Tampilkan postingan dengan label Film indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 November 2016

Trauma Minoritas (Review Film Ngenest)

Indonesia adalah rumah dari lebih dari 250 juta orang dari 1,340 suku bangsa, yang berbicara dalam 742 bahasa, dan memeluk 6 agama serta puluhan aliran kepercayaan lainnya. Dari sekolah kita belajar, bahwa lokasi geografis Indonesia di antara lalu lintas pergerakan ekonomi dan manusia ditambah ciri khas masyarakat Indonesia yang (katanya) ramah dan terbuka membuat Indonesia menjadi tempat singgah bagi banyak bangsa asing. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat keberagaman tertinggi di dunia. Memiliki slogan “Bhineka Tunggal Ika”, masyarakat Indonesia (seharusnya) sudah terbiasa dan bisa berdamai melihat sesuatu yang berbeda, dan (seharusnya) membuat Indonesia adalah surga bagi semua suku, agama, ras, dan golongan. Apakah itu yang sebenarnya terjadi?

Sebuah pertanyaan yang dijawab dengan jenaka oleh Ernest Prakasa, sang sutaradara, penulis skenario, sekaligus bintang utama di Film berjudul Ngenest ini. Ernest Prakasa menceritakan tokoh Ernest (Tierra Solana-Kevin Anggara-Ernest Prakasa), seorang Indonesia yang terlahir dari keluarga Cina. Kisah ini dibuat berdasarkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan Ernest Prakasa sebagai minoritas di negeri ini. Menurut hitungan kuantitas, Etnis Cina memang minoritas, tetapi menurut hitungan kekuatan ekonomi, mereka mayoritas. Hal ini menjadikan Ernest tumbuh dengan label minoritas, asing dan kaya.

Patrick dan filosofi tokai
sumber ; @catatanfilm
Label yang membuat Ernest menjadi bahan risak (bully) sepanjang hidupnya, entah itu karena fisiknya maupun selalu menjadi sasaran pemalakan. Tapi Ernest cukup beruntung, dia punya Patrick (Marvell Adyatama–Brandon Nicholas-Morgan Oey), sahabat yang punya seribu akal untuk menolongnya dari risak. Ernest remaja mencoba berbagai cara untuk mengakhiri risak yang ia alami. Dia berfikir dengan meninggalkan identitas dirinya sebagai seorang Cina dan mencoba menjadi mayoritas dia akan berhenti menjadi korban risak.

Bagian awal Film Ngenest ini sangat unik, sebagai seorang standup komedian Ernest Prakasa tahu betul bagaimana menghadirkan kisah pilu dalam sebuah komedi segar yang mengundang tawa. Sebuah kisah pilu yang akhirnya meninggalkan trauma yang akan menentukan kisah hidupnya selanjutnya.

Trauma menjadi seorang minoritas membuat Ernest memutuskan untuk mencari pendamping hidup seorang pribumi. Dia berharap melalui cara ini, apa yang dia alami menjadi seorang Cina tidak menurun ke anak-anaknya,  lalu munculah seorang gadis sunda bernama Meira (Lala Karmela). Menjalin hubungan dengan pribumi bukan hal yang mudah, di bagian ini kisah Ngenest berubah menjadi sebuah komedi romantis yang manis.

Kisah percintaan yang mengundang senyum ini tak bertahan lama, saat Ernest harus memasuki babak baru dari hidupnya sebagai seorang suami. Trauma masa kecilnya menyeruak saat dia menghadapi kenyataan buah hatinya kemungkinan akan mengalami apa yang ia alami sebagai minoritas.

Kisah Ernest yang harus diadili oleh sesuatu yang tidak ia pilih adalah secuil kisah dari kehidupan minoritas di negeri ini. Bahkan di negara yang mejemuk ini orang-orang yang berbeda masih dianggap aneh. Ernest kecil sudah menjadi korban risak oleh teman-teman sebayanya. Manusia tidak membawa sifat rasis saat dia lahir, lalu dari mana anak-anak ini belajar rasis? Mengapa diskriminasi tetap ada di negara semajemuk ini?

Artikel dari Robert Wrigt menyebutkan, manusia yang melihat sesuatu yang berbeda dengan dirinya akan diikuti dengan peningkatan aktifitas di amigdala, struktur otak yang berhubungan dengan emosi deteksi ancaman. Inilah yang membuat seseorang yang berbeda akan mengalami perbedaan sikap, bahkan di usia dini sekalipun. Kecenderungan diskriminasi ini makin membesar terhadap si minoritas yang menguasai ekonomi yang menciptakan sebuah ketakutan akan sebuah dominasi yang bisa mengecilkan mayoritas. Itu sebabnya mengapa warga keturunan Cina selalu menjadi korban risak.  

Diskriminasi terhadap minoritas ini juga makin diperparah dengan sikap dasar manusia yang cenderung mengelompokan orang dalam kelompok-kelompok kecil lalu mengadili dengan mengeneralisir berdasarkan pengalaman buruk yang ia terima, seperti apa yang papa Meira pandang terhadap Ernest. Wright juga menambahkan, aktivitas ini akan menurun jika dalam situasi yang majemuk, seperti halnya ketika Ernest memutuskan untuk berbaur dengan si mayoritas.

Lalu, walau beberapa hal dalam film ini belum bisa dieksekusi dengan baik, tetapi Ngenest sukses menyuarakan protes para minoritas dalam sebuah komedi segar. Protes yang membuat sang mayoritas bisa tertawa karena tertohok, dan si minoritas tertawa karena melihat persamaan nasib. Atau memang itu yang harusnya dibutuhkan bangsa Indonesia, tertawa bersama.

Sabtu, 21 November 2015

Kisah Cinta dari Kampung Jakarta (Review Film A Copy of My Mind)

Sari (Tara Basro) adalah seorang wanita muda indipenden yang bekerja di sebuah salon murah di Jakarta. Sari menjalankan hidupnya seperti pekerja kelas bawah Jakarta pada umumnya, menghabiskan waktunya di bus-bus reyot yang terjebak macetnya jalanan. Tinggal di kos sempit di antara himpitan gedung-gedung bertingkat, Sari memiliki kebiasaan menonton film dari DVD bajakan yang ia beli setiap pulang dari kantor. Suatu saat kebiasaannya mempertemukannya dengan Alek. 

Alek (Chicco Jericho) adalah seorang pembuat subtitle DVD bajakan. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat Sari dan Alek saling jatuh cinta lalu menjalin hubungan. Lalu kita disuguhi kisah romantis terjalin dari gang-gang sempit, pasar kumuh, makanan jalanan di tengah hiruk pikuk musim kampanye pemilihan umum Indonesia. Hingga mereka berdua tak sengaja menemukan video tentang konspirasi politik tingkat atas yang membuat nyawa mereka terancam.

Film ini terpusat tentang bagaimana kita mengenal lebih dekat Sari dan Alek dengan setting yang sangat menarik. Kita diajak melihat potret indah dan realistis dari kesemerawutan diantara kemewahan Jakarta. Lengkap dengan perilaku orang-orang Jakarta, dan juga intrik politik di tengah hiruk pikuk kampanye Indonesia. Tara dan Chicco adalah pilihan yang tepat untuk membawakan karakter Sari dan Alek. Chemistry terjalin kuat untuk menghasilkan sebuah kisah cinta romantis yang boleh saya bilang sangat seksi.



Jika A Copy of My Mind dianggap sebagai film Joko anwar paling ringan itu memang benar. Film ini memang sepertinya berfokus untuk membingkai Jakarta (dan juga Indonesia) pada satu waktu tertentu dan untuk ini, Joko Anwar berhasil. Tetapi, jika berharap mendapatkan suguhan dan mengalami sensasi seperti halnya film-film Joko Anwar sebelumnya, bisa jadi anda akan kecewa.

Rating : 3/5

Jumat, 20 November 2015

Di Balik Stereotipe Wanita Jawa (Review Film Siti)

Film ini cukup unik, hadir dengan format hitam putih dan menggunakan bahasa jawa, Siti lebih membidik festival-festival internasional dari pada tayang di jaringan bioskop Indonesia. Sukses berjalan-jalan di banyak festival film di luar negeri penayangan film ini di tanah air selalu ditunggu para moviefreak Indonesia.

Dalam film (juga di dunia nyata), karakter wanita jawa selalu ditampilkan lemah lembut, pasrah (nriman), setia dan selalu mendukung apapun yang dilakukan suaminya. Melalui film berjudul "Siti" ,produser Ifa isfansyah, sutradara dan penulis skenario Eddie cahyono mencoba mengajak kita untuk melihat lebih dekat dengan karakter wanita jawa.

Film ini menceritakan sehari kehidupan Siti (Sekar sari), seorang istri dari keluarga nelayan miskin di pesisir selatan Yogyakarta. Siti terpaksa menjadi tulang punggung keluarga ketika suaminya, Bagus (Bintang timur) lumpuh karena mengalami kecelakaan di laut. Kecelakaan itu juga turut menghancurkan perahu yang menjadi sumber penghasilan mereka. Siti harus bekerja tak hanya untuk makan sehari-hari, tetapi juga untuk membayar hutang suaminya. Untuk ini dia harus bekerja siang malam sebagai penjual peyek (makanan tradisional jawa) dan juga sebagai pekerja malam di sebuah klub karaoke ilegal. Pekerjaan Siti yang terakhir ini membuat suaminya tidak mau bicara lagi, dan hal ini membuat Siti frustasi.

Siti dan putra semata wayangnya, bagas
Sepanjang film kita diajak melihat dan merasakan beratnya kehidupan Siti. Setelah malam yang berat di tempat kerja, pagi-pagi dia sudah disibukkan mengurus putra semata wayangnya yang bandel juga mengurus suaminya yang lumpuh dan "membencinya". Di antara itu dia masih harus membuat peyek dan kemudian berkeliling menjajakannya bersama sang Ibu mertua. Susahnya menjual makanan tersebut dibalas dengan pemasukan yang tak seberapa. Tak ada waktu untuk fisik Siti beristirahat, dia sudah diserbu berbagai masalah yang pelik.

Alih-alih mengeksploitasi kemalangan hidup Siti, film ini mengajak kita memasuki kehidupan Siti apa adanya. Siti hadir dengan dialog-dialog natural dan dibawakan oleh para pendukungnya dengan pas membuat kita sulit untuk tidak jatuh cinta dengan karakter yang ada di dalam film ini. Tak ada adegan dramatisasi berlebihan, Siti cukup menghadirkan gambar-gambar hitam putih, dengan keheningan dan juga musik yang menyayat untuk membuat penonton kegetiran Siti menjalani hidupnya.


Hingga di suatu titik Siti dihadapkan ke sebuah pilihan, tetap menjalankan kehidupannya yang berat atas nama setia kepada suami yang membencinya ataukah dia harus berkhianat? Selepas anda menyaksikan film ini, anda akan punya pandangan berbeda terhadap sikap "nriman" wanita jawa. Di balik kelemahlembutannya, wanita jawa memliki kekuatan yang lebih besar dari kehidupan wanita indipenden sekalipun.

Rating : 3.5/5

Minggu, 15 November 2015

Agama dan Konspirasi (Review Film 3)

Berbagai adegan kekerasan dan juga aksi terorisme atas nama Agama menjadikan Pemerintah bersikap represif terhadap berbagai kelompok Agama. Dengan alasan yang sama, Masyarakat juga menjadi apatis terhadap Agama. Bagi Pemerintah juga masyarakat Agama hanyalah sebuah parasit yang merusak perdamaian. Hal ini merubah wajah Indonesia, begitu juga merubah kehidupan 3 sahabat kecil bernama Alif, Lam, dan Mim yang tinggal disebuah pondok pesantren.

Kekerasan atas nama agama telah membunuh orang tua Alif, dan tak berapa lama kondisi memaksa pondok pesantren tempat mereka belajar ilmu agama sekaligus tempat mereka memperdalam ilmu bela diri ditutup. Sang guru (Cecep A Rahman) pergi merantau mencari kehidupan baru, hal ini membuat 3 sahabat ini juga memulai kehidupan barunya masing-masing.

Waktu berlalu, di tahun 2036 Indonesia berubah total. Sikap represif Pemerintah terhadap kelompok Agama menjadikan kaum liberal berkuasa. Hal ini membuat ratusan rumah inadah, pondok pesantren ditutup. Sikap apatis masyarakat kepada Agama, juga membuat kaum relijius menjadi kaum yang didiskriminasikan dan dipandang sebelah mata. 

Dendam akan kematian orang tuanya, menjadikan Alif dewasa (Cornelia Sunny) menjadi seorang penegak hukum yang sangat idealis. Dengan alasan untuk menekan kekerasan, para penegak hukum hanya boleh menggunakan peluru karet, membuat ilmu bela diri tangan kosong menjadi hal utama. Di pembukaan film, kita akan disuguhi bagaimana Alif tampil laksana Karakter Rama di film The Raid. Kemampuannya ini menjadikan Alif seorang penegak hukum yang disegani, sayangnya idealismenya menghambat karirnya. Kehidupannya kembali berubah ketika mantan kekasihnya (Prisia nasution) membawanya ke sebuah konspirasi besar

Lam dewasa (Abimana Aryasatya) sukses berkarir dibidang jurnalistik. Bisa dibilang kehidupannya nyairs sempurna, berbagai penghargaan di bidang jurnalistik dia dapat, dia juga punya seorang istri cantik (Tika Bravani) yang selalu mendukungnya, dan seorang putra yang cerdas. Sayangnya karir Lam dalam bahaya, sebagai pemeluk Islam yang taat, membuat pimpinan redaksi tempat lam bekerja khawatir. Masyarakat akan menganggap media Lam tidak obyektif dan tentu saja pemilik modal akan sangat membencinya. Tidak hanya itu, sikap kritis Lam membawa dia menemukan konspirasi besar yang membenturkan penegak hukum dengan kelompok agama. Artinya dia akan melihat 2 sahabatnya Alif dan Mim akan saling bunuh.

Mim dewasa (Agus Kuncoro) tinggal di sebuah pondok pesantren menjalani cita-citanya untuk terus melakukan syiar Agama Islam. Ledakan di sebuah cafe membuat pondok pesantren Mim menjadi target yang dibidik oleh penegak hukum untuk dimusnahkan. Merasa dikhianati, Mim tidak tinggal diam, berbekal ilmu bela dirinya yang tinggi mereka berhadapan dengan sepasukan para penegak hukum sekaligus membawanya ke sebuah konspirasi besar. 

Film 3 dibuka dengan  provokatif. Islam digambarkan sebagai pemicu kekerasan terhadap orang-orang yang dianggap berbeda, serta sebagai pemicu aksi terorisme yang mengganggu perdamaian. Sebuah rangkaian adegan yang mengharuskan film ini membuat peringatan para penonton untuk menonton film ini hingga selesai. Selanjutnya melalui konflik antara Alif, Lam dan Mim, pelan-pelan kita dibawa ke sebuah pertanyaan apakah benar Islam adalah agama yang penuh kekerasan ataua kah mereka hanyalah korban konspirasi?

Cerita konspirasi cukup sering terdengar di sekiar kita, dari obrolan warung kopi, media sosial, hingga ke mimbar Agama. Walau jadi konsumsi sehari-hari, hanya sedikit Film Indonesia yang mengangkatnya sebagai tema. Dari sedikit film yang membawa cerita konspirasi film 3 adalah yang paling berhasil menyampaikannya. Tak hanya punya cerita di atas rata-rata, skenario film 3 juga dipenuhi dialog-dialog aktual menggambarkan berbagai pandangan berbagai kelompok, dari pemeluk Agama konservatif, moderat hingga kaum liberal. 

Berbagai benturan kepentingan kelompok yang berseberangan bisa disampaikan tanpa membuat salah satu kelompok merasa direndahkan. Hingga kita diberi gambaran bahwa konspirasi yang selalu menjadi kambing hitam itu bekerja melalui kebencian dan intoleransi.

Walau bisa dikatakan sebagai salah satu film Indonesia terbaik tahun ini, film 3 bukan hadir tanpa cacat. Kelemahan terbesar film ini ada pada tampilan visualnya. Film 3 begitu berambisi menghadirkan Jakarta di masa depan dengan visual effect yang tampak begitu sangat murahan. Terlebih untuk kita yang telah terbiasa menikmati visual efect film Hollywood. Kelemahan terbesar film 3 bukan menjadi hal yang penting lagi saat di sepanjang film kita dimanjakan action dengan koreo yang apik, cerita dengan twist yang pas, berbagai karakter unik dengan dialog-dialog yang membuat kita merenung akan kondisi saat ini. 

Rating : 3.5/5

Senin, 17 Agustus 2015

Petualangan Religi dan Logika (Review Film Mencari Hilal)

Bagi Pak Mahmud (Deddy Sutomo) hidup adalah bagaimana menjalankan Islam secara kaffah (menyeluruh), dia tidak peduli walaupun itu seperti memegang sebuah bara panas. Dia memilih menjadi pedagang yang islami walaupun dia harus menerima amarah dari rekan-rekan pedagangnya, Dia tetap menjalankan aktivitas dakwahnya walaupun itu membuatnya dijauhi banyak orangnya termasuk oleh putarnya sendiri, Heli (Oka Antara).

Di masa tuanya Pak Mahmud tinggal bersama putrinya, Halida (Erythrina Baskoro) sedangkan Heli memilih meninggalkan rumah dan bekerja sebagai aktivis LSM.

Hingga suatu saat skandal sidang isbat penentuan hilal oleh Pemerintah. Skandal ini membuat masyarakat luas menucing bahwa syariat Islam yang diperjuangkan Pak Mahmud hanyalah kedok untuk mendapatan keuntungan pribadi. Hal ini membuat Pak Mahmud merasa terpanggil. Dia ingin menunjukkan bagaimana proses mencari hilal yang sebenarnya. Lalu dia merencanakan perjalanan napak tilas ke tempat-tempat pengamatan hilal yang pernah ia lakukan puluhan tahun silam bersama-sama teman santrinya

Halida khawatir akan perjalanan ayahnya untuk melihat hilal, mengingat kesehatan ayahnya yang terus menurun. Di saat bersamaan, adiknya, Heli pulang ke rumah untuk membuat paspor demi sebuah proyek penting untuk rakyat Nikaragua. Lalu timbulah kesepakatan, Helida berjanji melancarkan proses paspor jika Heli menemani ayahnya menunaikan perjalanan napak tilasnya atau si kakak yang merupakan petugas imigrasi akan memblokir paspor Heli. Lalu dimulailah perjalanan unik ayah-anak yang tak pernah akur ini.

Tak disangka perjalanan mencari hilal ini tak mudah, Telaga pikir dan Menara Hiro adalah nama tempat yang puluhan tahun sudah berganti nama, tak ada orang tahu dimana tempat itu berada, dan teman-teman Pak Mahmud juga tidak diketahui dimana rimbanya. Proses pencarian makin bertambah sulit saat Pak Mahmud terus berkonflik dengan Heli. Pak Mahmud merasa perjalanannya ini hanyalah membutuhkan niat baik selebihnya Tuhan yang akan membantu mereka menyelesaikannya. Sedangkan Heli merasa perjalanan ini adalah perjalanan sia-sia, baginya jika ada teknologi yang bisa membuat ibadah menjadi mudah mengapa mereka mempersulit diri. Hanya ancaman si kakak yang membuat Heli bertahan mengikuti perjalanan ayahnya.

Lalu perjalanan mereka menjadi sebuah petualangan yang menarik, simak bagaimana mereka diturunkan dari bis hanya karena Pak Mahmud menasehati sopir bus, bagaimana mereka bertemu politisi yang menjual Agama untuk kekuasaan, terjebak di pertikaian atas nama agama, melihat Islam dalam berbagai bentuk, hingga bagaimana jika seorang pendeta adalah kunci mereka untuk menemukan apa yang mereka cari.



Sepanjang film kita akan disuguhi dialog-dialog cerdas yang menggelitik yang merupakan buah dari 3 penulis skenario Salma Aristo, Bagus Bramanti, serta sang sutradara Ismail Basbeth

"Saya percaya Islam adalah agama damai, tapi apakah islam punya jawaban yang tidak akan menyakit hati orang lain di situai seperti ini".
"Mengapa setiap orang merasa paling benar dan merasa paling berhak membuat orang lain benar".
"Mengapa Tuhan mencipatakan kita berbeda-beda? apakah untuk kita berselisih dan saling membunuh?"

Dialog-dialog yang membuat kita merasa tergelitik, tertawa, sekaligus terharu. Ditunjang oleh penampilan gemilang Deddy sutomo dan Oka antara membuat kita tak sadar bahwa kita sedang diceramahi sepanjang film. Film ini berhasil menyampaikan sebuah pesan besar dengan cara sederhana indah dan menyenangkan. 

Jika ada yang mengatakan kemiripin tema film ini dengan film Perancis Le Grand Voyage, saya pastikan selepas menonton film mencari hilal, kita akan mendapatkan pengalaman berbeda dibanding saat kita menonton Le Grand Voyage. Mencari Hilal lebih dekat dengan kita dengan potret yang realistis tentang berbagai wajah orang beragama di Indonesia. 

Lalu bagaimana 2 orang yang keras kepala serta berbeda pandangan dan keyakinan sampai pada titik untuk berhenti saling menjatuhkan agar bisa sampai ke tujuan mereka masing-masing, mengingatkan kita bagaimana menyikapi orang-orang dengan keyakinan yang berbeda.

Rating : 3.5/5

Kamis, 28 Mei 2015

89 Menit Rasa 7 Hari (Review Film 7 Hari Menembus Waktu)

Suatu waktu, Saya pergi ke bioskop dan memilih 1 buah film secara random untuk saya tonton. Dengan alasan "memiliki waktu tayang yang tak membuat saya menunggu terlalu lama" maka saya putuskan untuk memilih film 7 hari menembus waktu. Saya tak pernah mengetahui jenis film seperti apa yang saya tonton ini, tapi entah mengapa saya memiliki perasaan buruk begitu memasuki ruangan bioskop.

... dan perasaan buruk saya pun terwujud saat di layar muncul nama sang sutradara : Nayato Fio Nuala. 

FIlm 7 Hari menembus waktu bercerita tentang Marisa (Anjani Dina) seorang gadis semata wayang pengusaha kaya raya yang selalu mendapatkan apapun yang ia inginkan. Alhasil, Marisa menjadi seorang gadis SMA yang manja dan bertingkah sangat menjengkelkan. 

Cerita berlanjut saat Marisa menemukan sebuah lukisan di lorong sekolah SMA (naruh lukisan di lorong sekolah, apa gak takut dicoret-coret anak SMA ya?) lengkap dengan judul lukisan dan khasiatnya (minus siapa yang melukis). Lukisan ini membawa Marisa ke tahun 1994. Sebagai generasi 2015, Marisa terkejut dan bingung melihat becak tahun 1994, sama bingungnya seperti saya melihat seseorang pemuda SMA yang akan bunuh diri di tangga penyeberangan yang ramai.

Lalu munculah sebuah misi untuk Marisa agar bisa kembali ke masa depan dan dimulailah petualangan si gadis manja untuk menolong si korban bully, William (Teuku Rasya) untuk mendapatkan gadis impiannya, menjadi pemberani dan membantu dia beradamai dengan tantenya. Jangan terlalu banyak bertanya mengapa pada rentetan adegan-adegan nan absurd di sepanjang film ini, karena seperti kata Marisa, itu akan mengurangi keasyikan dalam menonton film. 

Para cast film ini tampak bagai sebuah orchestra yang tampil tanpa dirigen. Untuk bisa kompak mereka menampilkan karakter klise yang nyaris sama. Perhatian saya tertuju pada tokoh utama film ini : Anjani dina. Dia berhasil mengeksekusi keinginan sang sutradara untuk membuat sang penonton merasa sebal dengan karakter Marisa. Saking bagusnya eksekusi ini, kita juga merasa sebal dengan semua tokoh yang ada di dalam layar. Tak hanya itu, Marisa berhasil menangkap apa yang penonton rasakan sepanjang film, yang dia ungkapkan untuk tahun 1994 : Membosankan! Saya sampai berkali-kali melirik ke jam untuk memastikan durasi film ini tak lebih dari 89 menit bukan 7 hari.

Rating : 0/5

Senin, 13 April 2015

Kisah Dalam Secangkir Kopi (Review Film Filosofi Kopi)

Sering kali saya memilih bioskop untuk mengusir kesepian. Saya sering membayangkan, jika bioskop adalah kedai kopi, maka film adalah cerita dari seorang teman yang menemani kita. Dia memberikan sebuah cerita seru yang menghibur, menginspirasi atau sekedar agar kita bisa mengatakan "saya merasakan itu juga". Bioskop selalu memberikan atmosfir yang baik untuk kita terus mendengar cerita dari seorang teman walau kadang cerita tersebut gagal tersampaikan dengan baik. Begitu juga kedai kopi yang baik, dia lebih memilih menyajikan kopi yang enak tanpa fasilitas wifi, agar gadged kita tak bisa mendistraksi cerita yang disampaikan oleh seorang teman. Di film filosofi kopi, tidak ada yang bisa mendistraksi anda dari cerita yang disampaikan oleh sutradara Anga dwimas sasongko ini.

Film ini bercerita tentang 2 orang sahabat yang menjalankan bisnis kedai kopi yang bernama filosofi kopi. Jody (Rio dewanto) menyulap toko kelontong warisan bapaknya menjadi sebuah kedai kopi, sedangkan saudara angkatnya sekaligus sahabatnya Ben (Chico jericho) yang menjadi barista di kedai kopi tersebut. Jody dan Ben memiliki sifat yang bertolak belakang. Jody terkesan kaku, serius, dan ingin menjalankan segala sesuatunya sesuai planning. Sedangkan Ben menjalani hidupnya dengan lebih santai, menganggap segalanya akan baik-baik saja,berani mengambil resiko, tapi idealis dan keras kepala.

Ben adalah seorang barista handal, kopi racikannya menjadi favorit banyak orang. Sebenarnya kedai kopi mereka sudah berjalan cukup baik, akan tetapi hutang ayah Jody yang cukup besar, membuat mereka diambang kebangkrutan. Berkali-kali ide efisiensi Jody untuk meningkatkan pendapatan harus kandas karena keidealisan Ben. Begitu pula ide-ide racikan kopi dari Ben kandas karena tak sesuai budged yang ditetapkan Jody.

Ben dan Jody saling mengetahui sifat mereka berdua yang bertolak belakang dan tak sedikit menimbulkan konflik tetapi mereka masih tampak harmonis. Simak bagaimana Jody tetap bersikukuh mempertahankan kedai kopinya demi Ben, hanya karena dia merasa tak ada orang lain yang tahan memperkerjakan orang seperti Ben. Hal ini yang menghibur kita di bagian pertama film ini. Melihat hubungan mereka berdua layaknya melihat hubungan kirk dan spock di Star trek atau Profesor X dan Magneto (saat muda) di X-men. Tanpa disadari, racikan persahabatan ini menarik kita lebih dalam dan mengikat kita ke semua tokoh dalam film ini.

Di saat mereka ada di ambang kebangkrutan, mendadak munculah seorang pengusaha yang memberi tantangan Rp. 100 juta. Filosofi kopi ditantang untuk bisa meracik kopi terenak, hingga mendapat mendapat pujian dari calon investor pengusaha tersebut. Ben kemudian, melipat gandakan tantangan menjadi Rp. 1 M yang membuat Jody mencak-mencak.
 
Pencarian mendapatkan kopi terenak menghasilkan kopi : "perfecto". Ben dan Jody sudah sangat yakin perfecto adalah kopi terenak di Indonesia, hingga munculah seorang kritikus bernama El (Julie estelle). El membawa mereka menuju ke Gunung Ijen untuk berkenalan dengan Pak Seno (Slamet Rahardjo). Sebuah pencarian yang tak hanya membuat mereka berkenalan dengan Kopi Tiwus tetapi memembuat mereka menengok masa lalu mereka dan berdamai dengan bagian terpahit kehidupan mereka.

Saya sangat tertarik dengan bagaimana film ini menarik penontonnya. Di awal film kita diberi satu fokus tentang bagaimana Jodi dan Ben berbeda cara mengatasi krisis keuangan yang dialami usaha mereka berdua. Hal ini ditampilan dengan penampilan akting brillian Chico jericho (hati-hati Reza...) dan Rio dewanto. Kita diajak tertawa dengan merasakan pahitnya usaha yang mereka jalani, seperti layaknya kopi racikan Ben. Akting duo Chico-Rio makin terlihat bersinar dengan didukung art director, sinematografi, serta musik dan lagu yang mendukung keunikan persahabatan 2 pria ini.Acungan jempol perlu disematkan pada penulis skenario, Jenny jusuf. Skenario ini berhasil menterjemahkan filosofi, quote atau apapun itu dari bahasa sastra menjadi obrolan "normal" kelas menengah warga ibu kota.

Jika Film Tabula rasa membuat saya kecanduan gulai kepala kakap rumah makan padang, maka Filososfi kopi membuat saya ingin menarik seorang teman untuk berbincang tentang masa lalu di sebuah kedai kopi. Entah itu dari kopi nggereng (yang belum tercantum filosofinya di sini) hingga kopi yang lebih mahal dari harga makan malam saya sehari -hari.

Score : 3.5/5

Minggu, 05 April 2015

-Tanpa Judul- (Review Film Melancholy Is A Movement)

Saat dialog absurd antara sang aktor dengan sang sutradara selesai, disusul munculnya nama sang sutradara diikuti para pendukung film muncul di layar, saya masih berharap akan ada 1 adegan lagi yang akan menghubungkan semua cerita di dalam film melancholy is a movement. Harapan saya pudar seiring dengan lampu bioskop mulai dinyalakan. Hal ini membuat saya berjalan keluar bioskop dengan pikiran berkecamuk. Otak saya tak mau berhenti bekerja menyusun berbagai kemungkinan kepingan puzzle  untuk  menemukan sesuatu yang hendak disampaikan dalam film ini. Rangkaian kejadian-kejadian di film ini terlalu indah untuk dibiarkan tercerai berai tanpa alunan cerita yang menghubungkan semuanya. Sebuah cerita untuk menjawab kegalauan si tokoh utama. 

Melancholy is a movement adalah sebuah film yang bercerita tentang seorang sutradara idealis bernama Joko (Joko anwar yang memerankan dirinya sendiri). Dia tampak berduka, murung, berdiam diri karena seakan kehilang sesuatu (atau seseorang). Kedatangan seorang sahabat yang juga seorang aktor Bayu, (Ariyo bayu yang juga memerankan dirinya sendiri) membawa kita ke sebuah misteri dimana tampak Bayu dan Joko tampak mengubur sesuatu (atau seorang). Rangkaian kejadian yang tampak misterius ini rupanya menjadi alasan sang sutradara meletakkan idealismenya untuk membuat film dengan genrenya yang tidak disukainya. 

Melancholy is a movement hadir dengan adegan adegan yang didominasi keheningan yang menggambarkan kemurungan nan misterius dari sang tokoh utama yang selalu hadir datar dan dingin. Hal ini menjadi kekuatan sekaligus titik lemah film, bagaimana film ini harus membuat sang penonton tetap bertahan untuk terus merasakan perasaan murung tanpa diberi penjelasan mengapa perasaan murung itu harus ada, lalu menjadi titik balik kehidupan sang tokoh utama. Film menjadi terasa sangat berat saat film yang berjalan tak linear menghadirkan adegan-adegan nan absurd, bahkan saya tak sanggup memberi judul untuk review film ini, karena tak berhasil menemukan benang merah dalam film ini.

Kekuatan dan sekaligus kelemahan film ini juga terjadi saat film ini mendapuk Joko anwar sebagai sang tokoh utama. Joko anwar memang tak menghadirkan penampilan spesial, tetapi tak ada karakter yang sempurna untuk mengisi sang tokoh utama selain karakter Joko anwar di dunia nyata. Pujian untuk sang sutradara Richard oh, yang mampu menghadirkan keunikan-keunikan dari keterbatasan sang tokoh utama. 

Bagaimana film ini meracik kelemahan sekaligus kekuatan, membuat film ini hadir bukan untuk semua orang. Dia menjadi semacam eksperimental movie walau mungkin saja sang film maker ingin menghadirkan film yang tidak harus melulu seperti apa yang kita lihat. Si pembuat film sendiri tampaknya tahu bahwa filmnya bukan untuk semua jenis penonton. Oleh sebab itu dihadirkan trailer yang seakan memberikan resume cerita untuk penonton awam, serta menghadirkan dunia para filmmaker sebagai background untuk menarik penonton yang disasar film ini yaitu para movie freak. Para movie freak seperti saya yang haus akan film-film yang berbeda dan bersyukur masih ada ruang untuk film seperti ini di layar bioskop Indonesia.

Masih menebak arti adegan ini
Kembali ke cerita film, 2 hari setelah menyaksikan film ini di bioskop, otak saya masih terus menyusun puzzle untuk menginterpretasikan cerita film ini. Fokus saya terpusat pada beberapa adegan, antara lain : adegan obrolan telepon antara sang sutradara Upi yang meminta nasehat soal FTV yang dibuatnya, adegan obrolan Joko dengan seorang pemain Biola, dan adegan saat Joko anwar mengisi sebuah kelas film maker, dan ditutup dengan obrolan sang sutradara bahwa alur tak harus dituntaskan. Adegan - adegan ini membawa saya ke kesimpulan "Melancholy is a movement" adalah film yang sangat lucu.

Film komedi yang mungkin saja mentertawakan orang-orang yang mencoba menginterpretasikannya.

Atau ada yang punya interpretasi lain?

Score : 2.5/5

Rabu, 03 Desember 2014

Prediksi Pemenang Festival Film Indonesia 2014

 
Festival Film Indonesia (FFI) kembali digelar. Kali ini FFI 2014 hadir dengan menghadirkan 85 juri untuk menentukan pemenang. Ini sebuah langkah bagus untuk ajang apresiasi film Indonesia tertinggi. Malam puncak FFI 2014 akan diselenggarakan pada tanggal 6 Desember di Palembang.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, (walau saya bukan salah seorang juri, tetapi) saya akan menentukan pemenang pilihan saya, coba tebak berapa banyak pemenang pilihan saya yang sesuai dengan pemenang pilihan juri. Berikut nominasi FFI 2014 selengkapnya dan pemenang pilihan saya :

A. Nominasi Film Bioskop Kategori Film Terbaik Film Bioskop 

1. 3 Nafas Likas
2. Cahaya dari Timur: Beta Maluku
3. Sebelum Pagi Terulang Kembali
4. Soekarno: Indonesia Merdeka
5. Sokola Rimba
 
Citra Goes to .....Soekarno: Indonesia Merdeka

B. Nominasi Film Bioskop Kategori Sutradara Terbaik
1. Rako Prijanto – 3 Nafas Likas
2. Lucky Kuswandi – Selamat Pagi Malam
3. Hanung Bramantyo – Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Riri Riza – Sokola Rimba
5. Adriyanto Dewo – Tabula Rasa

 Citra Goes to ..... Hanung Bramantyo - Soekarno: Indonesia Merdeka

C. Nominasi Film Bioskop Kategori Pemeran Utama Pria Terbaik
1. Vino G Bastian – 3 Nafas Likas
2. Abimana Aryasatya – Haji Backpacker
3. Herjunot Ali – Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
4. Chicco Jericho – Cahaya Dari Timur: Beta Maluku
5. Ario Bayu – Soekarno: Indonesia Merdeka

Citra Goes to ..... Ario bayu - Soekarno ; Indonesia Meredeka
  
D. Nominasi Film Bioskop Kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik

1. Atiqah Hasiholan – 3 Nafas Likas
2. Revalina S Temat – Hijrah Cinta
3. Maudy Koesnaedy – Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Prisia Nasution – Sokola Rimba
5. Dewi Irawan – Tabula Rasa 

Citra Goes to ..... Prisia Nasution - Sokola Rimba
  
E. Nominasi Film Bioskop Kategori Pemeran Pendukung Pria Terbaik
1. Yayu Unru – Tabula Rasa
2. Reza Rahadian – Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
3. Lukman Sardi – Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Nino Fernandez – 99 Cahaya di Langit Eropa
5. Ringgo Agus R. – Sebelum Pagi Terulang Kembali

Citra Goes to .....Reza Rahadian - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

F. Nominasi Film Bioskop Kategori Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
1. Jajang C Noer – 3 Nafas Likas
2. Laura Basuki – Haji Backpacker
3. Nirina Zubir – Silent Hero(es)
4. Jajang C Noer – Cahaya Dari Timur: Beta Maluku
5. Tika Bravani – Soekarno: Indonesia Merdeka

Citra Goes to .....  Jajang C Noer - 3 Nafas Likas
  
G. Nominasi Film Bioskop Kategori Penulis Skenario Asli Terbaik
1. Ninit Yunita - Mari Lari
2. Sinar Ayu Massie - Sebelum Pagi Terulang Kembali
3. Indra Tranggono & Lola Amaria - Negeri Tanpa Telinga
4. Lucky Kuswandi & Ucu Agustin - Selamat Pagi Malam
5. Tumpal Tampubolon - Tabula Rasa

Citra Goes to .....Selamat Pagi Malam
   
H. Nominasi Film Bioskop Kategori Penulis Skenario Adaptasi Terbaik
1. Titien Wattimena - 3 Nafas Likas
2. M Irfan Ramli, Swastika Nohara & Angga D. Sasongko - Cahaya Dari Timur: Beta Maluku
3. Hanung Bramantyo - Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Riri Riza - Sokola Rimba
5. H. Imam Tantowi, Donny Dhirgantoro, Riheam Junianti & Sunil Soraya - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Citra Goes to ..... Sokola Rimba
  

I. Nominasi Film Bioskop Kategori Pengarah Sinematografi Terbaik
1. Hani Pradigya – 3 Nafas Likas
2. Robie Taswin – Cahaya dari Timur: Beta Maluku
3. Nur Hidayat – Sebelum Pagi Terulang Kembali
4. Rendra Yusworo – Sepatu Dahlan
5. Fauzan Rizal – Soekarno: Indonesia Merdeka

Citra Goes to .....  Soekarno : Indonesia Merdeka
  
J. Nominasi Film Bioskop Kategori Penyunting Gambar Terbaik

1. Ryan Purwoko – 99 Cahaya di Langit Eropa
2. Yoga Krispratama – Cahaya dari Timur: Beta Maluku
3. Sastha Sunu – Sebelum Pagi Terulang Kembali
4. Cesa David Lukmansyah & Wawan I Wibowo – Soekarno: Indonesia    Merdeka
5. Waluyo Ichwandiardono – Sokola Rimba

Citra Goes to ..... Soekarno: Indonesia Merdeka
   
K. Nominasi Film Bioskop Kategori Penata Suara Terbaik
1. Satrio Budiono – Cahaya dari Timur: Beta Maluku
2. Fajar Yuskemal & Aria Prayogi – Killers
3. Khikmawan Santosa – Sepatu Dahlan
4. Sutrisno & Satrio Budiono – Soekarno: Indonesia Merdeka
5. Yusuf A Patawari & Satrio Budiono – Sokola Rimba

Citra Goes to ..... Killers

L. Nominasi Film Bioskop Kategori Penata Musik Terbaik
1. Fajar Yuskemal & Aria Prayogi – Killers
2. Ivan C. Gojaya – Selamat Pagi, Malam
3. Tya Soebiakto – Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Aksan Sjuman – Sokola Rimba
5. Lie Indra Perkasa – Tabula Rasa

Citra Goes to ..... Sokola Rimba
    

M. Nominasi Film Bioskop Kategori Penata Visual Efek Terbaik
1. Raiyan Laksmana – 3 Nafas Likas
2. Eric Kawilarang – Guardian
3. Totok Santoso/ Hillboy – Comic 8
4. Andi Novanto – Killers
5. Eltra Studio & Adam Howarth - Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Citra Goes to ..... Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
  
N. Nominasi Film Bioskop Kategori Pengarah Artistik Terbaik

1. Frans XR Paat – 3 Nafas Likas
2. Yusuf Kaisuki – Cahaya dari Timur: Beta Maluku
3. Allan Sebastian – Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Eros Eflin – Sokola Rimba
5. Iqbal Marjono – Tabula Rasa

Citra Goes to ..... 3 Nafas Likas
   
 O. Nominasi Film Bioskop kategori Perancang Busana Terbaik
1. Gemailla Ghea Geretiana – 3 Nafas Likas
2. Retno Ratih Damayanti – 99 Cahaya Di Langit Eropa
3. Retno Ratih Damayanti – Soekarno: Indonesia Merdeka
4. Samuel Watimenna – Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck
5. Angelia Florensia – Street Society

Citra Goes to ..... Tenggelamnya kapal van der wijck

Nominasi Film Pendek Terbaik
1. Sowan – Bobby Prasetyo – Khatulistiwa Film
2. Polah – Arie Surastio – Madaya Plan
3. Maryam – Sidi Saleh – Bioskop Merdeka Film
4. Onomastika – Loeloe Hendra – Lanjong Production
5. Sepatu Baru – Aditya Ahmad – Institut Kesenian Makassar

Citra goes to..... Maryam

Nominasi Film Dokumenter Terbaik
1. Penderes Pengidep – Achmad Ulfi – Papringan Pictures
2. Ngulon -  Tony Trimarsanto
3. Quran Sang Paus – Ary Aristo – FFTV IKJ
4. Dolanan Kehidupan – Afina Fahtu M. & Yofa Arfi – Eagle Institut Indonesia
5. Masked Monkey – Ismail Fahri Lubish – Lubish Team Worker
Citra goes to..... Masked Monkey
  
Nominasi Film Animasi Terbaik
1. Asia Raya – Anka Atmawijaya Adinegara – Crymsonik Pictures
2. Adit dan Sopojarwo – Dana Riza & Indrajaya – MD Animation    Jakarta
3. Love Paper – Bambang “Ipoenk” KM – Lajar Tantjap
4. Anak Bangsa – M Panji Shopiyullah – Clubink Animation House
5. Pret! – Firman Winjasmara – Lanting Animation
Citra goes to.....  Pret!

Senin, 01 Desember 2014

7 hari/24 Jam; Ada Apa Dengan Wanita Karir?

Setelah kita disuguhi penampilan Dian satrowardoyo sebagai seorang penyanyi dangdut di film "3 doa 3 cinta" di tahun 2008, praktis kita kehilangan salah satu Indonesian sweetheart di layar lebar film Indonesia. Film itu menjadi film terakhir Dian sastrowardoyo sebelum akhirnya vakum dari layar lebar. Setelah vakum, Dian Sastrowardoyo makin mematahkan hati para pria pemujanya (termasuk saya) saat dia menikah pada tahun 2010. Di tengah kevakumannya dari layar lebar, penggemarnya tak berhenti bertanya seperti apakah seorang aktris cantik, pintar, dan penuh dedikasi saat menjadi seorang istri dan ibu? Bagi saya film 7 hari 24 jam menjawab pertanyaan itu.

Tania wulandari (Dian sastrowardoyo) adalah seorang wanita yang sukses menjalankan peran ganda (atau mungkin triple), sebagai seorang ibu, wanita karir dan juga "manager" bagi suaminya. Disini kita disuguhi potret wanita karir yang akrab kita temui di kota besar. Setiap pagi, Tania sudah bergelut untuk menyiapkan kebutuhan putri semata wayangnya Danyang untuk pergi ke sekolah, lalu bergelut dengan berbagai proyek besar di kantor, sambil memastikan sang suami baik-baik saja. Selepas dari kantor, dia kembali menjadi seorang ibu yang membacakan dongeng untuk sang anak sembari mengingatkan sang suami untuk tak terlalu keras dalam bekerja. Untung ibu Tania (Minanti atmanegara) tinggal bersama mereka, dan turut  membantu mengurus Danyang serta memasakkan makanan favorit sang suami.

Suami Tania, Prasetyo (Lukman sardi) adalah seorang sutradara handal, yang sedang sibuk syuting film terbarunya. Sikapnya yang keras kepala, idealis dan berharap semua scene berjalan sempurna menjadikan proses syuting berjalan lebih panjang dari yang direncanakan. Prasetyo pun rela menginap di tempat syuting demi agar filmnya sesuai dengan apa yang diinginkan dan bisa selesai tepat waktu. Hingga, Prasetyo pun jatuh pingsan di lokasi syuting.
 
Kesibukan Tania pun berlipat-lipat, di saat harus menyelesaikan satu proposal proyek penting yang akan melambungkan karirnya, dia juga harus merawat sang suami di rumah sakit. Tak hayal, keadaan ini pun membuat Tania juga harus dirawat di rumah sakit, satu kamar dengan suaminya.


Dalam perawatan dr. Hengky (Hengky Solaiman) dan dr. Verdi (Verdi Solaiman), Prasetyo dan Tania diperintahkan untuk beristirahat total dan tak boleh bekerja. Hal mudah ini tentu saja menjadi hal yang sulit untuk dijalankan 2 pasangan workaholic ini. Prasetyo memintah 2 asisstennya untuk melaporkan setiap scene yang mereka ambil, sedangkan Tania tak begitu saja melepaskan kesempatan peningkatan karirnya melalui proyek yang ia kerjakan dan juga pekerjaannya sebagai seorang istri yang memastikan suaminya beristirahat total dan tak bekerja selama dalam perawatan. Lalu konflikpun timbul

Film 7 hari 24 Jam punya premis yang sangat potensial untuk digali lebih mendalam. Film ini punya sumber konflik dari diri Tania yang mati-matian menyeimbangkan perannya sebagai wanita karir yang memegang peranan sentral dalam proyek, sebagai seorang istri yang memastikan sang suami untuk bisa beristirahat total, sekaligus seorang ibu yang tak bisa hadir dalam kehidupan sang anak. Tapi film 7 hari 24 jam memilih hadir lebih ringan, dengan menghadirkan konflik dengan amat sederhana. Kita hanya melihat Tania berbicara klise dalam mengarahkan timnya untuk menyelesaikan proyek. Tania melarang suaminya bekerja sambil dirinya sendiri bekerja, membuat larangan Tania terkesan sebuah penyataan basa-basi. Konflik sang ibu-anak hanya dihadirkan saat Danyang yang "ngambek" dan bertanya kepada Tuhan "mengapa Ibunya tidak pulang", itupun diselesaikan dengan pernyataan Ibu Tania "nanti dia akan baik sendiri"
  
Film 7 hari 24 jam lebih memilih untuk menjadi seperti halnya film Before surise/before sunset, yang membangun cerita melalui obrolan Tania dan Prasetyo tentang definisi cinta dan arti pernikahannya selama 5 tahun. Di sini, Kita diajak melihat masalah seorang suami kebanyakan, dimana Prasetyo bangga punya istri yang bisa mendukung karirnya tapi dia kesulitan menunjukkan dukungan kepada karir istrinya. Alih-alih menunjukkan dukungan untuk karir sang istri, Prasetyo justru "cemburu" dengan karir sang istri yang lebih cerah. 
  
Ide membangun cerita melalui obrolan ringan suami istri dalam satu ruangan di rumah sakit hampir menjadi bumerang bagi film ini. Kita belum punya penulis sebrilian Richard Linklater yang bisa mempertahankan kesegaran cerita dengan ruangan yang sangat terbatas. Sebagai penyelamat kesegaran film 7 hari 24 jam menghadirkan komedi-komedi slapstik seperti hubungan unik dr Hengky dan dr. Verdi, HAV yang diplesetkan menjadi HIV, tingkah seorang ustadz yang salah kamar, pria pengharum ruangan, atau bagaimana Prasetyo yang harus kucing-kucingan untuk bisa meeting dengan 2 assistennya (Indra birowo dan Husein Idol). Saya mengakui kehandalan sang sutradara Fajar nugros dalam mempresentasikan komedi penyegar cerita, akan tetapi hadirnya adegan-adegan slapstik ini mengurangi fokus dari isu yang paling menarik dari film ini.
  
Terus terang, Dian satrowardoyo adalah faktor utama (dan mungkin banyak penonton lain) saya untuk datang ke bioskop. Film ini jadi ajang come back Dian ke layar lebar setelah vakum 6 tahun lamanya. Alasan saya tak salah, Dian sastrowardoyo sukses menjadi kekuatan film ini, ia tak kehilangan daya pikatnya dalam berakting didepan kamera. Kita disuguhi bagaimana seorang wanita cantik, pintar dan penuh dedikasi menjalankan perannya sebagai seorang ibu, istri, dan wanita karir. Kita melihat bagaimana gigihnya Tania memenuhi semua tuntutan kepadanya, dia memastikan hasil kerjanya memuaskan bosnya, memastikan sang anak mendapat dongeng sebelum tidur, sekaligus bagaimana dia berupaya untuk menjaga komunikasi dengan sang suami yang sama-sama super sibuk, tak peduli itu akan menguras tenaga dan kesehatannya. Karakter Tania seakan menjadi jawaban akan penggemar yang penasaran akan kehidupan pribadi Dian satrowardoyo saat menjadi istri dan ibu. Karakter Tania yang cantik, tapi tak pernah ragu untuk tidak tampil cantik juga lebih mendekati karakter Cinta (Ada apa dengan cinta, 2002) setelah 12 tahun berlalu dibanding reuni Ada apa dengan cinta yang dihadirkan Line. Yang paling membuat saya terkesan dengan karakter Tania adalah dia dihadirkan untuk mengetuk hati ditengah dominasi pria yang menuntut peran total istri untuk mendukung suami dan mengurus keluarga.
 
Score : 3/5

Rabu, 02 Juli 2014

Selamat Pagi Malam; Mentertawakan Kehidupan Jakartans

Kita sudah menikmati sekilas seksinya malam Kota Jakarta melalui film Jakarta undercover. Kita juga pernah menikmati keheningan malam jalanan Kota Jakarta yang eksotik melalui film Lovely Man.  Kali ini kehidupan malam Kota Jakarta kembali dihadirkan  melalui film yang ditulis, disutradarai, dan diedit oleh Lucky Kuswandi berjudul Selamat Pagi Malam. Lucky menceritakan keunikan kehidupan malam Jakarta dari perjalanan 3 wanita, yaitu : Gia (Adini wirasti), Indri (Ina pangabean) dan Ci surya (Dayu wijanto), yang dihadirkan secara paralel walau tidak berhubungan secara langsung. 
  
Gia dan Naomi
Gia, wanita independen berusia 32 tahun. Dia memutuskan meninggalkan New York untuk kembali ke Jakarta. Di awal kepindahannya, Gia mengalami shock culture saat berhadapan dengan keluarganya, dengan pertanyaan umum “Kapan kawin?”, nyinyiran gaya hidup single Gia, dan banyak lainnya walau sebenarnya si komentator tidak benar-benar peduli dengan orang yang dikomentarinya. 
  
Sebenarnya alasan utama Gia pulang demi agar bisa bertemu dengan seseorang yang dicintainya, Naomi (Marissa anita). Sayangnya Gia menemukan Naomi yang berbeda dari yang ia kenal di New York. Naomi sekarang adalah Naomi penduduk Jakarta yang merasa perlu punya telepon genggam lebih dari satu, yang merasa harus bergaul dengan orang-orang narsis yang sibuk dengan gadgednya walau duduk bertatap muka, yang memilih untuk menggunakan mobil pribadi dari pada berjalan di trotoar untuk melewati malam (karena memang Jakarta tidak memilikinya). Hingga Gia pun mengajak Naomi untuk menikmati malam Jakarta layaknya kota New York dengan menyusuri gang-gang kecil dengan berjalan kaki dan mencoba menggali memori mereka bedua.
  
Indri
Indri, adalah seorang petugas fitness center yang terpukau akan glamournya kehidupan warga kelas menengah Jakarta. Indri adalah gambaran dari jutaan orang Jakarta yang rela melakukan apapun demi agar bisa memiliki gaya hidup yang mengikuti trend. Indri berencana untuk menghabiskan malam ulang tahunnya seperti layaknya warga kelas menengah Jakarta. Dia mencuri sepatu, membeli tas belanja (walau kosong), makan di tempat mewah, dan menutupnya dengan berkencan dengan pria berbadan sempurna yang baru dia kenal dari chat online. 

Sayangnya indri tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Di saat terakhir malam ulang tahunnya berakhir, Jalanan Jakarta membuatnya menemui pria yang bisa membuatnya untuk menjadi diri sendiri.
  
Ci Surya, adalah seorang wanita pengusaha, Dia merasa kesepian saat sang suami meninggal dunia. Kesepian Ci Surya berubah menjadi kegalauan saat dia menemukan nama wanita, dengan nomor telepon di salah satu baju mendiang suaminya. Ci Surya memutuskan untuk mencari tahu siapa Sofia (Dira Sugandi), nama wanita yang tertulis di dalam baju suaminya. Hasil pencariannya membuatnya harus mencicipi kehidupan klab malam kelas bawah. Tak hanya bisa bertemu Sofia, Ci Surya mengetahui bahwa suami Sofia adalah seorang gigolo. Hal ini membuat Ci Surya mendapat ide untuk melakukan balas dendam atas yang pernah mendiang suaminya lakukan.
  
Lalu kisah perjalanan Gia, Indri, dan Ci Surya malam itu berakhir di sebuah hotel kelas melati bernama lone star. Sebuah hotel yang dikamarnya dilengkapi kitab suci tetapi disewakan short time untuk para tamu untuk melepaskan nafsu birahinya. Di hotel itu ketiga wanita itu melepaskan cinta, hasrat, dan dendam yang menyelimuti mereka.
  
Lucky kuswandi menghadirkan realita keseharian orang Jakarta dan menamparnya dengan indah. Simak saat Tante Gia (Mak gondut) menceramai Gia dengan berbagai nasehat lalu beberapa menit kemudian, dia tenggelam dengan gadgednya. Simak pula bagaimana rekan Indri rela menjadi gigolo demi bisa memiliki gaya hidup orang kelas menengah, atau bagaimana teman keAgamaan Ci Surya yang membawa Agama laksana sebuah ritual belaka, atau bagaimana sebuah Negara religius bisa menjadi Negara dengan korupsi tertinggi. Semua kritik hadir indah, tajam, nakal dan manis yang membuat kita yang terkena kritik tersenyum hingga tergelak. Yang unik, kritik-kritik ini hadir dari seseorang yang seharusnya mendapat cap pendosa menurut masyarakat kita sehingga membuat kritik hadir tanpa ada kesan menghakimi.
   
Film selamat pagi malam hadir dengan gambar-gambar wajah Jakarta yang romantis, syahdu. Ending film ini makin menguatkan karakternya melalui suara powerful Dira Sugandi yang menyanyikan lagu pergi untuk kembali

Nilai 3/5