Rabu, 05 Desember 2012

Sepotong Kisah Dari Rumitnya Dunia Korupsi Indonesia (Review film Kita vs Korupsi)


Konon jika ingin merebus katak, janganlah memasukkan katak langsung ke air panas, karena dia akan bisa langsung melompat keluar. Cara yang paling jitu adalah memasukkan katak pada air dingin, kemudian pelan-pelan kita panaskan airnya. Dengan cara ini, si katak akan tetap dalam air dan baru akan tersadar saat dia sudah terebus mendidih.

Ini bukan tips membuat swike, saya ingin mengilustrasikan budaya korupsi di Indonesia. Bahwa tanpa tersadar kita dibiasakan memaklumi korupsi-korupsi kecil baik yang kita lakukan sendiri maupun yang dilakukan orang-orang disekitar. Pemakluman-pemakluman korupsi-korupsi kecil ini membuat kita terbuai, hingga saat tersadar negara kita sudah habis digerogoti oleh koruptor.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ingin memberikan ilustrasi kecil ini dalam 4 film pendek yang tergabung dalam omnibus berjudul kita vs korupsi. Di film ini mereka ingin menunjukkan bahwa korupsi sangat dekat sekali dengan keseharian kita, bahwa sebuah korupsi kecil bisa membawa kita kedalam lingkaran setan, dan bahwa mulai dari diri kita lah korupsi di negeri ini bisa dihentikan. 
  1. Film pertama omibus ini berjudul Rumah Perkara, diarahkan oleh Emil heradi, Film ini berkisah tentang Yatna (Teuku Rifnu wikana) seorang lurah dari sebuah desa di kaki sebuah gunung. Alih-alih melancarkan pupuk, bibit, & melindungi sawah petani di desa yang dia pimpin, Yatna justru melancarkan usaha seorang konglomerat untuk menguasai area pertanian. Dia melakukan hal ini karena berhutang budi pada sang konglomerat yang menjadi penyokong dana kampanyenya.Yatna digambarkan sebagai seorang yang tak bisa memegang komitmennya. Dia gagal memegang amanah sebagai pemimpin, gagal memenuhi janji kampanyenya, gagal memegang komitmennya sebagai suami dengan berselingkuh, bahkan gagal pula memegang janjinya kepada seorang wanita yang ia selingkuhi. Scene akhir film ini tampil menggetarkan dengan menampilkan janji-janji kampanye Yatna, yang dipertegas ucapan "Demi Allah saya bersumpah!", tapi……… kekuatan uang dari penyokong dana kampanyenya, menyanderanya dan justru berakibat maut untuk 2 orang yang dicintainya.
Aku padamu
  1. Film kedua  bergenre komedi romantis berjudul Aku padamu dan diarahkan oleh Lsja Susatyo. Film ini menampilkan  2 cerita yang dimainkan secara flash back. Diceritakan tentang Vano (Nichoulas saputra) – Laras (Revalina S temat) yang akan kawin lari. Mereka lalu terganjal birokrasi di KUA. Seorang pegawai KUA berupaya membujuk mereka menggunakan “cara orang dalam” untuk memuluskan proses menikah. Laras menolak cara Vano yang akan menggunakan jalan singkat, dia memegang komitmen yang diajarkan oleh guru SDnya untuk tidak menyerah pada korupsi sesulit apapun birokrasi yang ia hadapi. Di masa lalu, diceritakan Markun (Ringo agus rahma) seorang guru honorer yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaanya sebagai pendidik. Dia merelakan kehilangan posisinya, hanya karena menolak menyogok untuk melancarkan proses birokrasi pengangkatannya. Berhenti menjadi guru formal dia tetap mengajar anak-anak didiknya dengan caranya sendiri hingga akhir hayatnya.
  2. Ine febriyanti mengarahkan film ketiga berjudul Selamat siang Rissa!. Scene awal menceritakan seorang pegawai pemerintah tengah ditodong oleh permohanan bantuan seseorang dengan sebuah amplop tebal di atas meja. Scene berikutnya membawa kita kembali ke masa lalu, Menceritakan seorang pegawai penjaga gudang Negara bernama Arwoko (Tora sudiro). Di saat sulit, harga sembako naik tak terkendali, & pekerjaan sepi, seorang tengkulak ingin memanfaatkan gudang yang Arwoko jaga untuk menimbun sembako. Di saat yang sama sang anak sedang sakit keras,  sedangkan dia dan istrinya Niken (Dominique) tidak memiliki uang, Keputusan Arwoko di masa itu ternyata sangat berdampak ke masa depan, anaknya tumbuh menjadi seorang yang berani untuk mengatakan tidak pada korupsi.
  3. Bagian terakahir berjudul Pssst… besutan Chairun nissa. Menceritakan kehidupan remaja SMA, Gitta (Alexander Natasha), dengan kamera barunya dia mendokumentasikan kehidupan teman-teman sekolahnya. Gitta menangkap kisah unik diantara teman-temannya, yang sudah terbiasa memark up harga buku saat meminta uang ke ibu mereka. Ternyata, teman-teman Gitta ini belajar dari ibu mereka masing-masing, yang juga memark up harga buku  saat meminta uang dari ayah mereka. Lingkaran korupsi tak berhenti, duit Ayah mereka berasal dari mark up proyek. 

Rumah perkara
Walau film omnibus ini tidak dirilis secara luas melalui layar lebar, film ini jauh dari kualitas film kelas B. Saya sangat setuju dengan pemberian label salah film omnibus terbaik Indonesia kepada film ini. #Eh tapi film pendek Indonesia bagus-bagus dari pada film panjangnya. Mungkin karena dibatasi durasi, film-film pendek ini tak punya kesempatan mengulang kesalahan film layar labarnya, yaitu tampil bertele-tele.

Film-film ini walau dibesut 4 orang berbeda tetap memiliki kualitas setara dari segi penceritaan, maupun akting. Film-film ini hadir dengan gambar-gambar dan jalan cerita yang sangat efektif menjauhkan dari membosankan (lagi-lagi karena mungkin terbatasi durasi). Film ini juga tak terjebak dalam dialog penghakiman tetapi lebih menunjukkan akibatnya. Simak bagaimana tak berharganya Yatno si penjanji besar saat dia tersandera dana haram, bandingkan dengan kekuatan mendidik seorang guru dari tindakan kecil menolak dana haram. Simak pula kebanggaan palsu dari cara-cara instant para orang tua mencari rejeki di episode Pssst, dibandingkan dengan saat Arwoko hanya memilih rejeki yang halal untuk sang anak.

Bagian terlemah dari film ini ada pada kecenderungan menyederhanakan masalah, semua karakter juga ditampilkan hitam putih. Hal ini membuat film serasa “lempeng” tanpa "twist” konflik, membuat segalanya serasa idealis. Untuk ini, saya  tidak menyalahkan film makernya, karena film ini memang dibuat agar bisa dicerna oleh semua golongan. Film kita vs korupsi sudah cukup berhasil membuat saya tersadar telah berada dalam lingkaran korupsi, walau saya sering  berteriak  mencemooh koruptor. Iya, ternyata saya adalah katak dalam rebusan air yang nyaris mendidih.

Nilai : 3,5 dari nilai max 5.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar