Sabtu, 23 November 2013

Sokola Rimba; Protes Dari Orang Rimba



Pendidikan sepertinya sebuah isu besar di Indonesia yang tak pernah habis diceritakan. Tak perlu bicara kurikulum, sertifikasi, UNAS dll, cukup tentang pendidikan sebagai hak dasar semua orang saja masih banyak kita jumpai cerita miris. Sekolah bagi beberapa anak di negara ini seperti barang mahal, dan untuk mendapatkannya, mereka harus melalui petualangan besar nan seru bak Indiana jones. Oleh sebab itulah Film Indonesia tak pernah berhenti menghadirkan petualangan - petualangan anak - anak Indonesia di pedalaman untuk bersekolah, sebut saja : Laskar pelangi, Denias negeri di atas awan, atau serdadu kumbang. Setelah sukses menghantarkan Laskar pelangi & Sang pemimpi, produser Mira lesmana bersama sutradara Riri riza kembali menghadirkan petualangan untuk mendapatkan pendidikan. Kali ini giliran dunia pendidikan anak - anak rimba dari bukit dua belas Jambi. Film ini diangkat ke layar lebar berdasarkan buku Sokolah rimba.
 
Film ini menceritakan kisah nyata dari seorang wanita bernama Butet Manurung (Prisia nasution) seorang aktivis LSM wana raya. Tugasnya memberikan pendampingan kepada suku-suku rimba di Hutan Bukit Dua belas Jambi, dengan memberikan pendidikan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung sederhana  kepada anak – anak rimba. Kehidupan orang –orang rimba makin lama makin terdesak oleh perluasan perkebunan kelapa sawit, pembalakan liar, hingga berdirinya taman nasional. 
 
Film dibuka dengan bagaimana susahnya ibu guru (begitu Butet dipanggil anak-anak rimba) menjangkau wilayah tempatnya mengajar di daerah Makekal hulu. Butet harus menempuh. 3 jam berkendara sepeda motor hingga mencapai desa transmigrasi terakhir, lalu dia harus berjalan kaki masuk jauh ke dalam hutan. Hingga siang itu, kondisi fisiknya yang kurang prima membuatnya pingsan di pinggir sungai kecil. Seorang anak rimba misterius yang diam-diam mengikutinya, menyelamatkannya tepat waktu. Dari sini Butet menyadari bahwa anak yang menolongnya secara sembunyi – sembunyi ikut memperhatikan aktivitas Butet dalam mengajar. 
  
Bungo (Nyungsang Bungo), nama anak rimba misterius itu. Dia datang dari suku rimba pedalaman terjauh. Dia rela berjalan sangat jauh dari desanya di daerah Makekal hilir untuk diam-diam mengikuti pelajaran Butet sambil membawa sebuah surat dari notaris.
Kehadiran Bungo, memacu Butet untuk memperluas area mengajarnya. Butet ditemani Nengkabau & Beindah (diperankan oleh mereka sendiri, 2 anak dari makekal hulu) berjalan 3 hari melintasi hutan untuk mencapai rombong tempat Bungo tinggal. Tentangan sang bos yang haus popularitas demi keuntungan pribadi, kejaran para pembalak liar, dan sergapan penyakit malaria, tak menghalangi upaya Butet membuka kelas di desa tempat Rombong Bungo tinggal. Setelah berhasil membuka kelas, dia masih harus menghadapi sikap sinis masyarakat Rombong yang dikepalai Tumenggung (kepala suku) Balawan Badai. Bagi mereka, Pensil dan kertas adalah sebuah kutukan dan membawa penyakit dan kesialan.  
  
Selama berabad – abad orang rimba bisa hidup berdampingan dengan alam. Mereka bisa hidup tanpa ada ilmu pengetahuan dari luar. tanpa pelajaran baca tulis, karena hutan tempat tinggal mereka sudah memenuhi kebutuhan mereka. Dr Astrid, seorang peneliti dari Jerman yang jatuh cinta pada kehidupan suku di pedalaman ini menyatakan dari berbagai banyak hal Suku Rimba punya pikiran lebih maju dari kehidupan masyarakat modern. Mereka menjadikan  alam sebagai cerminan bagaimana mereka harus menjalani hidup. Salah satunya digambarkan secara apik melalui animasi tentang pohon madu yang jadi sumber kehidupan orang rimba. 
  
Mapannya kehidupan orang rimba bersama alam, membuat mereka seakan menutup diri dari dunia luar. Mereka menjaga diri untuk melihat dunia luar, dan itulah sebabnya Butet merasa harus menerima tatapan sinis dari orang –orang rimba makekal hilir. Bagi mereka ilmu yang dibawa Butet akan membawa anak – anak mereka membawa anak-anak mereka keluar dari rombong dan tak kembali, hingga Butet harus menerima keputusan pengadilan adat, untuk segera menutup sekolah dan pergi dari Rombong Bungo.
   
Spirit belajar Bungo agar dirinya tak dibodohi lagi oleh orang luar membuat Butet tak menyerah atas penolakan orang rimba. Atas jasa Bu Pariyan (Netta kd), Butet membuka sekolah di desa tempat berkumpulnya orang – orang suku rimba menjual hasil hutan.  Ide yang efektif untuk menarik lebih banyak anak- anak rimba untuk bersekolah termasuk Bungo .Hingga suatu kejadian membuatnya mulai mempercayai bahwa pensil dan kertas memang benar kutukan untuk orang rimba.
   
Film ini berulangkali menekankan bahwa ada yang salah dengan pemerintah (dan juga kita) dalam melihat orang rimba. Selama ini kita melihat mereka sebagai orang yang terbelakang, yang perlu dikasihani dan dibantu. Orang rimba tidak perlu orang luar, mereka hanya perlu hutan mereka untuk hidup, seperti halnya yang terjadi selama berabad-abad. Hingga perkebunan sawit, dan pembalakan liar merusak hutan mereka.Upaya pemerintah menetapkan hutan mereka sebagai kawasan taman nasional, membuat orang rimba tak boleh lagi mengambil hasil hutan atau berburu di hutan mereka. Hal ini membuat orang – orang rimba kehilangan rumah, kehilangan penghidupan mereka, hingga merubah kehidupan mereka. 
   
Cerita ini mengingatkan saya akan kehidupan suku Na’vi, penduduk asli Planet Pandora dari Film Avatar besutan James cameron. Bedanya, cerita orang rimba yang kehilangan kehidupannya ini nyata dan ada dinegara kita. Para pendatang masuk ke rumah mereka seakan memaksakan suatu kehidupan yang berbeda dari mereka, lalu dengan seenaknya kita cap kehidupan mereka terbelakang.
   
Sayangnya  di film ini kita hanya melihat persoalan suku rimba hanya dari satu padang Butet manurung seorang. Kekuatan suku rimba dan ekselerasinya dengan alam hanya hadir berupa pernyataan lisan dari Dr astrid & Butet, dengan minim visualisasi layaknya animasi pohon madu. 
  
Dengan iringan musik yang membawa atmosfer misterius, damai, nan eksotik, film Sokola rimba memilih  tampil sederhana, dan jujur. Film Sokola rimba berupaya menghindari dramatisasi berlebihan, walau film ini punya potensi untuk tampil dengan berbagai dramatisasi masalah. Idealisme sang produser dan sutradara ini membawa film ini menjadi  sangat segmented untuk bisa dikonsumsi sebagai hiburan. 
  
Dari segi cast, secara visual saya belum puas akan penampilan Prisia sebagai Butet, tetapi dia seakan punya daya tarik atau aura yang membuat kita susah untuk tidak suka kepada karakter Butet. Ada eksotisme alami dalam diri Prisia yang seperti selaras dengan kehidupan manusia rimba, membuat saya tak punya bayangan aktris lain selain Prisia nasution yang menjadi pilihan tepat memainkan karakter Butet manurung. 
  
Seperti halnya, Laskar pelangi, lagi – lagi Mira lesmana & Riri riza menggunakan aktor dari orang rimba asli untuk bermain dalam film ini. Saya bisa memaklumi bagaimana susahnya mengajari orang – orang awam  berakting, terlebih kepada orang yang tak mengenal film. Lagi – lagi Riri riza tahu, bagaimana mengatasi kekakuan mereka menjadi suatu hal yang natural. Penampilan Nengkabau, Beindah, dan Bungo diam-diam memikat dan selanjutnya mengikat saya secara emosional. Saya ikut tertawa saat mereka sudah lancar berhitung, dan bisa berbelanja. Saya juga tak kuasa menahan haru, melihat akhirnya Bungo bisa membaca surat Notaris yang selama ini selalu dibawa-bawanya. Surat yang dicap jempol oleh Tumenggung mereka tanpa satu pun dari orang desa tau isinya karena mereka tak bisa membacanya. Surat itu berisi ijin penebangan pohon-pohon di hutan tempat mereka menggantungkan hidup yang hanya ditukar oleh beberapa bungkus kopi dan beberapa kaleng biskuit!.  Sebuah perjanjian yang membulatkan tekad Bungo untuk belajar, bukan untuk keluar dari adat orang rimba, tetapi untuk membantu orang rimba beradaptasi menghadapi perubahan jaman.
  
 Nilai : 3 dari nilai max. 5

6 komentar: