Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label komedi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Mei 2013

Cinta Brontosaurus; Kisah Kegalauan Hati Raditya Dika

Waktu kecil, saya berfikiran bahwa kelak saat saya menemui seseorang yang saya sukai, saya tinggal menyatakan cinta, diterima, pacaran, menikah, dan bahagia selamanya. Sayangnya hidup tak semudah itu. Begitu juga seperti yang dialami Raditya dika, Bahwa mencari orang yang mau menerima cintanya itu hal yang susah, dan begitu mendapatkan orang yang mau menerima cintanya, mempertahankan hubungan dengan pacarnya juga tak kalah susahnya. Kemalangan-kemalangannya dalam upayanya mencari pasangan hidup ini ia tuangkan dalam buku berjudul Cinta Brontosaurus yang diangkat dalam layar lebar. Apakah akan jadi sebuah cerita yang kelam? Dalam suatu musibah, tambahkan waktu… dan Raditya dika maka segalanya akan berubah menjadi komedi.
   
Film brontosasurus seakan terbagi menjadi 3 bagian yang berjalan bersama, bagian pertama tentang usaha Raditya dika (diperankan Raditya dika sendiri) memperjuangkan cintanya, bagian kedua tentang usahanya menyelamatkan naskah bukunya dari produser film “kancrut”, dan bagian ketiga tentang hubungan dengan agennya bernama  kosasi (Soleh solihun) yang juga jadi jembatan bagian pertama dan kedua.
  
Kegagalan raditya dika dalam menjalin hubungan, membuatnya menjadi seseorang yang tak bisa mengerti wanita, dan sinis terhadap suatu hubungan dengan lawan jenis. Hubungan terakhirnya bersama Nina (Pamela bowie) menjadikan dia enggan untuk memulai hubungan percintaanya lagi, karena dia seakan-akan tahu bagaiamana hubungannya akan berakhir. Baginya cinta itu memiliki kadaluarsa. Beruntung, dia punya orang tua (Ade irawan & Bucek depp), dan Kosasi yang terus memberikan dukungan untuk tidak menyerah mencari pasangan hidup, Hingga seorang kerabat jauh ibunya yang tetap single di usia lanjut memberikan ketakuan sendiri kepada Raditya dika.
  
Singkat kata dia bertemua Jessica (Eriska rein), seorang gadis yang dia anggap berbeda dari gadis kebanyakan. Punya fantasi sama, jalan pikiran sama, membuat keduanya bisa dengan cepat akrab. Awalnya hubungan mereka berjalan sangat baik, hingga Jessica menyadari bahwa kekasihnya masih memegang prinsip “cinta punya masa kadaluarsa” yang berarti tak ada masa depan untuk hubungan serius bagi mereka berdua. Masalah-masalah kecil kian jadi pelik, hingga mereka menyadari mereka punya keluarga yang bertolak belakang., dimana keluarga Jessica (Merriam bellina & monyet peliharaannya bernama Richard) yang terkesan glamour dan nyentrik, bertolak belakang dari keluarga Raditya dika yang tergolong sederhana dan ceplas ceplos, yang sepertinya berusaha tampil seperti disfungsional family.
  
Film ini kita diajak melihat Raditya dika mencurahkan kegalauan atau rasa frustasinya melihat hubungan percintaannya, melalui rangkaian scene miris yang mengelitik, yang lebih menghadirkan senyum dibalik rasa iba. Tak hanya curhat, Raditya menunjukkan apa saja yang membuatnya sinis terhadap hubungan percintaan, mengulitinya, menganalisa satu persatu sedetail mungkin, hingga bagaimana dia menemukan titik temunya. Rangkaian prosesi ini seakan membuat film ini bagai sebuah tutorial : “How to solve relationship problem for dumb”, tentunya dalam artian positif. 
  

Film ini hadir lebih baik dibanding film dari buku pertamanya, kambing jantan. Film Cinta Brontosaurus terlihat sangat “Raditya dika”.Para penonton diajak masuk kedunianya, melihat bagaimana cara dia memandang hidup, wanita, dan menemukan solusi permasalahan hidupnya. Segalanya akan terasa akrab bagi follower twitter, atau pengikut channel you tube -nya. Sayangnya ini justru sekaligus menjadi titik lemah film ini, komedi Cinta brontosaurus jadi cenderung segmented bahkan beberapa orang yang tidak akrab dengan komedi ala Raditya dika menilainya sebagai komedi yang gagal.
  
Satu hal yang menjadi kekuatan komedi Raditya dika yang juga termasuk kekuatan film cinta brontosaurus adalah upaya mentertawakan diri sendiri. Lihat saat kita diajak tertawa melihat bagaimana dia diputus pacar - pacarnya, atau saat menunjukkan bahwa dia itu cemen tapi lucu,  atau simak saat obrolan ala keluarga Raditya dika di meja makan. Raditya menulis kehidupannya (plus bumbu fiksi tentunya) dan mengajak kita tertawa bersama. Kekuatan lain dari komedi Raditya dika adalah keunikan cara dia melihat tingkah orang – orang di sekitarnya. Tentu yang akrab dengan stand-up comedy tak asing dengan model komedi seperti ini, tetapi Dia yang pertama mengangkatnya dalam suatu film.
  
Komedi seperti ini adalah komedi tak biasa di Indonesia yang tiap malam dihujani komedi merendahkan orang lain atau pukul – pukulan strereofoam, melalui tayangan – tayangan live di televisi. Salut untuk Raditya dika yang masih mempertahankan idelisnya ini dan bertahan di jalur indie dengan membentuk fan basenya sendiri lewat jalur social media. Kekuatan fan base Raditya dika ini bisa dilihat dari jumlah penonton Cinta Brontosaurus yang sampai bulan November ini tercatat sebagai film terlaris tahun ini. Mungkin idealismenya ini yang membuat mengapa film dari buku pertama dan kedua berjarak jauh. Saya katakan mungkin, karena disinggung di bagian kedua film ini. menceritakan upayanya menyelamatkan idealisme cerita brontosaurus.
   
Mr Sue, adalah seorang produser film laris yang berniat mengangkat buku Raditya dika ke layar lebar. Sayangnya film – film produksinya adalah kisah cinta Pocong dan Suster ngesot, Suster push-up, saya menyebutnya sebagai film kancrut. Karakter Mr. Sue, seakan memparodikan produser - produser film yang menangkap mentah-mentah selera pasar. Produser yang menangkap selera pasar akan film horror yang beda dengan menampilkan hantu seabsurd mungkin, atau produser yang menangkap selera pasar yang ingin film bagus dengan menampilkan film dengan masalah mendalam tak masuk akal. Parahnya lagi seabsurd dan sekancrut film yang dikeluarkan produser-produser ini, filmnya masih laku di pasaran, bahkan mengalahkan film-film yang dibuat serius. Di sini tanpa sadar, Raditya Dika seperti mengajak penonton Indonesia mentertawakan dirinya sendiri.
  
Film Cinta Brontosurus tidak hanya diisi idealism raditya dika, baik isi maupun cara komedi.film ini berusaha menggaet penonton ‘awam” dengan menghadirkan karakter Kosasi. Kosasih memiliki seorang pacar yang akhirnya dia nikahi bernama wanda (Tyas mirasih) Masalah timbul saat cinta kosasih ke wanda menjadi sebuah cinta buta. Gaya hidup boros sang istri membuat kosasih melupakan idealism bahkan berani menghianati sahabatnya sendiri. Sebenarnya masalah Kosasih ini akan dibuat “tutorial”-nya tersendiri di dalam film Raditya dika berjudul Cinta dalam kardus. Kehadirian kosasih memberikan guyonan slapstick komikal yang jadi menyeimbang guyonan segmented ala Woody allen (minus romantisnya) yang ditampilkan Raditya dika. Kehadiran Kosasi ini dimainkan baik oleh Soleh solihun, sayangnya karakternya tidak berjalan mulus. Sebagian berhasil sebagai penyegar, sebagian malah tampak terlihat mengganggu. Simak scene Kosasih yang harus memakai handuk karena celananya terbakar, atau simak saat Kosasih mengartikan kostum berbeda dengan memakai kostum Indian, scene scene itu lebih tampak mengganggu dari pada lucu.
  
Dibanding karakter Kosasi, Saya justru merasa lebih segar menikmati kehadiran Edgar, adik Raditya dika. Penampilan Edgar yang muncul disaat – saat tak terduga dengan masalah –masalah anehnya lebih bisa membuat penonton awam tertawa lepas, walau kadang adegan-adegan ini kurang tereksekusi dengan baik.
  

Akhirnya, Film ini seperti sangat Raditya dika, bahkan minus plus film ini tidak saya tujukan pada Fajar nugros sang sutradara ataupun para pemain, karena bagi saya (yang juga follower Raditya dika) seluruh elemen film ini seperti menggambarkan yang Raditya mau. Saya setuju komedi Raditya dika ini hadir segmented, khususnya untuk abg - abg followernya. Untuk penonton diluar segmennya film ini hadir nanggung, terlalu cheesy untuk penonton matang (baca ; tua) dan terlalu “berat” untuk anak-anak muda (non followernya). Tapi, saya melihat ada potensi besar yang dimiliki sang penulis, bahwa Indonesia tinggal menunggu waktu untuk punya seorang Woody Allen.

 Nilai : 3 dari nilai max. 5

Senin, 29 April 2013

“Pee Mak” – Contoh bagaimana seharusnya horor komedi dibuat

Poster film ini simple tapi menyampaikan keseluruhan film
Kemampuan filmmaker Thailand untuk membuat horror sudah tidak perlu diragukan lagi, Bahkan Hollywood sudah membuat remake film horror Thailand. Untuk genre drama – komedi sebenarnya film Thailand tak jauh beda dengan Indonesia, walau akhir-akhir ini mereka sudah mulai menunjukan tajinya seperti di film Bangkok love story, hello stranger, seven something, dll. Bagaimana jika mereka mengkolaborasikan horror – komedi ?, hasilnya = film Pee mak sebuah box office sepanjang masa!
 
Pee mak bercerita tentang seorang pemuda bernama Mak (Mario maurer) dengan 4 sahabatnya yang absurd dan super duper aneh bernama Ter, Aye, Puak dan Sin (please jangan nanya nama panjang mereka, apalagi nama asli…. Susah banget nulis & membacanya). Mereka berusaha menyelamatkan diri dari medan perang, untuk kembali ke rumah, Hingga mereka harus mengantarkan Mak ke istrinya bernama Mae Nak (Daveka hoorne). Rumah Mak ada di sebuah desa terpencil yang dijangkau oleh sebuah sungai. Memasuki desa ini, 5 pemuda ini mulai merasa ada yang aneh, dimana kondisi desa yang sunyi senyap bagaikan desa mati, dan penduduk yang mereka temui pun ketakutan luar biasa.
  
Akhirnya Mak bisa bertemu dengan Mae Nak, istrinya yang ternyata sudah melahirkan bayi laki-laki. Untuk sementara, sampai perang reda 4 sahabat Mak tinggal di seberang rumah Mak-Nak yang dipisahkan sebuah sungai. Cerita lalu bergulir saat 4 sahabat Mak menemukan alasan ketakutan penduduk desa adalah bahwa istri Mak & anaknya adalah seorang hantu!. Cinta Mak ke istri dan anaknya membuat 4 sahabat ini harus memutar otak untuk menyadarkan Mak siapa istri & anaknya sesungguhnya. Itupun mereka lakukan dengan cara kucing-kucingan menghindari Nak yang bisa membunuh mereka semua.
   
juga ada adegan pemuka agama mengusir hantu
Dasar absurd, upaya 4 sekawan sahabata Mak ini justru berujung pada pertanyaan siapa hantu yang sebenarnya dari mereka semua. Sebuah upaya pencarian & pengambilan solusi yang bodoh dan absurd ini menghasilkan perpaduan rasa horror yang mengocok perut. (sumpah lucu bgt!)
  
Film Pee mak adalah parodi film horror dari legenda setan Thailand Nang Nak (semacam kuntilanak/sundel bolongnya Indonesia). Awalnya komedi, cerita & horror film ini sulit saya katakan istimewa. Bukankah film Indonesia juga selalu membuat film horror yang dicampur komedi bodoh, lalu istimewanya film pee mak ada dimana? Biar penilaian saya berimbang, saya lalu mencoba studi banding dengan film horror-komedi terlaris Indonesia tahun lalu berjudul Nenek Gayung & Kakek cangkul, Hasilnya? ….OH MY GOD kualitas horror Indonesia telah jauh terbelakang.
   
Nenek gayung & Kakek cangkul
Produser horror Indonesia seperti hanya berorientasi “untung” dengan mencampurkan semua genre laris (horror – komedi- drama romantic) dengan resep “pokoknya”. Ya pokoknya setan harus keluar tiap 5 menit, pokoknya harus ada adegan konyol entah itu olok-olokan fisik yang sudah basi dan mentertawakan orang yang jatuh, pokoknya harus ada adegan romantis dengan seorang cewek berdada besar dan nanti harus ada adegan tragisnya entah harus berkorelasi atau tidak.
Hasilnya? Tiap lihat setan saya jadi tertawa terbahak-bahak, saya jadi ketakutan saat melihat adegan  orang menangis, dan ngeri tiap melihat adegan komedi. Adegan romantic? Saya jadi horni #eh… keputusan saya tepat tuk antipati duluan, setiap melihat ada film Indonesia bergenre tak fokus ini… Efek selepas menonton film Nenek gayung & Kakek cangkul, membuat film Pee Mak terasa istimew.
 
Dari segi horror, Pee mak menakuti dari suasana yang dibangun, mereka membangun setting desa (yang sebenarnya cukup sederhana), lengkap dengan pasar malam yang menambah kental suasana mencekam ala film sleepy hollow. Dengan setting seperti ini, sang hantu tak perlu susah –susah untuk berkeliling bawa tiker, gayung & cangkul, atau berdandan maksi dengan baju dengan isi tumpah ruah lalu berubah mengerikan (hehehehe you know what I mean) untuk menakuti penonton, hantu di film Pee Mak cukup menakuti dengan tatapan dingin
 
Dari segi komedi, walau masih berputar pada komedi bodoh dan slapstick, tetapi sang penulis dan sutradara bisa membuatnya tampil pas tanpa menurunkan kualitas cerita utama apalagi sampai menurunkan wibawa hantunya. Coba bandingkan dengan wibawa hantu nenek gayung memandikan korbannya … ups!.  
  
Mungkin kunci keberhasilan komedi film ini adalah mereka juga mentertawakan pola umum film horror, film komedi ataupun film pop lainnya. Simak saat mereka protes selalu ada petir menyambar saat mereka menemukan fakta baru, atau simak saat mereka mempertanyakan mengapa mereka tampil konyol atau simak saat mereka mempertanyakan mengapa saat Mak & Nak saling menyebut nama satu sama lain saat akan dipisahkan, atau simak permintaan Mak ke istrinya untuk tidak tampil menakutkan jika mereka tinggal bersama nanti, atau bagaimana mereka mengkritisi tak cocoknya film Hollywood untuk kehidupan keseharian mereka (cukup absurd tapi lucu, saat film bersetting jaman lampau, tetapi mereka bisa mentertawakan Tom cruise, 300, dll).
 
Mak & Mae Nak
Dari segi romantic & drama….  Kebodohan komedi & kengerian tak membuat drama di film ini rusak, walau chemistry 2 peran utamanya (Mario & Daveka) kurang terjalin. Setting horror desa tempat tinggal Mak & Nak, justru berubah menjadi suatu tempat romantis saat mereka berbicara masa depan mereka. Komedi absurd yang ditampilkan mereka ini tidak membuat mereka melupakan faktor “down to earth”. Scene perpisahan Mak & Mae Nak membuat penonton yang duduk dibangku sebelah saya sampai menangis tersedu-sedu (Ibu saya juga suka nangis kalo nonton sinetron).
  
Siapa orang dibalik layar film Pee mak ?  Ada Banjong shutitanakun yang duduk di kursi sutradara, dia menyutradarai film Shutter & Alone lalu ada rumah produksi GTH yang juga gudangnya penghasil film tak biasa seperti Ladda land & The countdown. Bagi yang sudah menikmati film-film itu, pasti setuju ini adalah sebuah kolaborasi dahsyat!
  
Note : Selama film akan ada pemandangan mengaggu, dimana seluruh pemain menghitamkan giginya. Itu adalah kebiasaan orang Thailand pedalaman yang mengunyah buah pinang. KONON kebiasaan ini dilakukan agar gigi mereka lebih kuat (seperti mengunyah daun sirih di Indonesia), sekaligus membedakan mereka dengan hantu yang katanya selalu bergigi putih, tapi hantu di film ini bergigi hitam juga ... hmm

Nilai : 2,5 dari nilai max 5

Jumat, 15 Juni 2012

Snow white di tahun 2012 (Review film Mirror mirror Vs. Snow shite & the huntsman


Poster edisi tahun1937
Mirror mirror on the wall, who is the fairest of them all …”. Siapa yang tak kenal quote ini ? Quote ini telah menjadi legenda yang melintasi batasan waktu dan kebudayaan. Ada yang tahu itu quote dari mana? Yap benar dari dongeng Snow white. Snow white (di Indonesia dikenal dengan Putri salju) adalah hasil karya Jacob & Wilhelm Grimn. kakak beradik (the borthers Grimm) asal Jerman di tahun 1800an. Orang-orang lebih tahu cerita snow white sebagai salah satu kartun karya Disney. 

Disney mengangkat cerita snow white dengan judul “Snow white and seven dwarf” di tahun 1937 sebagai film Animate feature (animasi layar lebar) pertama, sekaligus animasi pertama yang menggunakan warna. Film ini menjadi begitu melegenda dan masuk dalam salah satu daftar film terbaik sepanjang masa. Resep film Snow white masih menjadi patokan film hingga saat ini.

Snow white sendiri berkisah tentang seorang putri dari seorang raja, yang harus kehilangan ibunya saat masih bayi. Ayah Snow white lalu menikah lagi dengan seorang ratu yang sangat cantik. Tak berapa lama, sang raja meninggal dalam suatu pertempuran, dan sang ratu ini pun berkuasa. Sang ratu punya kebiasaan bertanya ke cermin ajaibnya “siapa wanita yang paling cantik ?”. Pada awalnya ratu inilah menjadi yang tercantik, hingga akhirnya snow white tumbuh menjadi remaja dan membuat cermin itu merubah pendapatnya.

Sang ratu merasa tersaingi, ia lalu menyuruh seorang pemburu (huntsman) dengan imbalan emas untuk membawa Snow white ke tengah hutan gelap (maksudnya dark forest) dan membunuhnya disana. Ternyata Huntsman itu tak tega membunuh sang putri, dia lalu meminta snow white kabur & tinggal di hutan itu, sedangkan dia pulang dengan membawa jantung babi sebagai bukti ke ratu dia telah membunuh snow white. Singkat cerita snow white malah jadi pengasuh 7 kurcaci di hutan gelap itu, dan melalui cermin ajaib sang ratu tahu Snow white masih hidup. Dengan menyamar sebagai seorang wanita tua, dia memberikan apel beracun yang bisa membuat Snow white mati suri. Hingga ciuman seorang pangeran membangunkannya.

Untuk seseorang yang sudah akrab dengan permainan logika film-film berat, Saya merasa aneh melihat inti cerita snow white. Cerita ini dipicu akibat seorang wanita yang terobsesi menjadi yang tercantik (bukan menjadi cantik loh). Terlebih di zaman emansipasi wanita cukup aneh melihat seorang wanita yang seharusnya powerful memilih menjadi pembantu untuk 7 orang kerdil sambil menunggu pertolongan pangeran tampan yang entah dari mana, dari pada merebut kekuasaannya kembali.  Mungkin dengan alasan yang sama, film makernya merasa perlu merombak jalan ceritanya saat ingin menghadirkan film ini kembali. Di tahun 2012 ini muncul 2 film yang meremake cerita Snow white dengan jadwal edar yang hampir bersamaan. Film pertama berjudul "Mirror-mirror" yang masih setia mengikuti genre asli snow white komedi keluarga, sedangkan film kedua berjudul "Snow white & The huntsman" menghadirkan sisi gelap sekaligus membuat cerita snow white menjadi rasa twilight, manakah yang lebih bagus ?.

Mirror mirror.
Membawa tag line menghadirkan cerita yang tak terkatakan (Experience the untold adventure), melambungkan ekspetasi saya film ini akan sekelas wicked, (versi untold stroy film the wizard of Oz). Ternyata saya salah besar, film ini nyaris tak mengubahnya pandangan saya terhadap cerita Snow white. Bukannya tag line omong kosong film mirror-mirror menghadirkan Snow white yang tidak tinggal diam menunggu datangnya pangeran, dia berjuang layaknya Robin hood bersama 7 kurcaci melawan Ratu jahat. Film ini juga memberikan twist dibagian mahluk buas penghuni dark forest adalah ayah snow white yang dikutuk Ratu. Cerita tentang apel pun hanya sambil lalu, tak jelas apakah snow white memakannya atau tidak, yang pasti Snow white membagi apel itu dengan sang ratu jahat. Efek apel beracun itu bukan membuat mati suri, tetapi membuat sang ratu “meleleh” & Snow white mendadak menari India. Tidak salah karena sang sutradara adalah Tarsem singh seorang India.
 Cermin ajaib disini, digambar sebuah cermin yang berada didalam dunia yang ada dalam cermin ajaib lainnya …artikan sendiri.
Film ini hadir sangat ringan, dengan bumbu-bumbu komedi yang bisa dinikmati keluarga. Tips dari saya : Untuk menikmati film mirror-mirror matikan semua logika anda, dimana saya selalu merasa aneh dengan runtutan tempat, waktu & kejadian di film ini. Saya yang menonton dengan mengabaikan logika masih harus mengernyitkan dahi melihat film ini. Beberapa teman saya suka dan tertawa lepas melihat film ini (entah mengapa).

Film Snow white versi Mirror-mirror menggambarkan ratu jahat tidak terobsesi dengan kecantikan, tetapi dengan kesenangan, digambarkan dengan rangkaian pesat & pemenuhan egonya. Dia menyingkirkan snow white karena dia menginginkan pangeran (dengan alasan uang) yang jatuh cinta pada Snow white. Cerita ini lebih masuk akal dibanding versi Disney, bahkan ide untuk jadi yang tercantik ditertawakan oleh sang cermin sendiri. Versi asli Snow white asal Jerman juga menceritakan bahwa sang Ratu ingin membunuh Snow white gara-gara ingin menikahi sang Pangeran. CMIIW.

Penampilan Julia Robert, bisa saya katakan dibawah rata-rata kemampuannya. Dia memang terlihat mati-matian menghidupkan karakter ratu antagonis yang komikal ala Mrs sue (Glee), tetapi entahlah humor yang disajikan tampak “kering”. Negatif lainnya adalah karakter snow white, Lily Collins hanya membawakan karakter yang stereotip. Untuk ini semua saya mencurigai skenarionya.

Snow white & the huntsman.
Snow white disini diceritakan lebih gelap, bahkan tidak cocok untuk anak-anak. (alasan kekerasan & adegan sexual). Sang ratu juga digambarkan tak terobsesi menjadi yang tercantik tetapi akan kemenangan/kekuasaan & keabadian. Dia “membunuh” wanita tercantik, untuk membuatnya tetap mudah, kuat & berkuasa, juga sebagai syarat mempertahankan ilmu sihirnya. Dia melakukan ini sebagai balas dendam atas yang terjadi pada orang tuanya. Penampilan kejam penuh luka di masa lalu ini dihadirkan dengan penuh karisma oleh si cantik Chralize theron, dan quotes legenda film snow white menjadi berbeda saat diucapkan Charlize theron.
Cermin ajaib di film ini bukan sebuah cermin tetapi sebuah wajan raksasa!. Saya masih  tak terima, saat cermin ajaib itu mengatakan kristen stewart (snow white) lebih cantik dari pada Charlize theron (ratu jahat). Pasti wajan itu rusak!.
Cerita Snow white disini hadir penuh intrik politik. Ratu yang mengkudeta sang Raja di malam pertama mereka menikah, dan Snow white berupaya merebut balik kekuasaanya melalui sebuah perang. Jika ceritanya seperti ini cerita  tentang apel, beracun pangeran & 7 kurcaci (disini ada 8 kurcaci, tapi 1 orang meninggal) menjadi tak penting Snow white (kristen stewart) punya sepasukan tentara berkuda yang siap menyerang sang Ratu dan menjadi puncak dari film ini. The huntsman (Chris hermsworth) disini tak hanya bersimpati pada snow white, tetapi juga turut berjuang melawan ratu, sekaligus menjadi seorang pangeran yang membangunkan Snow white dari mati suri.

Kristen stewart membawa karakter Snow white menjadi rasa Bella (Twilight). The Huntsman juga membawakan karakter Thor di film ini, kita bisa lihat dari cara dia memutar-mutar kapak sama dengan cara dia memutar mutar hammer milik Thor. Snow white jadi karakter minus besar pada film ini. Sama seperti film mirror mirror, lupakan logika mengenai urutan waktu, tempat & kejadian.

Akhirnya 2 film remake cerita Snow white ini saya beri nilai 1,5 dari nilai max 5.