Rabu, 13 Februari 2013

Membicarakan cinta dengan cin(T)a

Permainan jari khas film cin(T)a
Dear God,
Dear El,
Dear Allah,
In your majesty, you create differences
In my arrogance,i question your wisdom
In your mistery,you create temptation
In my inferiority,you make me more than I am
So here i am
I surrender me in the agony of your love
I surrender me in the irony of your law
Lead me to joy of love redmined
Teach me how to love you more

Adalah Cina (sunny soon) seorang pemuda Kristen asal Tapanuli yang cerdas, idealis cenderung lugu. Walau sebenarnya anak pejabat tarutung, tapi dia memilih berkuliah di arsitektur ITB dengan mengandalkan ajuan beasiswanya plus bekerja sebagai therapis pijat refleksi, dari pada berkuliah di Singapura atas biaya orang tuanya. Eits…  Cina disini bukan nama suku, tetapi nama tokoh utama film ini, dia menyandang nama Cina, hanya karena kesalahan petugas catatan sipil.
Annisa : “Tega banget ya bapak loe, sudah tahu anaknya bermuka cina tapi masih diberi nama cina”.
Cina : “Bapak kamu juga tega banget sudah jelas anaknya perempuan masih diberi nama perempuan”

Annisa - Cina
Beda karakter , Annisa (Saira jihan) seorang gadis jawa muslim. Dia adalah senior tercantik di kampus yang juga merupakan seorang artis dengan berbagai kontroversi yang melingkupinya. Annisa digambarkan seperti tak tahu harus berbuat apa untuk hidupnya, dengan tugas akhir yang tak kunjung selesai.
  
Awal pertemuan Cina dengan Annisa tidak berlangsung baik. Cina yang memegang teguh hukum Newton I bahwa wanita cantik berbanding terbalik dengan otaknya, membuatnya bersikap sinis terhadap Annisa. Hingga rasa bersalah cina, karena telah merusakkannya maket annisa plus kebutuhan akan uang mendorongnya untuk menerima job sebagai pembuat maket tugas akhir Annisa.
   
Kedekatan Cina & Annisa berbuah cinta. Cina mulai cemburu melihat Annisa dekat dengan teman-teman cowoknya. Sinematografi di atas rata-rata, music dari homogenic, serta sikap “skeptic” Annisa melihat hubungannya dengan Cina mereka membuat kita menikmati bagian ini seperti melihat potongan film 500 days of summer.
Cina  : “kau cantik aku ganteng, kau yatim aku piatu, kau bego aku pintar, kau..”
Anisa :” lo kristen gue islam”
Cina  : “exactly ! ntar kita bisa di display taman mini, jadi simbol kerukunan umat beragama, kau kan belum pernah main beda agama, atau kau pindah kristen aja nis?”
Anisa :” yakin lo mau sama gue? Tuhan gue aja berani gue khianatin. apalagi lo entar?”
Lama-kelamaan keunikan Cina membuat Annisa mulai mengalami "ketergantungan" terhadap hadirnya Cina. Disini tak hanya Cina & Annisa yang jatuh cinta Sebagai penonton saya bagai orang ketiga yang jatuh cinta pada 2 karakter ini. Obrolan-obrolan ringan mereka tentang arti nama, kesamaan arsitek dengan Tuhan, dialog tentang agama & perbedaan, memiliki efek yang maha dahsyat… eits mungkin saya hanyalah generasi baru yang mereka katakana dangkal dengan mengandalkan filosofi dari sebuah film  yang belum tentu bisa dipertangung jawabkan. Makin jelas saat saya makin jatuh cinta pada 2 karakter ini saat tahu Cina mengidolakan beautiful minds & Annisa mengidolakan American beauty.
  
Walau sudah pas sebagai pasangan, Cina & Annisa sadar perbedaan agama diantara keduanya akan menjadi penghalang besar hubungan mereka. Hingga rangkaian ledakan bom pada gereja-gereja di saat malam natal membuat hubungan Cina – Annisa makin absurd. Annisa merasa marah dan malu , sedangkan Cina langsung bersifat skeptic terhadap agama. Dia menyerah atas segala keidealismenya, bahwa pandangan streotip orang lain terhadap dirinya membuatnya gagal mendapatkan beasiswa, Dia sadar tak akan bisa menjadi pemimpin negeri ini karena dia bukan muslim, apalagi untuk menikahi Annisa. Dia pun memutuskan untuk pindah ke Singapura, di saat yang bersamaan Annisa menerima pria yang dijodohkan oleh orang tuanya
Anisa : “kenapa Alloh nyiptain kita beda beda, kalo Alloh cuma pengin disembah dengan satu cara”
Cina  :” makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda beda, bisa nyatu. tapi tetep yang bener cuma satu!”
Anisa : “duuh cape deh gue ngomongin ginian. lo nggak bisa ya kaya cowo normal lainnya? ajakkin gue ke paris kek, beliin gue berlian kek, bikinin gue puisi kek…”
Cina  : “yuk kita ke Ambon yuk biar kau liat, agama sudah jadi propaganda paling murah dan efektif sepanjang sejarah bunuh bunuhan manusia. kita dikasih previlage lebih buat belajar mempelopori perdamaian, orang bodoh yang tak tau apa apa. lebih mudah untuk di provokasi!”
Anisa : “duuuh dunia ini udah kebanyakan agama,kebanyakan Tuhan! siapa si lo coba nyelesein konflik agama dunia, Tuhan aja gabisa! Cin, lo ngomong panjang lebar disini pun Yerusalem tetep perang! Ambon tetep bunuh2an! kalo lo nggabisa nyelesein konflik agama yang jauh disana, the less you can do, jangan coba bikin konflik baru disini deh!”

Film ini punya kekuatan besar pada scenario cerdas dengan dialog-dialog nakal yang mengelitik iman kita. Dari segi teknis, film ini hadir dengan sinematografi diatas rata-rata yang sukses menghadirkan berbagai adegan dengan gambar yang sangat efektif. Jangan lupakan Homogenic, band yang bertanggung jawab memberikan atmosphere unik dalam film ini. Kelemahan terbesar hanya ada pada sound yang terdengar sangat berisik plus pronounce Annisa yang membuat banyak isi dialog tidak tersampaikan dengan baik. Saya memaklumi film ini dibuat dengan berbagai keterbatasan dana. Selain itu, film ini punya kelemahan film Indonesia pada umumnya dengan berlama-lama di adegan mellow, dan seperti “kehabisan bensin” di ujung cerita. Saya tetap memberi acungan jempol untuk sang sutradara Sammaria simanjutak yang juga menulis scenario film ini bersama Sally anom sari. Film ini meraih piala citra untuk penulis scenario terbaik di tahun 2009.
 Anisa : “maksud gue, cuma Tuhan yang tau rasanya jadi selebritis. Tuhan emang suka dipuji dan disembah…”
Cina  : “selebritis macam kau aneh sekalipun, susah2 kerja biar dikenal orang. udah terkenal. ee malah gak mau dikenal orang”
Anisa : “lo pikir kenapa Tuhan nyiptain atheis? cape tau disembahin terus sama orang setiap saat. Ga bisa ya orang liat gue apa adanya?”
Cina  : “cuma aku sama Tuhan yang cinta kau bukan karna kau cantik
Nilai : 3,5 dari nilai max 5

1 komentar: