Jumat, 18 November 2016

Trauma Minoritas (Review Film Ngenest)

Indonesia adalah rumah dari lebih dari 250 juta orang dari 1,340 suku bangsa, yang berbicara dalam 742 bahasa, dan memeluk 6 agama serta puluhan aliran kepercayaan lainnya. Dari sekolah kita belajar, bahwa lokasi geografis Indonesia di antara lalu lintas pergerakan ekonomi dan manusia ditambah ciri khas masyarakat Indonesia yang (katanya) ramah dan terbuka membuat Indonesia menjadi tempat singgah bagi banyak bangsa asing. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keberagaman tertinggi di dunia. Memiliki slogan “Bhineka Tunggal Ika”, masyarakat Indonesia (seharusnya) sudah terbiasa dan bisa berdamai melihat sesuatu yang berbeda, dan (seharusnya) membuat Indonesia adalah surga bagi semua suku, agama, ras, dan golongan. Apakah itu yang sebenarnya terjadi?

Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan jenaka oleh Ernest Prakasa, sang sutaradara, penulis skenario, sekaligus bintang utama di Film berjudul Ngenest ini. Ernest Prakasa menceritakan tokoh Ernest (Tierra Solana-Kevin Anggara-Ernest Prakasa), seorang Indonesia yang terlahir dari keluarga Cina. Kisah ini dibuat berdasarkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan Ernest Prakasa sebagai minoritas di negeri ini. Menurut hitungan kuantitas, Etnis Cina memang minoritas, tetapi menurut hitungan kekuatan ekonomi, mereka mayoritas. Hal ini menjadikan Ernest tumbuh dengan label minoritas, asing dan kaya.

Patrick dan filosofi tokai
sumber ; @catatanfilm
Label yang membuat Ernest menjadi bahan risak (bully) sepanjang hidupnya, entah itu karena fisiknya maupun selalu menjadi sasaran pemalakan. Tapi Ernest cukup beruntung, dia punya Patrick (Marvell Adyatama–Brandon Nicholas-Morgan Oey), sahabat yang punya seribu akal untuk menolongnya dari risak. Ernest remaja mencoba berbagai cara untuk mengakhiri risak yang ia alami. Dia berfikir dengan meninggalkan identitas dirinya sebagai seorang Cina dan mencoba menjadi mayoritas dia akan berhenti menjadi korban risak.

Bagian awal Film Ngenest ini sangat unik, sebagai seorang standup komedian Ernest Prakasa tahu betul bagaimana menghadirkan kisah pilu dalam sebuah komedi segar yang mengundang tawa. Sebuah kisah pilu yang akhirnya meninggalkan trauma yang akan menentukan kisah hidupnya selanjutnya.

Trauma menjadi seorang minoritas membuat Ernest memutuskan untuk mencari pendamping hidup seorang pribumi. Dia berharap melalui cara ini, apa yang dia alami menjadi seorang Cina tidak menurun ke anak-anaknya,  lalu munculah seorang gadis sunda bernama Meira (Lala Karmela). Menjalin hubungan dengan pribumi bukan hal yang mudah, di bagian ini kisah Ngenest berubah menjadi sebuah komedi romantis yang manis.

Kisah percintaan yang mengundang senyum ini tak bertahan lama, saat Ernest harus memasuki babak baru dari hidupnya sebagai seorang suami. Trauma masa kecilnya menyeruak saat dia menghadapi kenyataan buah hatinya kemungkinan akan mengalami apa yang ia alami sebagai minoritas.

Kisah Ernest yang harus diadili oleh sesuatu yang tidak ia pilih adalah secuil kisah dari kehidupan minoritas di negeri ini. Bahkan di negara yang mejemuk ini orang-orang yang berbeda masih dianggap aneh. Ernest kecil sudah menjadi korban risak oleh teman-teman sebayanya. Manusia tidak membawa sifat rasis saat dia lahir, lalu dari mana anak-anak ini belajar rasis? Mengapa diskriminasi tetap ada di negara semajemuk ini?

Artikel dari Robert Wrigt menyebutkan, manusia yang melihat sesuatu yang berbeda dengan dirinya akan diikuti dengan peningkatan aktifitas di amigdala, struktur otak yang berhubungan dengan emosi deteksi ancaman. Inilah yang membuat seseorang yang berbeda akan mengalami perbedaan sikap, bahkan di usia dini sekalipun. Kecenderungan diskriminasi ini makin membesar terhadap si minoritas yang menguasai ekonomi yang menciptakan sebuah ketakutan akan sebuah dominasi yang bisa mengecilkan mayoritas. Itu sebabnya mengapa warga keturunan Cina selalu menjadi korban risak.  

Diskriminasi terhadap minoritas ini juga makin diperparah dengan sikap dasar manusia yang cenderung mengelompokan orang dalam kelompok-kelompok kecil lalu mengadili dengan mengeneralisir berdasarkan pengalaman buruk yang ia terima, seperti apa yang papa Meira pandang terhadap Ernest. Wright juga menambahkan, aktivitas ini akan menurun jika dalam situasi yang majemuk, seperti halnya ketika Ernest memutuskan untuk berbaur dengan si mayoritas.

Lalu, walau beberapa hal dalam film ini belum bisa dieksekusi dengan baik, tetapi Ngenest sukses menyuarakan protes para minoritas dalam sebuah komedi segar. Protes yang membuat sang mayoritas bisa tertawa karena tertohok, dan si minoritas tertawa karena melihat persamaan nasib. Atau memang itu yang harusnya dibutuhkan bangsa Indonesia, tertawa bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar