Selasa, 11 Desember 2012

Festival Film Indonesia 2012


Boleh dibilang saya sedikit kecewa dengan penyelenggaraan Festival Film Indonesia tahun 2012. Awalnya FFI tahun ini terlihat menjanjikan, terlebih pada saat screening awal meloloskan 14 film terbaik tahun ini dari 47 film yang masuk penilaian awal FFI. Penilaian tahap awal FFI memilih Rayya, cahaya di atas cahaya, Cita citaku setinggi tanah, Demi ucok, Dilema, Garuda di dadaku 2, Hello goodbye, Lovely man, Mata tertutup, Modus anomali, Perahu kertas, Rumah di seribu ombak, Soegija, Tanah surga…katanya, Test pack; You’re my baby, dan Ummi aminah, untuk berkompetisi di babak utama. Kekecewaan terhadap FFI justru terjadi di malam pemberian Piala Citra. Acara puncak yang dihelat dengan anggaran Rp. 16,2 M yang diselenggarakan di halaman Benteng Vredeburg Yogyakarta, membuat ajang FFI tahun ini menjadi anti klimaks.
Hahaha saya tidak akan mengomel (lagi) di blog ini, cukup di twitter, disini saya hanya mau sharing hasil FFI.
Nominasi film terbaik FFI 2012
1. Film Terbaik. ; Tanah surga…katanya
Nominasi :
Demi ucok  (8 nominasi)
Soegija  (6 nominasi)
Rumah di seribu ombak: (8 nominasi)
Lovely man (1 piala citra – 7 nominasi)
Tanah surga… katanya bukan tidak pantas menang, tetapi saya sedikit kecewa (walau “terbaik” itu subyektif) saat FFI “seakan mengabaikan” film Lovely man. Film Tanah surga…Katanya malam itu menjadi bintang, dengan meraih 6 piala citra dari 9 nominasi yang didapatkannya.Yaa... film ini diproduseri oleh Deddy mizwar & AA gatot (Ketua Parfi, yang juga seorang guru spiritual, yang juga meminta Piala Citra untuk dilapisi emas). Pesta citra malam itu juga diraih film Rumah di seribu ombak yang meraih 3 Piala citra dari 8 nominasi yang didapatkannya. Film Lovely man sendiri hanya meraih 1 piala citra dari 7 nominasi yang didapat.

2. Sutradara terbaik : Herwin novianto (Tanah surga…Katanya)
Nominasi :
Erwin Arnada (Rumah di seribu ombak)
Hanung bramantyo (Perahu kertas)
Sammaria simanjutak (Demi ucok)
Teddy Soeriatmaja (Lovely man)

Donny Damara (Lovely man)
3. Pemeran utama pria terbaik : Donny damara (Lovely man)
Nominasi :
Emir mahira (Garuda di dadaku 2)
Muhammad syihab (Cita-citaku setinggi tanah)
Reze rahardian (Test pack, you’re my baby)
Tio pakusadewo (Rayya, cahaya diatas cahaya)
Can’t agree more untuk pilihan FFI. Satu catatan, Reza rahardian memang bermain nyaris sempurna  di film test pack, tetapi dia melakukan 1 kesalahan, dengan bersaing dengan Donny damara tahun ini.
4. Pemeran utama wanita terbaik : Acha septriasa (Test pack, You’re my baby)
Nominasi :
Atiqah hasiholan (Hello goodbye)
Annisa hertami (Demi ucok)
Jajang C noer (Mata tertutup)
Agak kurang sreg saat Acha menang, saya tahu dia bermain di atas rata-rata di karakter ini …tapiiii ya….. (lagi-lagi masalah subyektif saja) saya lebih memilih Jajang C noer atau Annisa hertami

5. Pemeran pendukung pria terbaik :  Fuad idris (Tanah surga…Katanya)
Nominasi :
Butet kartaredjasa (Soegija)
Dedey rusma (Rumah di seribu ombak)
Lukman sardi (Rumah di seribu ombak)
Rio dewanto (Garuda di dadaku 2)

6. Pemeran pendukung wanita  terbaik : Lina marpaung (Demi ucok)
Nominasi :
Christine hakim (Rayya, Cahaya di atas cahaya)
Kenes andari (Hello goodbye)
Meriam bellina (Test pack; You’re my baby)
Wulan guritno (Dilema)
Momen terbaik di acara puncak FFI malam itu, adalah saat pembacaan pemenang pemeran pendukung wanita terbaik. Cukup segar melihat momen Mak Gondut (panggilan Lina marpaung) meraih piala citra pertama malam itu. Mak gondut seakan mengingatkan bahwa semua orang bisa bermain film, tak peduli asal, profesi, back ground dan juga umur. Film Demi ucok adalah debut pertama mak gondut bermain film, yang justru mengantarkannya merebut piala citra dengan menyingkirkan 2 aktris senior, sekelas Christine hakim & Meriam bellina.
Mak gondut (Demi ucok)
7. Penulis Cerita asli terbaik : Daniel rifki (Tanah surga…Katanya)
Nominasi :
Emha Ainun Nadjib (Rayya, cahaya di atas cahaya)
Salman Aristo (Garuda di dadaku 2)
Sammaria simanjutak (Demi ucok)
Teddy Soeriatmaja (Lovely man)
8. Skenario terbaik :  Jujur pranato (Rumah diseribu Ombak)
Nominasi :
Danial rifki (Tanah surga…Katanya)
Sammaria simanjutak (Demi ucok)
Teddy Soeriatmaja (Lovely man)
Tititen watimena (Helklo Goodbye)
Masih agak kabur perbedaan kategori cerita asli dengan skenario, karena selama ini hanya akrab dengan kategori skenario asli – skenario adaptasi. Awalnya saya pikir cerita asli adalah cerita dasar film, skenario adalah pengembangan dari cerita asli, tetapi pembacaan nominasi malam itu justru makin mengaburkan keduanya. Saat pembacaan nominasi cerita asli terbaik & skenario terbaik, keduanya disertai pembacaan skenario dari film. Jika sistemnya seperti ini kok sepertinya tidak adil untuk jenis skenario adaptasi.

9. Penyunting gambar terbaik :  Cesa david luckmansyah (Rumah di seribu Ombak)
Nominasi :
Robby Barus (Hello Goodbye)
Sastha sunu (Dilema)
Waluyo Ichwandiardono (Lovely Man)
Wawan I Wibowo (Soegija)
10. Pengarah sinematografi terbaik : Yudi datau (dilemma)
Nominasi :
Anggi frisca (Tanah surga…Katanya)
Faozan rizal (Perahu kertas)
Padri Nadeak (Rumah di seribu Ombak)
Yunus Pasolang (Hello goodbye)

11. Pengarah artistik terbaik : Ezra tampubolon (Tanah surga…katanya)
Nominasi :
Allan Triyana Sebastian (Soegija)
Fauzi (Perahu kertas)
Rezki ridha (Demi ucok)
Richard sibuea (Lovely man)
Cukup terkejut saat penata artistik film Soegija tergusur oleh film tanah surga… katanya. Menurut saya film Soegija tampil dengan detail setting artistik yang mengagumkan, dan bahkan di atas rata-rata film Indonesia. Ya mungkin masalah perbedaan selera saya dengan juri

12. Tata suara terbaik : Aditya susanto (Tanah surga…Katanya)
Nominasi :
Andri yargana (Demi ucok)
Khikmawan santosa (Modus anomaly)
Satriono budiono (Rumah di seribu ombak)
Satriono budiono & Trisno (Soegija)

13. Musik terbaik : Thoersi argeswara (Tanah surga…katanya)
Nominasi :
Andhika triyadi (Perahu kertas)
Djaduk ferianto (Soegija)
Tya subiakto (Dilema)
Lagi-lagi masalah selera, Saya masih memfavoritkan score Djaduk ferianto di film Soegija. Musik di film Soegija menurut saya menjadi bagian terbaik di film itu. Bahkan saya lebih memilih score film Perahu kertas dibanding….
Eka S (Langkah receh) (sumber : film remaja.com)
14. Film pendek : Wan an (Yandi laurens FFTV IKJ)
Nominasi :
Langkah receh (Miftakhatun & eka susilawati, SMP 4 karangmoncol purbalingga)
Long imagine (Satriya adiyasa, Forum filmmaker pelajar bandung)
Memburu harimau (Arman dewarti, mediatif film workshop)
Rahasia (Nindya raras nareswari, karya set film)
Cukup buat saya tersindir berat  ketika melihat film buatan anak-anak SMP & SMA masuk nominasi film pendek FFI tahun ini…..


15. Film Dokumenter : Di batas kekuasaan (Nur fitriah napiz)
Nominasi :
A short story of Raden saleh (subiyanto, FFTV IKJ)
Bandung lintas mada (Kompas TV)
“Bena” Eksotika megalitik (LPP TVRI)
Wae rebo, Menjaga hunian demi peradaban (Kompas TV)

Walau menyisahkan sedikit ganjalan pada penyelenggaraan FFI tahun ini, tapi saya justru terinspirasi meihat 2 momen yang ada di FFI 2012. Melihat Seorang wanita berumur 60 tahun meraih citra dan anak SMP meraih nominasi piala citra, membuat saya berfikir untuk segera mewujudkan mimpi saya untuk membuat film....hmmm padahal project nulis novel saja gak kelar-kelar, 

Rabu, 05 Desember 2012

Sepotong Kisah Dari Rumitnya Dunia Korupsi Indonesia (Review film Kita vs Korupsi)


Konon jika ingin merebus katak, janganlah memasukkan katak langsung ke air panas, karena dia akan bisa langsung melompat keluar. Cara yang paling jitu adalah memasukkan katak pada air dingin, kemudian pelan-pelan kita panaskan airnya. Dengan cara ini, si katak akan tetap dalam air dan baru akan tersadar saat dia sudah terebus mendidih.

Ini bukan tips membuat swike, saya ingin mengilustrasikan budaya korupsi di Indonesia. Bahwa tanpa tersadar kita dibiasakan memaklumi korupsi-korupsi kecil baik yang kita lakukan sendiri maupun yang dilakukan orang-orang disekitar. Pemakluman-pemakluman korupsi-korupsi kecil ini membuat kita terbuai, hingga saat tersadar negara kita sudah habis digerogoti oleh koruptor.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ingin memberikan ilustrasi kecil ini dalam 4 film pendek yang tergabung dalam omnibus berjudul kita vs korupsi. Di film ini mereka ingin menunjukkan bahwa korupsi sangat dekat sekali dengan keseharian kita, bahwa sebuah korupsi kecil bisa membawa kita kedalam lingkaran setan, dan bahwa mulai dari diri kita lah korupsi di negeri ini bisa dihentikan. 
  1. Film pertama omibus ini berjudul Rumah Perkara, diarahkan oleh Emil heradi, Film ini berkisah tentang Yatna (Teuku Rifnu wikana) seorang lurah dari sebuah desa di kaki sebuah gunung. Alih-alih melancarkan pupuk, bibit, & melindungi sawah petani di desa yang dia pimpin, Yatna justru melancarkan usaha seorang konglomerat untuk menguasai area pertanian. Dia melakukan hal ini karena berhutang budi pada sang konglomerat yang menjadi penyokong dana kampanyenya.Yatna digambarkan sebagai seorang yang tak bisa memegang komitmennya. Dia gagal memegang amanah sebagai pemimpin, gagal memenuhi janji kampanyenya, gagal memegang komitmennya sebagai suami dengan berselingkuh, bahkan gagal pula memegang janjinya kepada seorang wanita yang ia selingkuhi. Scene akhir film ini tampil menggetarkan dengan menampilkan janji-janji kampanye Yatna, yang dipertegas ucapan "Demi Allah saya bersumpah!", tapi……… kekuatan uang dari penyokong dana kampanyenya, menyanderanya dan justru berakibat maut untuk 2 orang yang dicintainya.
Aku padamu
  1. Film kedua  bergenre komedi romantis berjudul Aku padamu dan diarahkan oleh Lsja Susatyo. Film ini menampilkan  2 cerita yang dimainkan secara flash back. Diceritakan tentang Vano (Nichoulas saputra) – Laras (Revalina S temat) yang akan kawin lari. Mereka lalu terganjal birokrasi di KUA. Seorang pegawai KUA berupaya membujuk mereka menggunakan “cara orang dalam” untuk memuluskan proses menikah. Laras menolak cara Vano yang akan menggunakan jalan singkat, dia memegang komitmen yang diajarkan oleh guru SDnya untuk tidak menyerah pada korupsi sesulit apapun birokrasi yang ia hadapi. Di masa lalu, diceritakan Markun (Ringo agus rahma) seorang guru honorer yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pekerjaanya sebagai pendidik. Dia merelakan kehilangan posisinya, hanya karena menolak menyogok untuk melancarkan proses birokrasi pengangkatannya. Berhenti menjadi guru formal dia tetap mengajar anak-anak didiknya dengan caranya sendiri hingga akhir hayatnya.
  2. Ine febriyanti mengarahkan film ketiga berjudul Selamat siang Rissa!. Scene awal menceritakan seorang pegawai pemerintah tengah ditodong oleh permohanan bantuan seseorang dengan sebuah amplop tebal di atas meja. Scene berikutnya membawa kita kembali ke masa lalu, Menceritakan seorang pegawai penjaga gudang Negara bernama Arwoko (Tora sudiro). Di saat sulit, harga sembako naik tak terkendali, & pekerjaan sepi, seorang tengkulak ingin memanfaatkan gudang yang Arwoko jaga untuk menimbun sembako. Di saat yang sama sang anak sedang sakit keras,  sedangkan dia dan istrinya Niken (Dominique) tidak memiliki uang, Keputusan Arwoko di masa itu ternyata sangat berdampak ke masa depan, anaknya tumbuh menjadi seorang yang berani untuk mengatakan tidak pada korupsi.
  3. Bagian terakahir berjudul Pssst… besutan Chairun nissa. Menceritakan kehidupan remaja SMA, Gitta (Alexander Natasha), dengan kamera barunya dia mendokumentasikan kehidupan teman-teman sekolahnya. Gitta menangkap kisah unik diantara teman-temannya, yang sudah terbiasa memark up harga buku saat meminta uang ke ibu mereka. Ternyata, teman-teman Gitta ini belajar dari ibu mereka masing-masing, yang juga memark up harga buku  saat meminta uang dari ayah mereka. Lingkaran korupsi tak berhenti, duit Ayah mereka berasal dari mark up proyek. 

Rumah perkara
Walau film omnibus ini tidak dirilis secara luas melalui layar lebar, film ini jauh dari kualitas film kelas B. Saya sangat setuju dengan pemberian label salah film omnibus terbaik Indonesia kepada film ini. #Eh tapi film pendek Indonesia bagus-bagus dari pada film panjangnya. Mungkin karena dibatasi durasi, film-film pendek ini tak punya kesempatan mengulang kesalahan film layar labarnya, yaitu tampil bertele-tele.

Film-film ini walau dibesut 4 orang berbeda tetap memiliki kualitas setara dari segi penceritaan, maupun akting. Film-film ini hadir dengan gambar-gambar dan jalan cerita yang sangat efektif menjauhkan dari membosankan (lagi-lagi karena mungkin terbatasi durasi). Film ini juga tak terjebak dalam dialog penghakiman tetapi lebih menunjukkan akibatnya. Simak bagaimana tak berharganya Yatno si penjanji besar saat dia tersandera dana haram, bandingkan dengan kekuatan mendidik seorang guru dari tindakan kecil menolak dana haram. Simak pula kebanggaan palsu dari cara-cara instant para orang tua mencari rejeki di episode Pssst, dibandingkan dengan saat Arwoko hanya memilih rejeki yang halal untuk sang anak.

Bagian terlemah dari film ini ada pada kecenderungan menyederhanakan masalah, semua karakter juga ditampilkan hitam putih. Hal ini membuat film serasa “lempeng” tanpa "twist” konflik, membuat segalanya serasa idealis. Untuk ini, saya  tidak menyalahkan film makernya, karena film ini memang dibuat agar bisa dicerna oleh semua golongan. Film kita vs korupsi sudah cukup berhasil membuat saya tersadar telah berada dalam lingkaran korupsi, walau saya sering  berteriak  mencemooh koruptor. Iya, ternyata saya adalah katak dalam rebusan air yang nyaris mendidih.

Nilai : 3,5 dari nilai max 5.

Senin, 03 Desember 2012

Tweet mu Harimau mu (Review film #republiktwitter)


Penulis besar Enest hemmingway pernah menerima tantangan untuk membuat karya sastra dalam 6 kata, maka dia mengambil serbet dan menulis : ” Dijual: sepatu bayi belum pernah digunakan”. Siapa sangka 6 kata ini bisa berkembang menjadi puluhan alur cerita dengan berbagai genre di tangan banyak orang. Saat ini kita punya media yang memungkinkan kita menulis kisah dalam 140 karakter dengan efek yang lebih besar dari yang dilakukan Ernest hemmingway.
Dilaunching pada tahun 2006, Saat ini Twitter digunakan oleh lebih dari 300juta orang di dunia. Twitter seakan menjadi sebuah bukit salju, dimana di puncaknya semua pengguna twitter berlomba menggulirkan bola salju melalui 140 karakter. Bola - bola kecil salju ini sebagian menggelinding menjadi sebuah bola salju raksasa yang siap melahap apa saja, sebut saja revolusi di Timur tengah. Sebagian berhasil, sebagian besar lainnya hanya omong kosong belaka. Twitter telah menjadi semacam dunia baru, mereka menggunakannya untuk  bergaul, berdiskusi, mencari relasi, menyampaikan ide, protes, berdebat, mencari dukungan, hingga menemukan cintanya, dan lain sebagainya. Hal ini yang coba ditangkap film #republiktwitter

Film ini bercerita tentang orang-orang seperti saya, sebagai bagian dari generasi menunduk. Orang-orang yang dimanapun, kapanpun, melakukan apapun selalu menunduk memantau timeline twitter dari telepone genggam mereka. Sukmo (Abimana arya) seorang mahasiswa semester akhir pergi ke Jakarta sebagai “misi” membangun komitmennya. Di Jakarta dia bertemu teman twitternya, seorang jurnalis muda bernama Hanum (Laura basuki). Akrab di twitter, ternyata tak membuat Sukmo bisa mulus menjalin hubungan nyata dengan Hanum, dia tak cukup PD mengingat Hanum terlihat lebih seperti "orang Jakarta" dari pada penampilannya di twitter, yang apa adanya.
I love this picture
Selain bertemu dengan gadis twitternya, Sukmo ke Jakarta untuk menemui rival #twitwar nya Belo harahap (Edi oglek). Dia bergabung dengan tim yang dibentuk Belo untuk menjalankan sebuah project yang diberikan seorang misterius bernama Kemal pambudi (Tio pakusadewo). Tugas tim Belo untuk menjadikan seorang pengusaha Arif cahyadi menjadi trending topic, melalui akun-akun twitter palsu yang mereka buat. Di waktu bersamaan Hanum sedang mengalami krisis karir, dan Sukmo pun memberinya bahan investigasi dari project yang dia jalani. Tak disangka ternyata investigasi yang dibuat Hanum justru punya efek besar dan menjadi titik balik mereka.
Film #republiktwitter menghadirkan potret kekacauan sebagai efek dari sebuah permainan 140 karakter di twitter. Sayangnya film ini terlalu ambisius menghadirkan semua hal di twitter sampai melupakan cerita utama yang tidak tergali sama sekali. Film ini tak ubahnya twitter, tampil laksana terbatasi 140 karakter atau seperti karya 6 kata Ernest Hemmingway. Sayangnya media layar lebar bukan media yang tepat menyampaikan ini. Film #republiktwitter jadi tampil dengan bahasan luas tanpa pendalaman. Berbeda dengan karya 6 kata Ernest, film ini justru menutup imajinasi penonton dengan memberikan ending “seadanya dan kebetulan" disetiap konflik yang ditimbulkannya. Sangat sayang sekali padahal film ini punya banyak celotehan menggelitik ala twitter.
Film ini didukung aktor-aktris potensial, yang (lagi-lagi) sayangnya tidak termanfaatkan dengan baik, sebut saya Tio pakusadewo, dan juga mantan saya yang masih terlihat cantik Laura basuki (errrrrr......). Kita diperkenalkan seorang jurnalis, tetapi kita tidak pernah diajak mengetahui bagaimana dia mencintai pekerjaannya. Deaktivasi akun Kemal pambudi di puncak film justru jadi anti klimaks kemisteriusan karakter yang sebenarnya sudah dimainkan secara apik oleh Tio pakusadewo. Saya juga tidak merasakan chemistry sama sekali antara Sukmo dengan Hanum (kalo ini factor subyektif, melihat mantan saya  bersama orang lain #eh).
Saya sendiri sering bermasalah dengan status-status facebook dan twitter yang saya tulis, yang mereka anggap tak penting, tabu, tak layak dibicarakan umum, dll. Saya akui beberapa tweet saya memang kebablasan, saya lupa ada besarnya corong social media yang sangat memungkinkan sampainya berita ke tangan yang belum siap menerima berita itu. Padahal….. (lah kok malah curhat sendiri). Akhirnya, mengutip sebuah tweet dari seorang teman, ditengah derasnya social media kita jadi sering melupakan teknik terbaik dalam menyampaikan masalah yaitu : berbicara secara langsung.

Nilai : 2 dari nilai max 5.

Minggu, 02 Desember 2012

Mempertanyakan Arti pernikahan (Review Film Test Pack; You’re My Baby)

Saat jaman sekolah dulu orang –orang sekitar menanyakan “kapan lulus?”. Saat sudah lulus orang-orang sekitar ribut bertanya “kapan kawin?”. Saat sudah menikah, orang-orang (entah mengapa tidak bisa diam) bertanya “kapan punya anak?”. “Kapan mati?” kok tidak ditanya sekalian ya? …..  Saya tidak menentang bentuk tatanan siklus hidup seseorang, tetapi sebagian orang merasa terobsesi menjadikan siklus ini seakan sebuah perlombaan, membuat kita melupakan alasan dan esensi kita menjalani siklus hidup pilihan kita.


Bagi Rachmad (Reza rahardian) & Tata  (Acha septriasa) , 7 tahun menikah tanpa dikaruniai anak adalah sebuah siksaan tersendiri. Walau awalnya kehadiran anak bukanlah keharusan bagi pasangan ini, tetapi seiring bertambahnya waktu menjadikan pasangan ini terobsesi untuk segera memiliki momongan. Kedua pasangan ini mencoba semua fakta & mitos tentang bagaimana punya anak, mulai rajin makan tauge, berendam dalam air dingin, hingga melalui serangkaian suntikan untuk proses invitro yang sangat menyiksa Tata. Melihat perjuangan pasangan ini mendapatkan anak, seharusnya membuat kita "berhati-hati" untuk bertanya kapan punya anak ?" pada orang lain (Jangan niru orang songong !)

Pada waktu bersamaan Shinta (Renata kusmanto) diceraikan suaminya, Heru (Dwi sasono) walau keduanya masih saling mencintai. Perceraian ini lebih karena desakan orang tua Heru, karena Shinta divonis dokter tidak akan bisa memberikan anak. Saat bercerai, karir model Shinta justru mencapai puncaknya. Alih-alih meratapi kesendiriannya, Shinta segera menghubungi mantannya, Rachmad.

Awalnya kehadiran Shinta tidak dihiraukan oleh Rachmad yang saat itu sedang sibuk mendukung istrinya menjalani proses “pembuahan”, hingga dokter memberikan vonis bahwa Rachmadlah yang mandul. Tata yang masih belum terima kondisi suaminya, membuat Rachmad berpaling pada Shinta yang dirasakannya sebagai rekan senasib sepenanggungan. Kedekatan rachmad dan Shinta membuat Tata makin berang dan meninggalkan suaminya. Disini para penonton diajak kembali merenung untuk apa mereka menikah. 

Sutoyo family
Untuk apa ya kita menikah ? sebagian orang boleh berpendapat untuk menyempurnakan agama, sebagian (yang peduli kelestarian spesies manusia) berpendapat untuk melanjutkan keturunan, sebagian yang lain ingin menghabiskan sisa hidupnya dengan seseorang yang membuatnya sempurna. Kadang alasan ini begitu sederhana, tetapi justru itu yang bisa dipegang untuk bisa melanggengkan komitmen saat krisis datang. Ya itupun jika kita menikah bukan karena memang “sudah waktunya” seperti yang disentil pasangan Sutoyo (Jaja miharja-Meriam bellina) pasien Rachmad.
 "Saya tidak menemukan alasan kita harus kembali bersama, karena memang tidak ada alasan untuk kita harus berpisah”
Film test pack hadir dengan dialog-dialog cerdas menggelitik tentang obrolan orang DEWASA (dan ternyata ditulis oleh Aditya Mulya). Romantisme, komedi, dan konflik datang silih berganti secara beruntun secara mulus, kadang tanpa disadari disepanjang film. Saya belum membaca novel test pack karya Ninit yuanita, tetapi saya merasakan beberapa bagian film ini hadir terlalu cepat dan tampil kurang mendalam, seperti hubungan Rachmad - Shinta, sehingga cinta segitiga yang hadir kurang mendalam. Karakter Heru juga hadir dengan dialog minim. Walau begitu, saya menilai Monty tiwa sudah cukup berhasil menyampaikan pesan utama yang sederhana tapi disampaikan secara unik dari bukunya.

Film ini makin sempurna dengan hadirnya cast yang bermain tanpa penampilan berlebih. Seperti biasa, Reza rahardian tampil nyaris sempurna, (yang mengejutkan) hampir bisa diimbangi Acha septirasa (Saya katakan hampir karena saya tidak suka mimik yang ditampilkan Acha saat menangis … personal sih sebenarnya hehehe).  Yang membuatku bingung (walau penampilannya tak buruk) kok bisa ya Meriam bellina yang tampil beberapa menit dalam 3 scene bisa mengantarkannya masuk nominasi FFI.

Nilai : 3,5 dari nilai max 5