Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Drama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 November 2015

Kisah Cinta dari Kampung Jakarta (Review Film A Copy of My Mind)

Sari (Tara Basro) adalah seorang wanita muda indipenden yang bekerja di sebuah salon murah di Jakarta. Sari menjalankan hidupnya seperti pekerja kelas bawah Jakarta pada umumnya, menghabiskan waktunya di bus-bus reyot yang terjebak macetnya jalanan. Tinggal di kos sempit di antara himpitan gedung-gedung bertingkat, Sari memiliki kebiasaan menonton film dari DVD bajakan yang ia beli setiap pulang dari kantor. Suatu saat kebiasaannya mempertemukannya dengan Alek. 

Alek (Chicco Jericho) adalah seorang pembuat subtitle DVD bajakan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat Sari dan Alek saling jatuh cinta lalu menjalin hubungan. Lalu kita disuguhi kisah romantis terjalin dari gang-gang sempit, pasar kumuh, makanan jalanan di tengah hiruk pikuk musim kampanye pemilihan umum Indonesia. Hingga mereka berdua tak sengaja menemukan video tentang konspirasi politik tingkat atas yang membuat nyawa mereka terancam.

Film ini terpusat tentang bagaimana kita mengenal lebih dekat Sari dan Alek dengan setting yang sangat menarik. Kita diajak melihat potret indah dan realistis dari kesemerawutan diantara kemewahan Jakarta. Lengkap dengan perilaku orang-orang Jakarta, dan juga intrik politik di tengah hiruk pikuk kampanye Indonesia. Tara dan Chicco adalah pilihan yang tepat untuk membawakan karakter Sari dan Alek. Chemistry terjalin kuat untuk menghasilkan sebuah kisah cinta romantis yang boleh saya bilang sangat seksi.



Jika A Copy of My Mind dianggap sebagai film Joko anwar paling ringan itu memang benar. Film ini memang sepertinya berfokus untuk membingkai Jakarta (dan juga Indonesia) pada satu waktu tertentu dan untuk ini, Joko Anwar berhasil. Tetapi, jika berharap mendapatkan suguhan dan mengalami sensasi seperti halnya film-film Joko Anwar sebelumnya, bisa jadi anda akan kecewa.

Rating : 3/5

Jumat, 20 November 2015

Di Balik Stereotipe Wanita Jawa (Review Film Siti)

Film ini cukup unik, hadir dengan format hitam putih dan menggunakan bahasa jawa, Siti lebih membidik festival-festival internasional dari pada tayang di jaringan bioskop Indonesia. Sukses berjalan-jalan di banyak festival film di luar negeri penayangan film ini di tanah air selalu ditunggu para moviefreak Indonesia.

Dalam film (juga di dunia nyata), karakter wanita jawa selalu ditampilkan lemah lembut, pasrah (nriman), setia dan selalu mendukung apapun yang dilakukan suaminya. Melalui film berjudul "Siti" ,produser Ifa isfansyah, sutradara dan penulis skenario Eddie cahyono mencoba mengajak kita untuk melihat lebih dekat dengan karakter wanita jawa.

Film ini menceritakan sehari kehidupan Siti (Sekar sari), seorang istri dari keluarga nelayan miskin di pesisir selatan Yogyakarta. Siti terpaksa menjadi tulang punggung keluarga ketika suaminya, Bagus (Bintang timur) lumpuh karena mengalami kecelakaan di laut. Kecelakaan itu juga turut menghancurkan perahu yang menjadi sumber penghasilan mereka. Siti harus bekerja tak hanya untuk makan sehari-hari, tetapi juga untuk membayar hutang suaminya. Untuk ini dia harus bekerja siang malam sebagai penjual peyek (makanan tradisional jawa) dan juga sebagai pekerja malam di sebuah klub karaoke ilegal. Pekerjaan Siti yang terakhir ini membuat suaminya tidak mau bicara lagi, dan hal ini membuat Siti frustasi.

Siti dan putra semata wayangnya, bagas
Sepanjang film kita diajak melihat dan merasakan beratnya kehidupan Siti. Setelah malam yang berat di tempat kerja, pagi-pagi dia sudah disibukkan mengurus putra semata wayangnya yang bandel juga mengurus suaminya yang lumpuh dan "membencinya". Di antara itu dia masih harus membuat peyek dan kemudian berkeliling menjajakannya bersama sang Ibu mertua. Susahnya menjual makanan tersebut dibalas dengan pemasukan yang tak seberapa. Tak ada waktu untuk fisik Siti beristirahat, dia sudah diserbu berbagai masalah yang pelik.

Alih-alih mengeksploitasi kemalangan hidup Siti, film ini mengajak kita memasuki kehidupan Siti apa adanya. Siti hadir dengan dialog-dialog natural dan dibawakan oleh para pendukungnya dengan pas membuat kita sulit untuk tidak jatuh cinta dengan karakter yang ada di dalam film ini. Tak ada adegan dramatisasi berlebihan, Siti cukup menghadirkan gambar-gambar hitam putih, dengan keheningan dan juga musik yang menyayat untuk membuat penonton kegetiran Siti menjalani hidupnya.


Hingga di suatu titik Siti dihadapkan ke sebuah pilihan, tetap menjalankan kehidupannya yang berat atas nama setia kepada suami yang membencinya ataukah dia harus berkhianat? Selepas anda menyaksikan film ini, anda akan punya pandangan berbeda terhadap sikap "nriman" wanita jawa. Di balik kelemahlembutannya, wanita jawa memliki kekuatan yang lebih besar dari kehidupan wanita indipenden sekalipun.

Rating : 3.5/5

Senin, 17 Agustus 2015

Petualangan Religi dan Logika (Review Film Mencari Hilal)

Bagi Pak Mahmud (Deddy Sutomo) hidup adalah bagaimana menjalankan Islam secara kaffah (menyeluruh), dia tidak peduli walaupun itu seperti memegang sebuah bara panas. Dia memilih menjadi pedagang yang islami walaupun dia harus menerima amarah dari rekan-rekan pedagangnya, Dia tetap menjalankan aktivitas dakwahnya walaupun itu membuatnya dijauhi banyak orangnya termasuk oleh putarnya sendiri, Heli (Oka Antara).

Di masa tuanya Pak Mahmud tinggal bersama putrinya, Halida (Erythrina Baskoro) sedangkan Heli memilih meninggalkan rumah dan bekerja sebagai aktivis LSM.

Hingga suatu saat skandal sidang isbat penentuan hilal oleh Pemerintah. Skandal ini membuat masyarakat luas menucing bahwa syariat Islam yang diperjuangkan Pak Mahmud hanyalah kedok untuk mendapatan keuntungan pribadi. Hal ini membuat Pak Mahmud merasa terpanggil. Dia ingin menunjukkan bagaimana proses mencari hilal yang sebenarnya. Lalu dia merencanakan perjalanan napak tilas ke tempat-tempat pengamatan hilal yang pernah ia lakukan puluhan tahun silam bersama-sama teman santrinya

Halida khawatir akan perjalanan ayahnya untuk melihat hilal, mengingat kesehatan ayahnya yang terus menurun. Di saat bersamaan, adiknya, Heli pulang ke rumah untuk membuat paspor demi sebuah proyek penting untuk rakyat Nikaragua. Lalu timbulah kesepakatan, Helida berjanji melancarkan proses paspor jika Heli menemani ayahnya menunaikan perjalanan napak tilasnya atau si kakak yang merupakan petugas imigrasi akan memblokir paspor Heli. Lalu dimulailah perjalanan unik ayah-anak yang tak pernah akur ini.

Tak disangka perjalanan mencari hilal ini tak mudah, Telaga pikir dan Menara Hiro adalah nama tempat yang puluhan tahun sudah berganti nama, tak ada orang tahu dimana tempat itu berada, dan teman-teman Pak Mahmud juga tidak diketahui dimana rimbanya. Proses pencarian makin bertambah sulit saat Pak Mahmud terus berkonflik dengan Heli. Pak Mahmud merasa perjalanannya ini hanyalah membutuhkan niat baik selebihnya Tuhan yang akan membantu mereka menyelesaikannya. Sedangkan Heli merasa perjalanan ini adalah perjalanan sia-sia, baginya jika ada teknologi yang bisa membuat ibadah menjadi mudah mengapa mereka mempersulit diri. Hanya ancaman si kakak yang membuat Heli bertahan mengikuti perjalanan ayahnya.

Lalu perjalanan mereka menjadi sebuah petualangan yang menarik, simak bagaimana mereka diturunkan dari bis hanya karena Pak Mahmud menasehati sopir bus, bagaimana mereka bertemu politisi yang menjual Agama untuk kekuasaan, terjebak di pertikaian atas nama agama, melihat Islam dalam berbagai bentuk, hingga bagaimana jika seorang pendeta adalah kunci mereka untuk menemukan apa yang mereka cari.



Sepanjang film kita akan disuguhi dialog-dialog cerdas yang menggelitik yang merupakan buah dari 3 penulis skenario Salma Aristo, Bagus Bramanti, serta sang sutradara Ismail Basbeth

"Saya percaya Islam adalah agama damai, tapi apakah islam punya jawaban yang tidak akan menyakit hati orang lain di situai seperti ini".
"Mengapa setiap orang merasa paling benar dan merasa paling berhak membuat orang lain benar".
"Mengapa Tuhan mencipatakan kita berbeda-beda? apakah untuk kita berselisih dan saling membunuh?"

Dialog-dialog yang membuat kita merasa tergelitik, tertawa, sekaligus terharu. Ditunjang oleh penampilan gemilang Deddy sutomo dan Oka antara membuat kita tak sadar bahwa kita sedang diceramahi sepanjang film. Film ini berhasil menyampaikan sebuah pesan besar dengan cara sederhana indah dan menyenangkan. 

Jika ada yang mengatakan kemiripin tema film ini dengan film Perancis Le Grand Voyage, saya pastikan selepas menonton film mencari hilal, kita akan mendapatkan pengalaman berbeda dibanding saat kita menonton Le Grand Voyage. Mencari Hilal lebih dekat dengan kita dengan potret yang realistis tentang berbagai wajah orang beragama di Indonesia. 

Lalu bagaimana 2 orang yang keras kepala serta berbeda pandangan dan keyakinan sampai pada titik untuk berhenti saling menjatuhkan agar bisa sampai ke tujuan mereka masing-masing, mengingatkan kita bagaimana menyikapi orang-orang dengan keyakinan yang berbeda.

Rating : 3.5/5

Rabu, 02 Juli 2014

Selamat Pagi Malam; Mentertawakan Kehidupan Jakartans

Kita sudah menikmati sekilas seksinya malam Kota Jakarta melalui film Jakarta undercover. Kita juga pernah menikmati keheningan malam jalanan Kota Jakarta yang eksotik melalui film Lovely Man.  Kali ini kehidupan malam Kota Jakarta kembali dihadirkan  melalui film yang ditulis, disutradarai, dan diedit oleh Lucky Kuswandi berjudul Selamat Pagi Malam. Lucky menceritakan keunikan kehidupan malam Jakarta dari perjalanan 3 wanita, yaitu : Gia (Adini wirasti), Indri (Ina pangabean) dan Ci surya (Dayu wijanto), yang dihadirkan secara paralel walau tidak berhubungan secara langsung. 
  
Gia dan Naomi
Gia, wanita independen berusia 32 tahun. Dia memutuskan meninggalkan New York untuk kembali ke Jakarta. Di awal kepindahannya, Gia mengalami shock culture saat berhadapan dengan keluarganya, dengan pertanyaan umum “Kapan kawin?”, nyinyiran gaya hidup single Gia, dan banyak lainnya walau sebenarnya si komentator tidak benar-benar peduli dengan orang yang dikomentarinya. 
  
Sebenarnya alasan utama Gia pulang demi agar bisa bertemu dengan seseorang yang dicintainya, Naomi (Marissa anita). Sayangnya Gia menemukan Naomi yang berbeda dari yang ia kenal di New York. Naomi sekarang adalah Naomi penduduk Jakarta yang merasa perlu punya telepon genggam lebih dari satu, yang merasa harus bergaul dengan orang-orang narsis yang sibuk dengan gadgednya walau duduk bertatap muka, yang memilih untuk menggunakan mobil pribadi dari pada berjalan di trotoar untuk melewati malam (karena memang Jakarta tidak memilikinya). Hingga Gia pun mengajak Naomi untuk menikmati malam Jakarta layaknya kota New York dengan menyusuri gang-gang kecil dengan berjalan kaki dan mencoba menggali memori mereka bedua.
  
Indri
Indri, adalah seorang petugas fitness center yang terpukau akan glamournya kehidupan warga kelas menengah Jakarta. Indri adalah gambaran dari jutaan orang Jakarta yang rela melakukan apapun demi agar bisa memiliki gaya hidup yang mengikuti trend. Indri berencana untuk menghabiskan malam ulang tahunnya seperti layaknya warga kelas menengah Jakarta. Dia mencuri sepatu, membeli tas belanja (walau kosong), makan di tempat mewah, dan menutupnya dengan berkencan dengan pria berbadan sempurna yang baru dia kenal dari chat online. 

Sayangnya indri tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Di saat terakhir malam ulang tahunnya berakhir, Jalanan Jakarta membuatnya menemui pria yang bisa membuatnya untuk menjadi diri sendiri.
  
Ci Surya, adalah seorang wanita pengusaha, Dia merasa kesepian saat sang suami meninggal dunia. Kesepian Ci Surya berubah menjadi kegalauan saat dia menemukan nama wanita, dengan nomor telepon di salah satu baju mendiang suaminya. Ci Surya memutuskan untuk mencari tahu siapa Sofia (Dira Sugandi), nama wanita yang tertulis di dalam baju suaminya. Hasil pencariannya membuatnya harus mencicipi kehidupan klab malam kelas bawah. Tak hanya bisa bertemu Sofia, Ci Surya mengetahui bahwa suami Sofia adalah seorang gigolo. Hal ini membuat Ci Surya mendapat ide untuk melakukan balas dendam atas yang pernah mendiang suaminya lakukan.
  
Lalu kisah perjalanan Gia, Indri, dan Ci Surya malam itu berakhir di sebuah hotel kelas melati bernama lone star. Sebuah hotel yang dikamarnya dilengkapi kitab suci tetapi disewakan short time untuk para tamu untuk melepaskan nafsu birahinya. Di hotel itu ketiga wanita itu melepaskan cinta, hasrat, dan dendam yang menyelimuti mereka.
  
Lucky kuswandi menghadirkan realita keseharian orang Jakarta dan menamparnya dengan indah. Simak saat Tante Gia (Mak gondut) menceramai Gia dengan berbagai nasehat lalu beberapa menit kemudian, dia tenggelam dengan gadgednya. Simak pula bagaimana rekan Indri rela menjadi gigolo demi bisa memiliki gaya hidup orang kelas menengah, atau bagaimana teman keAgamaan Ci Surya yang membawa Agama laksana sebuah ritual belaka, atau bagaimana sebuah Negara religius bisa menjadi Negara dengan korupsi tertinggi. Semua kritik hadir indah, tajam, nakal dan manis yang membuat kita yang terkena kritik tersenyum hingga tergelak. Yang unik, kritik-kritik ini hadir dari seseorang yang seharusnya mendapat cap pendosa menurut masyarakat kita sehingga membuat kritik hadir tanpa ada kesan menghakimi.
   
Film selamat pagi malam hadir dengan gambar-gambar wajah Jakarta yang romantis, syahdu. Ending film ini makin menguatkan karakternya melalui suara powerful Dira Sugandi yang menyanyikan lagu pergi untuk kembali

Nilai 3/5

Minggu, 08 Juni 2014

Maleficent; Sisi Lain Dongeng Putri Tidur

Pada dasarnya kita semua itu terlahir sebagai orang baik. Saat lingkungan merubah kita menjadi seuatu yang jahat, akan ada sisi baik yang akan masih tertinggal dari diri kita tuk membawa kita kembali menjadi orang baik. Ini bukan sebuah khotbah, Saya hanya mengingatkan sebuah pola yang dilupakan dongeng masa kecil kita. Coba ingat kembali hampir semua dongeng (bahkan banyak film sampai saat ini) menghadirkan suatu tokoh dengan sifat karakter hitam-putih. Sang protagonis digambarkan manusia yang sangat baik tanpa cela bak malaikat, dan sang tokoh antagonis digambarkan sangat jahat bak iblis.

Saya adalah salah satu penggemar "Wicked" yang menghadirkan sisi lain dari cerita film "The Wizard of Oz". Di "Wicked" mereka menceritakan kembali bahwa sang penyihir jahat yang diceritakan film "The Wizard of Oz" adalah korban judgement masyarakat hanya karena dia tampak berbeda, dan dimana tokoh sang penyihir baik adalah seorang baik yang sangat naif. Lalu ketika saya mendengar project disney untuk membuat The untold story dongeng "Sleeping beauty" (1959) dengan menceritakan sisi lain sang penyihir jahat, saya sudah berfikir akan mendapat sensasi yang sama seperti saat saya menyaksikan "Wicked". Di "Sleeping beauty" kita tahu seorang penyihir jahat yang memberikan kutukan ke seorang putri cantik tak berdosa hanya karena dia tidak diundang di sebuah pesta kerajaan.... tapi Maleficient meluruskan kisah ini.

Maleficent (Angelina Jolie) adalah seorang peri dari dunia yang indah dan misterius bernama Moors. Dunia Moors dihuni oleh mahkluk-mahkluk unik dengan berbagai keajaibannya. Walau punya banyak mahkluk unik yang beragam, dikisahkan kehidupan antar mahkluk di dunia Moors sangat damai. Kuncinya : mahkluk-mahkluk ini hidup saling percaya (sindiran untuk para penentang prularisme) hingga mereka tidak memerlukan seorang raja untuk mengatur kehidupan mereka. Masalahnya, dunia mereka berbatasan langsung dengan kerajaan manusia. Sang raja King henry (Kenneth cranham) sangat berambisi menyerang dan menguasai dunia Moors, tetapi kesaktian mahkluk Moors dibawah komando Maleficent yang sakti, dengan sayapnya yang kuat bisa mematahkan serangan pasukan raja.

Lain cerita, Maleficent kecil (Elle purnel) bersahabat dengan seorang bocah laki-laki yatim piatu bernama Stefan. Saat mereka dewasa hubungan mereka pun berlanjut menjadi suatu hubungan yang spesial. Maleficent merasa Stefan adalah cinta sejatinya saat dia mendapatkan ciuman pertamanya dari Stefan. Lalu ambisi Stefan (Sharlto copley) untuk menjadi raja merusak segalanya. Stefan memotong sayap Maleficent untuk memenuhi syarat menjadi penerus tahta King Henry.

Tak hanya menjadi raja, Stefan menikahi Leila (Hannah new) putri raja. Hal ini membuat Maleficent marah besar dan membangkitkan sisi jahat di dalam dirinya. Sebagai pengganti sayap, Maleficent yang tidak bisa terbang mengangkat seorang gagak (Sam riley) untuk menjadi mata-matanya di kerajaan Stefan. Hidup Maleficent berubah, dia mengisi hidupnya untuk balas dendam. Maleficent lalu membuat kerajaan di dunia Moors dan mengangkat dirinya sebagai Raja. Rencana balas dendamnya dimulai saat dia mendatangi pesta pembastisan putri pertama King Stefan.

Di bagian ini tentunya para penggemar dongeng putri tidur sudah sangat akrab, Maleficent mengutuk sang putri Aurora untuk tertidur saat dia berumur 16 tahun dan baru bangun setelah mendapat ciuman dari cinta sejatinya. Sebuah syarat yang diyakini Maleficent tidak ada. Alih-alih menyelamatkan putrinya, Sang raja justru memperkuat pasukannya untuk bisa menyerang kerajaan Moors. Sedangkan sang putri Aurora di serahkan kepada ketiga peri dari Moors Knotgras (Imelda stauton), Thistlewit (Juno Temple), dan Flittle (Lesley Manville) yang menyembunyikan Aurora di sebuah hutan. Dari sini cerita berkembang menjadi aneh.
Princess Aurora : I know you're there. Don't be afraid.
Maleficent : I'm not afraid.
Princess Aurora : Then come out.
Maleficent : Then you'll be afraid.
Maleficent pun menghabiskan 15 tahun hidupnya untuk memantau kehidupan Aurora. Sayangnya (atau untungnya) ketidak kompetenan ketiga peri penjaga Aurora dalam mengurus anak, membuat Maleficent berkali-kali harus menyelamatkan Aurora kecil. Lambat laun Maleficent bagai peri pelindung bagi Aurora, dan dendam Maleficent ke Aurora (Elle fanning) pun luluh. Maleficent melindungi Aurora seperti seorang ibu yang melindungi anaknya sendiri. Sayangnya dia tidak mampu mematahkan kutukannya, hingga hari kutukan itu tiba... Sebuah twist ending yang seharusnya bisa lebih segar disampaikan tanpa naga, bahkan saya merasa tidak perlu menceritakan sang pangeran dalam dongeng itu

Film Maleficent punya premis yang sempurna, mereka berhasil membuat sudut pandang yang membuat kita berpandangan berbeda terhadap kisah klasik "Sleeping Beauty". Angelina Jolie juga patut diacungi jempol dalam menghidupkan karakter Maleficent. Dia berhasil membawakan karakter yang misterius, dingin, terlihat tangguh dan bengis tapi punya hati lembut yang kemudian rapuh karena sebuah pengkhianatan cinta. Walau punya 2 komponen (Premis & Jolie) yang bagus Film "Maleficent" gagal mengembangkan kekuatannya.

Film ini seharusnya bisa lebih fokus lagi menghadirkan transformasi Maleficent dari seorang periang menjadi seseorang yang penuh dendam, kemudian kembali menemukan dirinya yang dulu saat Aurora hadir. Jika berhasil, sangat mungkin Jolie melenggang ke pertarungan "best actress" tahun depan. Alih-alih menggali kekuatan akting Jolie, film ini sibuk bercerita banyak hal yang tak penting, dan skenario yang ditulis Linda Woolverton pun makin menguatkan ketidakkonsistenan alur cerita di film ini. 

Sang Sutradara Robert Stomberg pun terlihat tak begitu kreatif, banyak scene yang tampak megah saat diceritakan tapi terlihat biasa saja di film ini. Ketiga peri yang seharusnya jadi penyegar, menjadi suatu hal yang mengganggu. Keindahan dunia Moors yang misterius pun hadir hanya sebagai kata-kata, tak tampak lagi kejaiban dunia gelap yang dihadirkan Stomberg di film Alice in wonderland atau "Oz; The great and powerful".

Selain Premis dan Jolie, Score music yang dihadirkan James Newton howard menjadi "faktor penyelamat" film ini. James berhasil menghadirkan nuansa gelap dan magis di film ini dari musiknya. Nilai positif ditambah saat Lana del ray sukses menghadirkan kembali soundtrack film sleeping beauty "Once upon a dream" menjadi lebih gelap.

Nilai : 2.5/5

Minggu, 17 Maret 2013

Django unchained; Best Tarantino Movie Ever!

The "D" is silent, payback won't be
Di suatu musim dingin di Amerika serikat tahun 1858, seorang dokter gigi asal Jerman Dr. King Schultz (Christopher waltz) membebaskan segerombolan budak milik spock bersaudara. Dokter. Schultz sendiri sebenarnya lebih suka menjadi seorang bounty hunter (pemburu hadiah) dari pada menjadi seorang dokter gigi. Dia memburu membunuh orang-orang yang dinyatakan buron oleh pengadilan Amerika, dan menukarkan “jasad” buronan dengan hadiah uang. Upaya membebaskannya serombongan budak, dilakukan hanya dia ingin membebaskan Django (Jamie fox), seorang budak yang tahu wajah dan keberadaan Brittle bersaudara yang menjadi target “buruan” dr. Schultz. Sebuah opening scene yang bisa menjadi teaser keseluruhan cerita, Adegan “pembantaian” Spock bersaudara yang harusnya keras, ditampilkan dengan bumbu komedi dan skenario yang bisa dikatakan original, dan segar (karena cerdas saja tak cukup), dan  ini yang akan anda dapatkan sepanjang film Django unchained.

Schultz - Django
Aksi unik dr. Schultz – Django dimulai dengan mengungkap menembak mati seorang buronan yang menyamar menjadi seorang marshall, lalu dilanjutkan menu utama memburu menembak mati Brittle brothers. Merasa cocok bekerja sama dengan Djanggo, ia lalu menawarkan untuk berpatner, dengan imbalan akan membantu Django menemukan istrinya, Bromhilda (Kerry Washington). "Duet" Schultz- Django cukup kontrovesi di jaman itu, melihat seorang berkulit hitam yang bebas dari perbudakan saja seperti sesuatu yang mustahil, apalagi melihat Django yang berkuda berdampingan dengan seorang berkulit putih.
Dr. King Schultz : How do you like the bounty hunting business?
Djanggo : Kill white people and get paid for it? What's not to like?
Cukup mudah bagi Schultz mencari seorang istri django, yang memang menjadi satu-satunya budak yang bisa berbahasa Jerman. Mereka mendapatkan Bromhilda ada di perkebunan Candyland, Missisipi milik Calvin candie (Leonardo di capiro). Candie tergolong eksentrik, dia suka mengadu budaknya sebagai hiburan atau dikenal dengan sebutan Mandingo fights. Membeli Bromhilda secara langsung, jelas akan ditolak mentah-mentah oleh Candie, maka seperti biasa Schultz menyusun scenario penipuan.

Stephen - Calvin
Untuk menarik perhatian Calvin candie, Django dibuat sekesentrik mungkin. Dia menjadi kaki tangan yang lebih dominan dari tuannya. Intinya dr. Schultz ingin memberikan Djanggo, sebuah image budak yang tak mau terlihat seperti budak. Setelah mendapat perhatian Calvin candie, mereka mulai menawar seorang petarung terbaik milik Calvin dengan harga tinggi dengan bonus Bromhilda. Sayangnya trik Schultz & Djanggo terendus Stephen (Samuel L Jackson), kepala pelayan Candyland. Lalu sebuah adegan penuh  darah, ledakan, dihadirkan dengan intensitas tinggi menjadi penutup film ini. spoiler hampir semua karakter utama film ini mati.
  
Film ini memang masih sebrutal film Tarantion sebelumnya, seperti (dan yang menjadi favoritku) :  Kill bill & Ingloriuous bastrad, tetapi Djanggo unchained hadir lebih cerdas. Tarantiono sukses mempermainkan perasaan penonton (…halah nonton pakai perasaan). Dia tahu cara “mengocok” adrenalin, dan mood para penonton nya. Saya sendiri bisa dibuat merasa ngeri, tegang, terharu, dan tertawa dalam satu scene sekaligus. Tak salah Jika juri Academy award menganugrahkan oscar best original screenplay, dan nominasi best director, untuk Quentine tarantino (yang bertindak sebagai penulis skenario, dan sutradara). Salah satu faktor penarik para kritikus, karena Tarantion seperti meremake berbagai cerita film wetern lama dalam suatu alur cerita baru. Saya sendiri belum bisa berkomentar banyak soal ini, karena memang masih belum punya referensi banyak tentang film western, khususnya Djanggo, & Mandingo fights.
   
Pujian juga perlu diberkan untuk seluruh cast, yang mampu memainkan perannya masing-masing secara luar biasa, khususnya Christopher waltz yang dianugerahi oscar best supporting actor keduanya (setelah ingloriuous bastard, )
  
The battle scene
Saya penasaran apakah perlakuan terhadap budak berkulit hitam di Amerika di tahun 1800an sebrutal seperti yang dicerotakan dalam film ini? Yang pasti hasil googling saya mendapatkan adanya peraturan yang dikeluarkan pemerintah Misssisipi tahun 1822 yang melarang “perlakuan atau hukuman kejam” terhadap budak. Bahkan di tahun 1860 ada seseorang berkulit putih yang dijatuhi hukuman berat setelah membunuh budaknya sendiri. Namanya film fiksi, keakuratan nomor 2 yang penting alurnya masuk akal!. Di luar itu, saya sangat setuju bahwa film ini disebut sebagai film Quentine tarantino terbaik. Berbeda dengan film -film tarantino sebelumnya yang terlalu "segmented" saya yakin semua orang akan menyukai film ini (tapi ingat film ini terlalu keras untuk anak-anak). Maka, tak salah film ini juga menjadi film terlaris Tarantino.
 
Nilai : 4,5 dari nilai max 5