Selasa, 27 Agustus 2013

Elysium; Di Bawah Bayang – Bayang Distric 9



Perjuangan orang-orang yang terpinggirkan karena diskriminasi & kesenjangan sosial, seakan menjadi tema favorit sutradara Neill Blomkamp. Tema ini makin menarik saat Neill membawa bumi ke dunia futuristic sebagai latar cerita-cerita yang disampaikannya. Tahun 2009 lalu, dunia menyambut hangat karya perdana layar lebar Neill Blomkamp, berjudul distric 9. Film yang bercerita “pemberontakan” para Alien yang menjadi korban diskriminasi ini masuk menjadi salah satu nominasi film terbaik Oscar. Tahun 2013 Neil kembali dengan para pejuang yang menginginkan kehidupan yang sama layaknya di Elysium. Dengan tema yang hampir-hampir mirip, mau tak mau Elysium berada dibawah bayang-bayang kesusksesan Distric 9.
   
Bumi Vs Elysium
Elysium bercerita tentang Bumi dimasa depan, di akhir abad ke 21 (2154) Bumi sudah over populated (gambaran kondisi bumi di film ini cocok untuk yang meyakini banyak anak banyak rejeki). Padatnya bumi menyebabkan sampah,kondisi lingkungan yang buruk, kemiskinan, kejahatan dan penyakit ada dimana-mana. Alhasil bumi sudah tidak layak ditinggal. Sekelompok orang kaya yang ingin mempertahankan gaya hidupnya pindah ke satu pesawat besar yang dibuat menyerupai bumi bernama Elysium. Berbeda di bumi, Elysium menjadi tempat yang sempurna untuk ditinggali, lingkungan yang sehat, nyaman,  tak ada kemiskinan, tak ada kejahatan, dan mereka memiliki mesin pengobatan yang membuat manusia tidak bisa tua, sakit, menjadikan sebuah kesenjangan yang sangat besar antara di bumi dan elysium. 

Elysium berasal dari bahasa mitologi Yunan yang menggambarkan tempat dengan kondisi ideal untuk berbahagia

Di balik kesempurnaan Elysium, ada orang-orang bertangan besi yang mempertahankan kesempurnaan Elysium dengan cara apapun. Mereka menjalankan cara-cara kotor untuk menghalau siapa saja yang mengganggu stabilitas Elysium, termasuk orang-orang di Bumi yang berupaya secara illegal memasuki Elysium walau hanya untuk berobat sebelum ditangkap pihak keamanan dan dideportasi kembali ke Bumi.
  
Lalu diceritakan sepasang sahabat Max da costa (Matt damon) & Frey (Aice braga) yang tinggal di sebuah Panti asuhan di Bumi. Max begitu terobsesi untuk kehidupan yang sempurna di Elysium dan menjanjikan sahabatnya akan membawa mereka pergi ke Elysium. Si Max yang begal menghalalkan berbagai cara untuk bisa mengumpulkan uang dan bisa tinggal di Elysium. Alhasil, dia pun tumbuh jadi seorang pria dengan banyak berurusan dengan petugas keamanan (yang dimasa depan di jalankan oleh sepasukan robot). Hingga sebuah kecelakaan kerja, membuat Max terpapar radiasi dan tak akan bisa hidup lebih dari 5 hari.
 
Lalu berbagai upaya dijalankannya untuk membawanya pergi ke Elysium, termasuk menerima tawaran merampok & menyabotase data di kepala seorang CEO (William fitchner) sebuah industri pertahanan Elysium di Bumi. Tanpa disadari, aksinya membawa Max mendapatkan system dasar Elysium yang membuatnya dikejar "antek-antek" Elysium. Di saat yang bersamaan dia bertemu sahabat kecilnya Frey, yang telah memiliki seorang anak yang menderita Leukimia stadium akhir. Perjuangan hidupnya, pemenuhan janjinya membawanya Frey & putrinya ke Elysium, dan sebuah data yang terdownload illegal ke kepalanya, membawa Max ke sebuah petualangan yang mendobrak kemapanan yang mempermanenkan kesenjangan sosial antara Bumi dan Elysium.
 
Jodie foster menatap Alice braga dengan penuh kebencian (hehehe...)
Dibanding film distric 9, Elysium tampil kurang begitu meyainkan baik dari segi penggarapan maupun tema. Sepanjang film saya terus bertanya apa yang membuat orang – orang kaya itu menciptakan kesenjangan yang begitu lebarnya, apa yang membuat mereka tetap kaya di lingkungan tanpa orang miskin (bukankah orang kaya memerlukan orang miskin untuk emmepertahankan kekayaanya? ... eh), dan bagaimana ketika orang yang punya banyak kesamaan nasib tidak bisa menciptakan revolusi atas system yang tidak adil, sampai harus menunggu Matt damon  sekarat? Dan bagaimana bisa system keamanan Elysium hampir ambruk oleh 2 preman (sebenarnya) yang bisa mati dengan mudahnya.
  
Matt damon Before and at Elysium :-p
Saya hampir lupa menulis peran Menteri Pertahanan Jessica delacourt (Jodie foster) di film ini. Salah satu kelemahan film ini, tak tergali dengan baiknya sebuah karakter hebat, yang dimainkan hebat oleh aktris watak jempolan sekelas Jodie foster. Karakter Jessica bahkan kalah layar dengan pemain pembantu seperti Alice braga. Aksi Matt damon di film ini memang tak diragukan. Bagi Matt, Karakter Max bagaikan versi  Sci-fic dari karakter Jason bourne. Salut atas upaya diet kerasnya menurunkan berat badannya (I feel you Mat ..*puk-puk) mengingat dia terlihat amat gendut di film sebelumnya (The informant, we bought a zoo & contagion).  BTW karakter Max da costa ini seharusnya orang mexico khan? Mengapa dia terlihat seperti orag asing diantara orang-orang mexico ya? CMIIW. Yang terlewatkan dari film ini adalah kurang tergalinya departemen art director. Kita disuguhi pemandangan wah! kondisi Bumi yang sangat padat dan sempurnanya pesawat Elysium, tetapi hanya sebatas pemandangan besarnya. Dimaafkan karena itu memang bukan ciri Neill blomkamp
  
Overall, Walaupun setingkat dibawah Distric 9, Film Elysium masih asyik dinikmati, sembari menunggu datangnya serbuan film seru musim dingin nanti.  BTW Orang gila mana yang punya ide menggunakan otak untuk menggantikan flash disk? Lalu kalo kena virus gimana? kalo tiba-tiba transfer data dan ngehang gimana?.... (walau bukan ide original) ide ini keren gilanya!. Sempat terbersit perntanyaan "Mengapa Tuhan tidak mengaplikasikannya teknologi ini ke umatnya ya?", Maksudku (mengutip tweet @hotradero) mengapa Tuhan menurunkan ajaranNya dalam bentuk tulisan, mengapa tidak mendownloadkan secara langsung ke otak umatNya? dengan begitu semua ajaran yang diterima umatNya akan seragam, dan kita akan berhenti saling bertengkar siapa yang lebih benar di mata Tuhan. just asking

Nilai : 2 dari nilai max 5

Sabtu, 01 Juni 2013

Laura & Marsha ; Kisah Para Pejalan

Diceritakan 2 orang sahabat Laura & Marsha yang melakukan perjalanan ke Eropa. Marsha (Adini wirasti) seorang wanita single, yang ingin pergi ke Eropa, untuk merayakan kepergian ibunya. Marsha yang juga penulis buku traveler ini membujuk sahabatnya Laura, untuk menemaninya pergi ke Eropa. Laura (Prisia nasution) adalah ibu seorang anak yang ditinggal pergi suaminya. Dia tak tahu kemana suaminya pergi, kecuali sepucuk kartu pos yang dikirimkan dari Verona. Awalnya dia menolak ajakan Marsha, tetapi sebuah kecelakaan membuatnya sadar, tidak ada waktu untuk menunda kepergiannya ke Eropa.
   
Laura yang bersifat kaku pada jadwal perjalanan yang disusun bersama, bertolak belakang dengan Marsha yang cenderung free spirit, dan ingin mencoba apapun yang dilihatnya. Marsha yang menikmati setiap langkah, berbeda dengan Laura yang selalu mengkhawatirkan apapun, membuat keduanya sering berselisih pendapat. Hmm… saya beri tips ya: pergi traveling berdua itu menyenangkan, tetapi pergi traveling bersama orang yang punya tujuan dan gaya traveling yang jauh berbeda (walaupun itu sahabat) itu namanya  penyiksaan. Jika alasannya kamu memerlukan teman sharing biaya perjalanan, setidaknya kalian tak perlu kemana – mana pergi bersama-sama. Pilih titik point dan waktu  untuk bertemu, dan jalan – jalanlah masing - masing tanpa perlu saling memaksakan tujuan satu sama lainnya.
   
Laura makin frustasi melihat kelakuan Marsha yang makin seenaknya sendiri, Marsha menghabiskan semua uangnya untuk membeli cincin, memberi tumpangan kepada pria asing yang justru membuat mereka tersasar. Puncaknya, Laura & Marsha kehilangan segalanya. Mereka hidup di tempat asing tanpa punya kendaraan, uang, bahkan paspor. Mereka makan dengan mencuri, dan tidur di bangunan kosong. Keadaan sulit, menyulut emosi mereka berdua hingga terjadi pertengkaran yang membuka agenda rahasia tujuan perjalanan mereka.
  
Sebagai film perjalanan, Laura & Marsha lebih berhasil membidik orang – orang yang mereka temui selama perjalanan dan kebiasaaannya dari pada menghadirkan sebuah landscape yang indah. Pesan yang diberikan Laura dan marsha bahwa :  “perjalanan akan membuat kita bisa makin mengenali kepribadian/hidup orang lain”, sebenarnya sudah pas disampaikan, tetapi saya sudah kadung tidak menyukai karakter Laura dan Marsha.  Ketidakberesan persahabatan antara mereka bedua, serta masalah hidup masing – masing sebenarnya dijawab dengan manis di ending film ini, tetapi saya sudah cukup jenuh mendengar kedua orang ini mengomel tak penting sepanjang film, sampai saya perlu memberikan tips untuk mereka berdua di atas. Uniknya lagi, film ini merasa perlu menciptakan alasan untuk Laura mau pergi ke Eropa tetapi membiarkan Laura tak pergi ke kantor Polisi saat paspornya hilang? Lalu bagaimana mereka bisa pergi dari Jerman ke Italia tanpa paspor?


Nilai : 2  dari nilai Max 5

Sabtu, 11 Mei 2013

Cinta Brontosaurus; Kisah Kegalauan Hati Raditya Dika

Waktu kecil, saya berfikiran bahwa kelak saat saya menemui seseorang yang saya sukai, saya tinggal menyatakan cinta, diterima, pacaran, menikah, dan bahagia selamanya. Sayangnya hidup tak semudah itu. Begitu juga seperti yang dialami Raditya dika, Bahwa mencari orang yang mau menerima cintanya itu hal yang susah, dan begitu mendapatkan orang yang mau menerima cintanya, mempertahankan hubungan dengan pacarnya juga tak kalah susahnya. Kemalangan-kemalangannya dalam upayanya mencari pasangan hidup ini ia tuangkan dalam buku berjudul Cinta Brontosaurus yang diangkat dalam layar lebar. Apakah akan jadi sebuah cerita yang kelam? Dalam suatu musibah, tambahkan waktu… dan Raditya dika maka segalanya akan berubah menjadi komedi.
   
Film brontosasurus seakan terbagi menjadi 3 bagian yang berjalan bersama, bagian pertama tentang usaha Raditya dika (diperankan Raditya dika sendiri) memperjuangkan cintanya, bagian kedua tentang usahanya menyelamatkan naskah bukunya dari produser film “kancrut”, dan bagian ketiga tentang hubungan dengan agennya bernama  kosasi (Soleh solihun) yang juga jadi jembatan bagian pertama dan kedua.
  
Kegagalan raditya dika dalam menjalin hubungan, membuatnya menjadi seseorang yang tak bisa mengerti wanita, dan sinis terhadap suatu hubungan dengan lawan jenis. Hubungan terakhirnya bersama Nina (Pamela bowie) menjadikan dia enggan untuk memulai hubungan percintaanya lagi, karena dia seakan-akan tahu bagaiamana hubungannya akan berakhir. Baginya cinta itu memiliki kadaluarsa. Beruntung, dia punya orang tua (Ade irawan & Bucek depp), dan Kosasi yang terus memberikan dukungan untuk tidak menyerah mencari pasangan hidup, Hingga seorang kerabat jauh ibunya yang tetap single di usia lanjut memberikan ketakuan sendiri kepada Raditya dika.
  
Singkat kata dia bertemua Jessica (Eriska rein), seorang gadis yang dia anggap berbeda dari gadis kebanyakan. Punya fantasi sama, jalan pikiran sama, membuat keduanya bisa dengan cepat akrab. Awalnya hubungan mereka berjalan sangat baik, hingga Jessica menyadari bahwa kekasihnya masih memegang prinsip “cinta punya masa kadaluarsa” yang berarti tak ada masa depan untuk hubungan serius bagi mereka berdua. Masalah-masalah kecil kian jadi pelik, hingga mereka menyadari mereka punya keluarga yang bertolak belakang., dimana keluarga Jessica (Merriam bellina & monyet peliharaannya bernama Richard) yang terkesan glamour dan nyentrik, bertolak belakang dari keluarga Raditya dika yang tergolong sederhana dan ceplas ceplos, yang sepertinya berusaha tampil seperti disfungsional family.
  
Film ini kita diajak melihat Raditya dika mencurahkan kegalauan atau rasa frustasinya melihat hubungan percintaannya, melalui rangkaian scene miris yang mengelitik, yang lebih menghadirkan senyum dibalik rasa iba. Tak hanya curhat, Raditya menunjukkan apa saja yang membuatnya sinis terhadap hubungan percintaan, mengulitinya, menganalisa satu persatu sedetail mungkin, hingga bagaimana dia menemukan titik temunya. Rangkaian prosesi ini seakan membuat film ini bagai sebuah tutorial : “How to solve relationship problem for dumb”, tentunya dalam artian positif. 
  

Film ini hadir lebih baik dibanding film dari buku pertamanya, kambing jantan. Film Cinta Brontosaurus terlihat sangat “Raditya dika”.Para penonton diajak masuk kedunianya, melihat bagaimana cara dia memandang hidup, wanita, dan menemukan solusi permasalahan hidupnya. Segalanya akan terasa akrab bagi follower twitter, atau pengikut channel you tube -nya. Sayangnya ini justru sekaligus menjadi titik lemah film ini, komedi Cinta brontosaurus jadi cenderung segmented bahkan beberapa orang yang tidak akrab dengan komedi ala Raditya dika menilainya sebagai komedi yang gagal.
  
Satu hal yang menjadi kekuatan komedi Raditya dika yang juga termasuk kekuatan film cinta brontosaurus adalah upaya mentertawakan diri sendiri. Lihat saat kita diajak tertawa melihat bagaimana dia diputus pacar - pacarnya, atau saat menunjukkan bahwa dia itu cemen tapi lucu,  atau simak saat obrolan ala keluarga Raditya dika di meja makan. Raditya menulis kehidupannya (plus bumbu fiksi tentunya) dan mengajak kita tertawa bersama. Kekuatan lain dari komedi Raditya dika adalah keunikan cara dia melihat tingkah orang – orang di sekitarnya. Tentu yang akrab dengan stand-up comedy tak asing dengan model komedi seperti ini, tetapi Dia yang pertama mengangkatnya dalam suatu film.
  
Komedi seperti ini adalah komedi tak biasa di Indonesia yang tiap malam dihujani komedi merendahkan orang lain atau pukul – pukulan strereofoam, melalui tayangan – tayangan live di televisi. Salut untuk Raditya dika yang masih mempertahankan idelisnya ini dan bertahan di jalur indie dengan membentuk fan basenya sendiri lewat jalur social media. Kekuatan fan base Raditya dika ini bisa dilihat dari jumlah penonton Cinta Brontosaurus yang sampai bulan November ini tercatat sebagai film terlaris tahun ini. Mungkin idealismenya ini yang membuat mengapa film dari buku pertama dan kedua berjarak jauh. Saya katakan mungkin, karena disinggung di bagian kedua film ini. menceritakan upayanya menyelamatkan idealisme cerita brontosaurus.
   
Mr Sue, adalah seorang produser film laris yang berniat mengangkat buku Raditya dika ke layar lebar. Sayangnya film – film produksinya adalah kisah cinta Pocong dan Suster ngesot, Suster push-up, saya menyebutnya sebagai film kancrut. Karakter Mr. Sue, seakan memparodikan produser - produser film yang menangkap mentah-mentah selera pasar. Produser yang menangkap selera pasar akan film horror yang beda dengan menampilkan hantu seabsurd mungkin, atau produser yang menangkap selera pasar yang ingin film bagus dengan menampilkan film dengan masalah mendalam tak masuk akal. Parahnya lagi seabsurd dan sekancrut film yang dikeluarkan produser-produser ini, filmnya masih laku di pasaran, bahkan mengalahkan film-film yang dibuat serius. Di sini tanpa sadar, Raditya Dika seperti mengajak penonton Indonesia mentertawakan dirinya sendiri.
  
Film Cinta Brontosurus tidak hanya diisi idealism raditya dika, baik isi maupun cara komedi.film ini berusaha menggaet penonton ‘awam” dengan menghadirkan karakter Kosasi. Kosasih memiliki seorang pacar yang akhirnya dia nikahi bernama wanda (Tyas mirasih) Masalah timbul saat cinta kosasih ke wanda menjadi sebuah cinta buta. Gaya hidup boros sang istri membuat kosasih melupakan idealism bahkan berani menghianati sahabatnya sendiri. Sebenarnya masalah Kosasih ini akan dibuat “tutorial”-nya tersendiri di dalam film Raditya dika berjudul Cinta dalam kardus. Kehadirian kosasih memberikan guyonan slapstick komikal yang jadi menyeimbang guyonan segmented ala Woody allen (minus romantisnya) yang ditampilkan Raditya dika. Kehadiran Kosasi ini dimainkan baik oleh Soleh solihun, sayangnya karakternya tidak berjalan mulus. Sebagian berhasil sebagai penyegar, sebagian malah tampak terlihat mengganggu. Simak scene Kosasih yang harus memakai handuk karena celananya terbakar, atau simak saat Kosasih mengartikan kostum berbeda dengan memakai kostum Indian, scene scene itu lebih tampak mengganggu dari pada lucu.
  
Dibanding karakter Kosasi, Saya justru merasa lebih segar menikmati kehadiran Edgar, adik Raditya dika. Penampilan Edgar yang muncul disaat – saat tak terduga dengan masalah –masalah anehnya lebih bisa membuat penonton awam tertawa lepas, walau kadang adegan-adegan ini kurang tereksekusi dengan baik.
  

Akhirnya, Film ini seperti sangat Raditya dika, bahkan minus plus film ini tidak saya tujukan pada Fajar nugros sang sutradara ataupun para pemain, karena bagi saya (yang juga follower Raditya dika) seluruh elemen film ini seperti menggambarkan yang Raditya mau. Saya setuju komedi Raditya dika ini hadir segmented, khususnya untuk abg - abg followernya. Untuk penonton diluar segmennya film ini hadir nanggung, terlalu cheesy untuk penonton matang (baca ; tua) dan terlalu “berat” untuk anak-anak muda (non followernya). Tapi, saya melihat ada potensi besar yang dimiliki sang penulis, bahwa Indonesia tinggal menunggu waktu untuk punya seorang Woody Allen.

 Nilai : 3 dari nilai max. 5

Senin, 29 April 2013

“Pee Mak” – Contoh bagaimana seharusnya horor komedi dibuat

Poster film ini simple tapi menyampaikan keseluruhan film
Kemampuan filmmaker Thailand untuk membuat horror sudah tidak perlu diragukan lagi, Bahkan Hollywood sudah membuat remake film horror Thailand. Untuk genre drama – komedi sebenarnya film Thailand tak jauh beda dengan Indonesia, walau akhir-akhir ini mereka sudah mulai menunjukan tajinya seperti di film Bangkok love story, hello stranger, seven something, dll. Bagaimana jika mereka mengkolaborasikan horror – komedi ?, hasilnya = film Pee mak sebuah box office sepanjang masa!
 
Pee mak bercerita tentang seorang pemuda bernama Mak (Mario maurer) dengan 4 sahabatnya yang absurd dan super duper aneh bernama Ter, Aye, Puak dan Sin (please jangan nanya nama panjang mereka, apalagi nama asli…. Susah banget nulis & membacanya). Mereka berusaha menyelamatkan diri dari medan perang, untuk kembali ke rumah, Hingga mereka harus mengantarkan Mak ke istrinya bernama Mae Nak (Daveka hoorne). Rumah Mak ada di sebuah desa terpencil yang dijangkau oleh sebuah sungai. Memasuki desa ini, 5 pemuda ini mulai merasa ada yang aneh, dimana kondisi desa yang sunyi senyap bagaikan desa mati, dan penduduk yang mereka temui pun ketakutan luar biasa.
  
Akhirnya Mak bisa bertemu dengan Mae Nak, istrinya yang ternyata sudah melahirkan bayi laki-laki. Untuk sementara, sampai perang reda 4 sahabat Mak tinggal di seberang rumah Mak-Nak yang dipisahkan sebuah sungai. Cerita lalu bergulir saat 4 sahabat Mak menemukan alasan ketakutan penduduk desa adalah bahwa istri Mak & anaknya adalah seorang hantu!. Cinta Mak ke istri dan anaknya membuat 4 sahabat ini harus memutar otak untuk menyadarkan Mak siapa istri & anaknya sesungguhnya. Itupun mereka lakukan dengan cara kucing-kucingan menghindari Nak yang bisa membunuh mereka semua.
   
juga ada adegan pemuka agama mengusir hantu
Dasar absurd, upaya 4 sekawan sahabata Mak ini justru berujung pada pertanyaan siapa hantu yang sebenarnya dari mereka semua. Sebuah upaya pencarian & pengambilan solusi yang bodoh dan absurd ini menghasilkan perpaduan rasa horror yang mengocok perut. (sumpah lucu bgt!)
  
Film Pee mak adalah parodi film horror dari legenda setan Thailand Nang Nak (semacam kuntilanak/sundel bolongnya Indonesia). Awalnya komedi, cerita & horror film ini sulit saya katakan istimewa. Bukankah film Indonesia juga selalu membuat film horror yang dicampur komedi bodoh, lalu istimewanya film pee mak ada dimana? Biar penilaian saya berimbang, saya lalu mencoba studi banding dengan film horror-komedi terlaris Indonesia tahun lalu berjudul Nenek Gayung & Kakek cangkul, Hasilnya? ….OH MY GOD kualitas horror Indonesia telah jauh terbelakang.
   
Nenek gayung & Kakek cangkul
Produser horror Indonesia seperti hanya berorientasi “untung” dengan mencampurkan semua genre laris (horror – komedi- drama romantic) dengan resep “pokoknya”. Ya pokoknya setan harus keluar tiap 5 menit, pokoknya harus ada adegan konyol entah itu olok-olokan fisik yang sudah basi dan mentertawakan orang yang jatuh, pokoknya harus ada adegan romantis dengan seorang cewek berdada besar dan nanti harus ada adegan tragisnya entah harus berkorelasi atau tidak.
Hasilnya? Tiap lihat setan saya jadi tertawa terbahak-bahak, saya jadi ketakutan saat melihat adegan  orang menangis, dan ngeri tiap melihat adegan komedi. Adegan romantic? Saya jadi horni #eh… keputusan saya tepat tuk antipati duluan, setiap melihat ada film Indonesia bergenre tak fokus ini… Efek selepas menonton film Nenek gayung & Kakek cangkul, membuat film Pee Mak terasa istimew.
 
Dari segi horror, Pee mak menakuti dari suasana yang dibangun, mereka membangun setting desa (yang sebenarnya cukup sederhana), lengkap dengan pasar malam yang menambah kental suasana mencekam ala film sleepy hollow. Dengan setting seperti ini, sang hantu tak perlu susah –susah untuk berkeliling bawa tiker, gayung & cangkul, atau berdandan maksi dengan baju dengan isi tumpah ruah lalu berubah mengerikan (hehehehe you know what I mean) untuk menakuti penonton, hantu di film Pee Mak cukup menakuti dengan tatapan dingin
 
Dari segi komedi, walau masih berputar pada komedi bodoh dan slapstick, tetapi sang penulis dan sutradara bisa membuatnya tampil pas tanpa menurunkan kualitas cerita utama apalagi sampai menurunkan wibawa hantunya. Coba bandingkan dengan wibawa hantu nenek gayung memandikan korbannya … ups!.  
  
Mungkin kunci keberhasilan komedi film ini adalah mereka juga mentertawakan pola umum film horror, film komedi ataupun film pop lainnya. Simak saat mereka protes selalu ada petir menyambar saat mereka menemukan fakta baru, atau simak saat mereka mempertanyakan mengapa mereka tampil konyol atau simak saat mereka mempertanyakan mengapa saat Mak & Nak saling menyebut nama satu sama lain saat akan dipisahkan, atau simak permintaan Mak ke istrinya untuk tidak tampil menakutkan jika mereka tinggal bersama nanti, atau bagaimana mereka mengkritisi tak cocoknya film Hollywood untuk kehidupan keseharian mereka (cukup absurd tapi lucu, saat film bersetting jaman lampau, tetapi mereka bisa mentertawakan Tom cruise, 300, dll).
 
Mak & Mae Nak
Dari segi romantic & drama….  Kebodohan komedi & kengerian tak membuat drama di film ini rusak, walau chemistry 2 peran utamanya (Mario & Daveka) kurang terjalin. Setting horror desa tempat tinggal Mak & Nak, justru berubah menjadi suatu tempat romantis saat mereka berbicara masa depan mereka. Komedi absurd yang ditampilkan mereka ini tidak membuat mereka melupakan faktor “down to earth”. Scene perpisahan Mak & Mae Nak membuat penonton yang duduk dibangku sebelah saya sampai menangis tersedu-sedu (Ibu saya juga suka nangis kalo nonton sinetron).
  
Siapa orang dibalik layar film Pee mak ?  Ada Banjong shutitanakun yang duduk di kursi sutradara, dia menyutradarai film Shutter & Alone lalu ada rumah produksi GTH yang juga gudangnya penghasil film tak biasa seperti Ladda land & The countdown. Bagi yang sudah menikmati film-film itu, pasti setuju ini adalah sebuah kolaborasi dahsyat!
  
Note : Selama film akan ada pemandangan mengaggu, dimana seluruh pemain menghitamkan giginya. Itu adalah kebiasaan orang Thailand pedalaman yang mengunyah buah pinang. KONON kebiasaan ini dilakukan agar gigi mereka lebih kuat (seperti mengunyah daun sirih di Indonesia), sekaligus membedakan mereka dengan hantu yang katanya selalu bergigi putih, tapi hantu di film ini bergigi hitam juga ... hmm

Nilai : 2,5 dari nilai max 5

Minggu, 17 Maret 2013

Django unchained; Best Tarantino Movie Ever!

The "D" is silent, payback won't be
Di suatu musim dingin di Amerika serikat tahun 1858, seorang dokter gigi asal Jerman Dr. King Schultz (Christopher waltz) membebaskan segerombolan budak milik spock bersaudara. Dokter. Schultz sendiri sebenarnya lebih suka menjadi seorang bounty hunter (pemburu hadiah) dari pada menjadi seorang dokter gigi. Dia memburu membunuh orang-orang yang dinyatakan buron oleh pengadilan Amerika, dan menukarkan “jasad” buronan dengan hadiah uang. Upaya membebaskannya serombongan budak, dilakukan hanya dia ingin membebaskan Django (Jamie fox), seorang budak yang tahu wajah dan keberadaan Brittle bersaudara yang menjadi target “buruan” dr. Schultz. Sebuah opening scene yang bisa menjadi teaser keseluruhan cerita, Adegan “pembantaian” Spock bersaudara yang harusnya keras, ditampilkan dengan bumbu komedi dan skenario yang bisa dikatakan original, dan segar (karena cerdas saja tak cukup), dan  ini yang akan anda dapatkan sepanjang film Django unchained.

Schultz - Django
Aksi unik dr. Schultz – Django dimulai dengan mengungkap menembak mati seorang buronan yang menyamar menjadi seorang marshall, lalu dilanjutkan menu utama memburu menembak mati Brittle brothers. Merasa cocok bekerja sama dengan Djanggo, ia lalu menawarkan untuk berpatner, dengan imbalan akan membantu Django menemukan istrinya, Bromhilda (Kerry Washington). "Duet" Schultz- Django cukup kontrovesi di jaman itu, melihat seorang berkulit hitam yang bebas dari perbudakan saja seperti sesuatu yang mustahil, apalagi melihat Django yang berkuda berdampingan dengan seorang berkulit putih.
Dr. King Schultz : How do you like the bounty hunting business?
Djanggo : Kill white people and get paid for it? What's not to like?
Cukup mudah bagi Schultz mencari seorang istri django, yang memang menjadi satu-satunya budak yang bisa berbahasa Jerman. Mereka mendapatkan Bromhilda ada di perkebunan Candyland, Missisipi milik Calvin candie (Leonardo di capiro). Candie tergolong eksentrik, dia suka mengadu budaknya sebagai hiburan atau dikenal dengan sebutan Mandingo fights. Membeli Bromhilda secara langsung, jelas akan ditolak mentah-mentah oleh Candie, maka seperti biasa Schultz menyusun scenario penipuan.

Stephen - Calvin
Untuk menarik perhatian Calvin candie, Django dibuat sekesentrik mungkin. Dia menjadi kaki tangan yang lebih dominan dari tuannya. Intinya dr. Schultz ingin memberikan Djanggo, sebuah image budak yang tak mau terlihat seperti budak. Setelah mendapat perhatian Calvin candie, mereka mulai menawar seorang petarung terbaik milik Calvin dengan harga tinggi dengan bonus Bromhilda. Sayangnya trik Schultz & Djanggo terendus Stephen (Samuel L Jackson), kepala pelayan Candyland. Lalu sebuah adegan penuh  darah, ledakan, dihadirkan dengan intensitas tinggi menjadi penutup film ini. spoiler hampir semua karakter utama film ini mati.
  
Film ini memang masih sebrutal film Tarantion sebelumnya, seperti (dan yang menjadi favoritku) :  Kill bill & Ingloriuous bastrad, tetapi Djanggo unchained hadir lebih cerdas. Tarantiono sukses mempermainkan perasaan penonton (…halah nonton pakai perasaan). Dia tahu cara “mengocok” adrenalin, dan mood para penonton nya. Saya sendiri bisa dibuat merasa ngeri, tegang, terharu, dan tertawa dalam satu scene sekaligus. Tak salah Jika juri Academy award menganugrahkan oscar best original screenplay, dan nominasi best director, untuk Quentine tarantino (yang bertindak sebagai penulis skenario, dan sutradara). Salah satu faktor penarik para kritikus, karena Tarantion seperti meremake berbagai cerita film wetern lama dalam suatu alur cerita baru. Saya sendiri belum bisa berkomentar banyak soal ini, karena memang masih belum punya referensi banyak tentang film western, khususnya Djanggo, & Mandingo fights.
   
Pujian juga perlu diberkan untuk seluruh cast, yang mampu memainkan perannya masing-masing secara luar biasa, khususnya Christopher waltz yang dianugerahi oscar best supporting actor keduanya (setelah ingloriuous bastard, )
  
The battle scene
Saya penasaran apakah perlakuan terhadap budak berkulit hitam di Amerika di tahun 1800an sebrutal seperti yang dicerotakan dalam film ini? Yang pasti hasil googling saya mendapatkan adanya peraturan yang dikeluarkan pemerintah Misssisipi tahun 1822 yang melarang “perlakuan atau hukuman kejam” terhadap budak. Bahkan di tahun 1860 ada seseorang berkulit putih yang dijatuhi hukuman berat setelah membunuh budaknya sendiri. Namanya film fiksi, keakuratan nomor 2 yang penting alurnya masuk akal!. Di luar itu, saya sangat setuju bahwa film ini disebut sebagai film Quentine tarantino terbaik. Berbeda dengan film -film tarantino sebelumnya yang terlalu "segmented" saya yakin semua orang akan menyukai film ini (tapi ingat film ini terlalu keras untuk anak-anak). Maka, tak salah film ini juga menjadi film terlaris Tarantino.
 
Nilai : 4,5 dari nilai max 5