Sebagai generasi 2015, Marisa terkejut dan bingung melihat becak tahun 1994, sama bingungnya seperti saya melihat seseorang pemuda SMA yang akan bunuh diri di tangga penyeberangan yang ramai.

Lalu munculah sebuah misi untuk Marisa agar bisa kembali ke masa depan dan dimulailah petualangan si gadis manja untuk menolong si korban bully, William (Teuku Rasya) untuk mendapatkan gadis impiannya, menjadi pemberani dan membantu dia beradamai dengan tantenya. Jangan terlalu banyak bertanya mengapa pada rentetan adegan-adegan nan absurd di sepanjang film ini, karena seperti kata Marisa, itu akan mengurangi keasyikan dalam menonton film. 

Para cast film ini tampak bagai sebuah orchestra yang tampil tanpa dirigen. Untuk bisa kompak mereka menampilkan karakter klise yang nyaris sama. Perhatian saya tertuju pada tokoh utama film ini : Anjani dina. Dia berhasil mengeksekusi keinginan sang sutradara untuk membuat sang penonton merasa sebal dengan karakter Marisa. Saking bagusnya eksekusi ini, kita juga merasa sebal dengan semua tokoh yang ada di dalam layar. Tak hanya itu, Marisa berhasil menangkap apa yang penonton rasakan sepanjang film, yang dia ungkapkan untuk tahun 1994 : Membosankan! Saya sampai berkali-kali melirik ke jam untuk memastikan durasi film ini tak lebih dari 89 menit bukan 7 hari.

Rating : 0/5

Senin, 13 April 2015

Kisah Dalam Secangkir Kopi (Review Film Filosofi Kopi)

Sering kali saya memilih bioskop untuk mengusir kesepian. Saya sering membayangkan, jika bioskop adalah kedai kopi, maka film adalah cerita dari seorang teman yang menemani kita. Dia memberikan sebuah cerita seru yang menghibur, menginspirasi atau sekedar agar kita bisa mengatakan "saya merasakan itu juga". Bioskop selalu memberikan atmosfir yang baik untuk kita terus mendengar cerita dari seorang teman walau kadang cerita tersebut gagal tersampaikan dengan baik. Begitu juga kedai kopi yang baik, dia lebih memilih menyajikan kopi yang enak tanpa fasilitas wifi, agar gadged kita tak bisa mendistraksi cerita yang disampaikan oleh seorang teman. Di film filosofi kopi, tidak ada yang bisa mendistraksi anda dari cerita yang disampaikan oleh sutradara Anga dwimas sasongko ini.

Film ini bercerita tentang 2 orang sahabat yang menjalankan bisnis kedai kopi yang bernama filosofi kopi. Jody (Rio dewanto) menyulap toko kelontong warisan bapaknya menjadi sebuah kedai kopi, sedangkan saudara angkatnya sekaligus sahabatnya Ben (Chico jericho) yang menjadi barista di kedai kopi tersebut. Jody dan Ben memiliki sifat yang bertolak belakang. Jody terkesan kaku, serius, dan ingin menjalankan segala sesuatunya sesuai planning. Sedangkan Ben menjalani hidupnya dengan lebih santai, menganggap segalanya akan baik-baik saja,berani mengambil resiko, tapi idealis dan keras kepala.

Ben adalah seorang barista handal, kopi racikannya menjadi favorit banyak orang. Sebenarnya kedai kopi mereka sudah berjalan cukup baik, akan tetapi hutang ayah Jody yang cukup besar, membuat mereka diambang kebangkrutan. Berkali-kali ide efisiensi Jody untuk meningkatkan pendapatan harus kandas karena keidealisan Ben. Begitu pula ide-ide racikan kopi dari Ben kandas karena tak sesuai budged yang ditetapkan Jody.

Ben dan Jody saling mengetahui sifat mereka berdua yang bertolak belakang dan tak sedikit menimbulkan konflik tetapi mereka masih tampak harmonis. Simak bagaimana Jody tetap bersikukuh mempertahankan kedai kopinya demi Ben, hanya karena dia merasa tak ada orang lain yang tahan memperkerjakan orang seperti Ben. Hal ini yang menghibur kita di bagian pertama film ini. Melihat hubungan mereka berdua layaknya melihat hubungan kirk dan spock di Star trek atau Profesor X dan Magneto (saat muda) di X-men. Tanpa disadari, racikan persahabatan ini menarik kita lebih dalam dan mengikat kita ke semua tokoh dalam film ini.

Di saat mereka ada di ambang kebangkrutan, mendadak munculah seorang pengusaha yang memberi tantangan Rp. 100 juta. Filosofi kopi ditantang untuk bisa meracik kopi terenak, hingga mendapat mendapat pujian dari calon investor pengusaha tersebut. Ben kemudian, melipat gandakan tantangan menjadi Rp. 1 M yang membuat Jody mencak-mencak.
 
Pencarian mendapatkan kopi terenak menghasilkan kopi : "perfecto". Ben dan Jody sudah sangat yakin perfecto adalah kopi terenak di Indonesia, hingga munculah seorang kritikus bernama El (Julie estelle). El membawa mereka menuju ke Gunung Ijen untuk berkenalan dengan Pak Seno (Slamet Rahardjo). Sebuah pencarian yang tak hanya membuat mereka berkenalan dengan Kopi Tiwus tetapi memembuat mereka menengok masa lalu mereka dan berdamai dengan bagian terpahit kehidupan mereka.

Saya sangat tertarik dengan bagaimana film ini menarik penontonnya. Di awal film kita diberi satu fokus tentang bagaimana Jodi dan Ben berbeda cara mengatasi krisis keuangan yang dialami usaha mereka berdua. Hal ini ditampilan dengan penampilan akting brillian Chico jericho (hati-hati Reza...) dan Rio dewanto. Kita diajak tertawa dengan merasakan pahitnya usaha yang mereka jalani, seperti layaknya kopi racikan Ben. Akting duo Chico-Rio makin terlihat bersinar dengan didukung art director, sinematografi, serta musik dan lagu yang mendukung keunikan persahabatan 2 pria ini.Acungan jempol perlu disematkan pada penulis skenario, Jenny jusuf. Skenario ini berhasil menterjemahkan filosofi, quote atau apapun itu dari bahasa sastra menjadi obrolan "normal" kelas menengah warga ibu kota.

Jika Film Tabula rasa membuat saya kecanduan gulai kepala kakap rumah makan padang, maka Filososfi kopi membuat saya ingin menarik seorang teman untuk berbincang tentang masa lalu di sebuah kedai kopi. Entah itu dari kopi nggereng (yang belum tercantum filosofinya di sini) hingga kopi yang lebih mahal dari harga makan malam saya sehari -hari.

Score : 3.5/5

Minggu, 05 April 2015

-Tanpa Judul- (Review Film Melancholy Is A Movement)

Saat dialog absurd antara sang aktor dengan sang sutradara selesai, disusul munculnya nama sang sutradara diikuti para pendukung film muncul di layar, saya masih berharap akan ada 1 adegan lagi yang akan menghubungkan semua cerita di dalam film melancholy is a movement. Harapan saya pudar seiring dengan lampu bioskop mulai dinyalakan. Hal ini membuat saya berjalan keluar bioskop dengan pikiran berkecamuk. Otak saya tak mau berhenti bekerja menyusun berbagai kemungkinan kepingan puzzle  untuk  menemukan sesuatu yang hendak disampaikan dalam film ini. Rangkaian kejadian-kejadian di film ini terlalu indah untuk dibiarkan tercerai berai tanpa alunan cerita yang menghubungkan semuanya. Sebuah cerita untuk menjawab kegalauan si tokoh utama. 

Melancholy is a movement adalah sebuah film yang bercerita tentang seorang sutradara idealis bernama Joko (Joko anwar yang memerankan dirinya sendiri). Dia tampak berduka, murung, berdiam diri karena seakan kehilang sesuatu (atau seseorang). Kedatangan seorang sahabat yang juga seorang aktor Bayu, (Ariyo bayu yang juga memerankan dirinya sendiri) membawa kita ke sebuah misteri dimana tampak Bayu dan Joko tampak mengubur sesuatu (atau seorang). Rangkaian kejadian yang tampak misterius ini rupanya menjadi alasan sang sutradara meletakkan idealismenya untuk membuat film dengan genrenya yang tidak disukainya. 

Melancholy is a movement hadir dengan adegan adegan yang didominasi keheningan yang menggambarkan kemurungan nan misterius dari sang tokoh utama yang selalu hadir datar dan dingin. Hal ini menjadi kekuatan sekaligus titik lemah film, bagaimana film ini harus membuat sang penonton tetap bertahan untuk terus merasakan perasaan murung tanpa diberi penjelasan mengapa perasaan murung itu harus ada, lalu menjadi titik balik kehidupan sang tokoh utama. Film menjadi terasa sangat berat saat film yang berjalan tak linear menghadirkan adegan-adegan nan absurd, bahkan saya tak sanggup memberi judul untuk review film ini, karena tak berhasil menemukan benang merah dalam film ini.

