Jumat, 20 April 2012

Wanita & Afganistan (Review film Kandahar)

Nafas (Nelofer Pazira) adalah wanita Afganistan yang tinggal di Kanada, memutuskan kembali ke Afganistan untuk mencari saudara perempuannya. Dia melakukan itu, karena menerima surat dari sang kakak yang putus asa menjalani kehidupan di Kandahar (Afganistan) dan berniat untuk bunuh diri. Nafas masuk ke afganistan melalui jalur darat dari Iran melintasi gurun untuk pergi ke ibu kota Afganistan, Kandahar. Masalahnya Afganistan bukan tempat yang ramah, terlebih pada perempuan. Dalam perjalanannya, Nafas tidak hanya harus menghindari tentara Taliban, dia juga harus menghindari perampok, hingga ganasnya alam. Lalu dimulailah petualangan menentang maut. Cerita ini dibuat sebelum Amerika melakukan invasi di tahun 2001, dimana rezim Taliban berkuasa dengan membatasi gerak perempuan disana.
Nafas
Rezim Taliban selain mewajibkan wanita memakai burqa, juga melarang wanita melakukan perjalanan sendirian, tanpa didampingi muhrimnya. Terdapat ancaman hukuman berat bagi yang melanggarnya. Untuk mengelabui tentara Taliban, Nafas lalu membayar orang – orang yang mau mengakuinya sebagai muhrim demi bisa melanjutkan perjalanan. Dia lalu membayar seorang pedagang beristri banyak, agar mau mengakui Nafas sebagai istrinya, sebelum akhirnya dirampok. Dalam melanjutkan perjalanannya, Nafas lalu bertemu khak, seorang anak yang hidup dengan mengambil harta dari mayat-mayat di Gurun, Tabib Sahid dokter gadungan asal Amerika, meminta pertolongan petugas sosial PBB, sebelum berhasil memasuki Kandahar bersama iring-iringan pernikahan. 
"one day the world will see your problems (Afganistan) and come to your aid".
Film Asal Iran ini disutradarai dan ditulis oleh Mohsen Makhmalbaf. Mengambil konsep semi dokumenter, Film ini seakan mengesampingkan unsur art dalam film, sehingga disini kita akan bertemu banyak scene yang sangat membosankan. Film ini awalnya tidak mendapat perhatian, sebelum akhirnya terjadi peristiwa 9/11. Walau buruk, tetapi film ini berhasil menghadirkan kenyataan betapa susahnya kehidup wanita di Afganistan. 

Khak
Di zaman itu, seorang dokter tidak diperbolehkan berbicara dengan pasien wanita, apalagi memeriksa kesehatan tanpa melalui perantara seorang muhrim. Lalu terjadilah “cara paling unik” dokter memeriksa pasien. Poligami di Afganistan, juga menyebabkan para pria tak mengenal putranya, dan lagi-lagi wanita, jadi tudingan penyebab kegagalan pendidikan si anak.  Nasib wanita disana makin diperparah oleh kondisi perang, rezim yang kejam, Ekonomi yang hampir tak berjalan, tidak adanya infrastruktur, ganasnya kondisi alam dan lain sebagainya …… yang membuat kalian harus bersyukurlah tidak tinggal di Afganistan. 

Di film ini ada satu scene yang sangat mengganggu, dimana di sebuah pesantren anak - anak kecil diajarkan Alquran sambil mengongkang senjata. seperti mencitrakan bahwa Islam = Kekerasan. Protes ! itu bukan Islam itu Taliban!

Nilai : 0,5 dari nilai max 5

2 komentar:

  1. keren kak saya sangat membutuhkan ini untuk tugas univ saya, terimakasih atas riviwnya

    BalasHapus