Kekuatan dan sekaligus kelemahan film ini juga terjadi saat film ini mendapuk Joko anwar sebagai sang tokoh utama. Joko anwar memang tak menghadirkan penampilan spesial, tetapi tak ada karakter yang sempurna untuk mengisi sang tokoh utama selain karakter Joko anwar di dunia nyata. Pujian untuk sang sutradara Richard oh, yang mampu menghadirkan keunikan-keunikan dari keterbatasan sang tokoh utama. 

Bagaimana film ini meracik kelemahan sekaligus kekuatan, membuat film ini hadir bukan untuk semua orang. Dia menjadi semacam eksperimental movie walau mungkin saja sang film maker ingin menghadirkan film yang tidak harus melulu seperti apa yang kita lihat. Si pembuat film sendiri tampaknya tahu bahwa filmnya bukan untuk semua jenis penonton. Oleh sebab itu dihadirkan trailer yang seakan memberikan resume cerita untuk penonton awam, serta menghadirkan dunia para filmmaker sebagai background untuk menarik penonton yang disasar film ini yaitu para movie freak. Para movie freak seperti saya yang haus akan film-film yang berbeda dan bersyukur masih ada ruang untuk film seperti ini di layar bioskop Indonesia.

Masih menebak arti adegan ini
Kembali ke cerita film, 2 hari setelah menyaksikan film ini di bioskop, otak saya masih terus menyusun puzzle untuk menginterpretasikan cerita film ini. Fokus saya terpusat pada beberapa adegan, antara lain : adegan obrolan telepon antara sang sutradara Upi yang meminta nasehat soal FTV yang dibuatnya, adegan obrolan Joko dengan seorang pemain Biola, dan adegan saat Joko anwar mengisi sebuah kelas film maker, dan ditutup dengan obrolan sang sutradara bahwa alur tak harus dituntaskan. Adegan - adegan ini membawa saya ke kesimpulan "Melancholy is a movement" adalah film yang sangat lucu.

Film komedi yang mungkin saja mentertawakan orang-orang yang mencoba menginterpretasikannya.

Atau ada yang punya interpretasi lain?

Score : 2.5/5

Kamis, 15 Januari 2015

Prediksi Pemenang "The 87th Annual Academy Award"

Ajang perebutan Piala Oscar kembali digelar tahun ini. Acara puncak pengumuman pemenang Piala Oscar akan dilangsungkan pada tanggal 22 Februari 2015 (Senin, 23 Februari pagi waktu Indonesia), dengan Neil Patrick Harris sebagai Host. Berikut nominasi lengkapnya :

Best Pictures
Prediksi : Boyhood
Favoritku : Birdman
Saat pengumuman nominasi Oscar, tak ada satupun nominasi best pictures yang meraih pendapatan melebihi US$ 100 juta (untung ada American sniper) yang artinya para nominator oscar ini kurang sukses secara komersial, yang artinya pertanda buruk bagi rating malam puncak Oscar.
Nominasi : 
American Sniper
Birdman
Boyhood
Selma
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
The Theory of Everything
Whiplash

Best Director
Prediksi : Richard Linklater (Boyhood)
Nominasi : 
Alejandro Gonzales Inarritu - Birdman
Richard Linklater - Boyhood
Bennet Miller - Foxcatcher
Wes Anderson - The Grand Budapest Hotel
Morten Tyldum - The Imitation Game

Best Actor
Prediksi : Michael Keaton (Birdman)
Favortiku : Benedict Cumberbatch (The Imitation Game)
Nominasi :
Bradley Cooper - American Sniper
Michael Keaton - Birdman
Steve Carell - Foxcatcher
Benedict Cumberbatch -   The Imitation Game
Eddie Redmayne - The Theory of Everything

Best Actress
Prediksi  : Julianne Moore (Still Alice)
Nominasi :
Rosamund Pike - Gone Girl
Julianne Moore - Still Alice
Felicity Jones - The Theory of Everything
Marion Cotilard - Two Days, One Night
Reese Witherspoon - Wild

Best Supporting Actor
Prediksi : J.K Simmons (Whiplash)
Nominasi :
Edward Norton - Birdman
Ethan Hawke - Boyhood
Mark Ruffalo - Foxcatcher
J.K Simmons - Whiplash
Robert Duval - The Judge

Best Supporting Actress
Prediksi : Patricia Arquette (Boyhood)
Nominasi :
Emma Stone - Birdman
Patricia Arquette - Boyhood
Meryl Streep - Into the Woods
Keira Knightley - The Imitation Game
Laura Dern - Wild

Best Original Screen play
Prediksi : Birdman
Nominasi :  
Boyhood
Birdman
Foxcatcher
Nightcrawler
The Grand Budapest Hotel

Best Adapted Screenplay
Prediksi : The Imitation Game
Nominasi :
American Sniper
Inherent Vice
The Imitation Game
The Theory of Everything
Whiplash
 
Best Animated Features 
Prediksi : How to Train Your Dragon 2
Favortiku : Big Hero 6
Dengan tersingkirnya The lego movies dari daftar nominasi best animated features, persaingan tinggal menyisahkan 2 kandidat kuat yaitu How to train your dragon 2 dan Big Hero 6. Prediksiku HTTYD2 akan lebih menarik menarik perhatian juri oscar, walau favoritku tetap big hero 6.... ataukah Princess Kaguya membuat kejutan?
Nominasi :
The Boxtrolls
Big Hero 6
How to Train Your Dragon 2
Song of the Sea
The Tale of The Princess Kaguya

Best Foreign Language Film
Prediksi : Ida
Nominasi : 
Tangerines
Ida
Leviathan
Wild Tales
Timbuktu

Best Cinematography
Prediksi : Birdman
Nominasi :  
Birdman
Ida
Mr. Turner 
The Grand Budapest Hotel
Unbroken

Best Editing
Mengejutkan bagi saya saat favorit film editing Birdman gagal masuk nominasi. akankah fakta best editing menjadi best oscar kembali terjadi? menurut saya IYA
Prediksi : Boyhood
Nominasi : 
 American Sniper
Boyhood
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
Whiplash 

Best Production Design
Prediksi : The Grand Budapest Hotel
Nominasi : Interstellar
Into the Woods
Mr. Turner
The Grand Budapest hotel
The Imitation Game

Best Costume Design
Prediksi : The Grand Budapest Hotel
Nominasi : 
Inherent Vice
Into the Woods
Maleficent 
Mr. Turner
The Grand Budapest Hotel


Best Makeup and Hairstyling
Prediksi : The Grand Budapest Hotel
Nominasi : 
Foxcatcher
Guardian of the Galaxy
The Grand Budapest Hotel 

Best Original Score
Saya memprediksi Oscar kategori ini akan diperebutkan secara ketat antara The Grand Budapest Hotel dan The Theory of Everything. Yang membuat saya sedikit lebih condong ke TGBH, adalah aransemen score TGBH yang terdengar sama uniknya dengan filmnya
Prediksi : The Grand Budapest Hotel
Nominasi : 
Interstellar
Mr. Turner
The Grand Budapest Hotel
The Imitation Game
The Theory of Everything

Best Original Song
Persaingan kategori ini mengerucut antara Glen campbell dan dan Selma, dari segi lirik Ost. Selma hadir lebih kuat dengan tema universal
Prediksi : Selma
Nominasi :  
Begin Again - Gregg Alexander, Danielle Brisebois (Lost Stars)
Beyond the Lights - Diane Warren (Grateful)
Glen Campbell: I'll be me - Glen Campbell, Julian Raymond
Selma - Common, John Legend (Glory)
The Lego Movie - Jo Li, Andy Samberg, Jorma Taccone, akiva Schaffer (Everything is Awesome)

Best Sound Mixing
Prediksi : Interstellar
Nominasi : 
American Sniper
Birdman
Interstellar
Unbroken
Whiplash 
  

Best Sound Editing
Prediksi : Interstellar
Nominasi : 
American Sniper
Birdman
Interstellar
Unbroken
The Hobbit: The Battle of the Five Armies


Best Visual Effects
Prediksi : Interstellar
Nominasi : 
Captain America; The winter Soldier
Dawn of the Planet of the Apes
Guardian of the Galaxy
Interstellar
X-Men: Days of Future Past

Best Documentary Feature
Prediksi : Virunga
Nominasi :  
Citizen four
Finding Vivian Maier
Last Day in Vietnam
Virunga
The Salt of the Earth


Best Animated Short Film
Prediksi : The Dam Keeper
Nominasi :  
The Bigger Picture
The Dam Keeper
Feast
Me and My Moulton
A Single Life 

Best Short Film, Live Action
Prediksi : The Phone Call
Nominasi : 
Aya
Boogaloo and Graham
Butter Lamp
Parvaneh
The Phone Call


Best Documentary, Short Subject
Prediksi : Joanna
Nominasi :
Crisis Hotline : Veteran Press 1: Ellen Goosenberg Kent, Dana Perry
Joanna - Aneta Kopacz
Our Curse - Tomasz Sliwinski
The Reaper - Gabriel Serra
White Earth - Christian Jensen