Senin, 01 Desember 2014

7 hari/24 Jam; Ada Apa Dengan Wanita Karir?

Setelah kita disuguhi penampilan Dian satrowardoyo sebagai seorang penyanyi dangdut di film "3 doa 3 cinta" di tahun 2008, praktis kita kehilangan salah satu Indonesian sweetheart di layar lebar film Indonesia. Film itu menjadi film terakhir Dian sastrowardoyo sebelum akhirnya vakum dari layar lebar. Setelah vakum, Dian Sastrowardoyo makin mematahkan hati para pria pemujanya (termasuk saya) saat dia menikah pada tahun 2010. Di tengah kevakumannya dari layar lebar, penggemarnya tak berhenti bertanya seperti apakah seorang aktris cantik, pintar, dan penuh dedikasi saat menjadi seorang istri dan ibu? Bagi saya film 7 hari 24 jam menjawab pertanyaan itu.

Tania wulandari (Dian sastrowardoyo) adalah seorang wanita yang sukses menjalankan peran ganda (atau mungkin triple), sebagai seorang ibu, wanita karir dan juga "manager" bagi suaminya. Disini kita disuguhi potret wanita karir yang akrab kita temui di kota besar. Setiap pagi, Tania sudah bergelut untuk menyiapkan kebutuhan putri semata wayangnya Danyang untuk pergi ke sekolah, lalu bergelut dengan berbagai proyek besar di kantor, sambil memastikan sang suami baik-baik saja. Selepas dari kantor, dia kembali menjadi seorang ibu yang membacakan dongeng untuk sang anak sembari mengingatkan sang suami untuk tak terlalu keras dalam bekerja. Untung ibu Tania (Minanti atmanegara) tinggal bersama mereka, dan turut  membantu mengurus Danyang serta memasakkan makanan favorit sang suami.

Suami Tania, Prasetyo (Lukman sardi) adalah seorang sutradara handal, yang sedang sibuk syuting film terbarunya. Sikapnya yang keras kepala, idealis dan berharap semua scene berjalan sempurna menjadikan proses syuting berjalan lebih panjang dari yang direncanakan. Prasetyo pun rela menginap di tempat syuting demi agar filmnya sesuai dengan apa yang diinginkan dan bisa selesai tepat waktu. Hingga, Prasetyo pun jatuh pingsan di lokasi syuting.
 
Kesibukan Tania pun berlipat-lipat, di saat harus menyelesaikan satu proposal proyek penting yang akan melambungkan karirnya, dia juga harus merawat sang suami di rumah sakit. Tak hayal, keadaan ini pun membuat Tania juga harus dirawat di rumah sakit, satu kamar dengan suaminya.


Dalam perawatan dr. Hengky (Hengky Solaiman) dan dr. Verdi (Verdi Solaiman), Prasetyo dan Tania diperintahkan untuk beristirahat total dan tak boleh bekerja. Hal mudah ini tentu saja menjadi hal yang sulit untuk dijalankan 2 pasangan workaholic ini. Prasetyo memintah 2 asisstennya untuk melaporkan setiap scene yang mereka ambil, sedangkan Tania tak begitu saja melepaskan kesempatan peningkatan karirnya melalui proyek yang ia kerjakan dan juga pekerjaannya sebagai seorang istri yang memastikan suaminya beristirahat total dan tak bekerja selama dalam perawatan. Lalu konflikpun timbul

Film 7 hari 24 Jam punya premis yang sangat potensial untuk digali lebih mendalam. Film ini punya sumber konflik dari diri Tania yang mati-matian menyeimbangkan perannya sebagai wanita karir yang memegang peranan sentral dalam proyek, sebagai seorang istri yang memastikan sang suami untuk bisa beristirahat total, sekaligus seorang ibu yang tak bisa hadir dalam kehidupan sang anak. Tapi film 7 hari 24 jam memilih hadir lebih ringan, dengan menghadirkan konflik dengan amat sederhana. Kita hanya melihat Tania berbicara klise dalam mengarahkan timnya untuk menyelesaikan proyek. Tania melarang suaminya bekerja sambil dirinya sendiri bekerja, membuat larangan Tania terkesan sebuah penyataan basa-basi. Konflik sang ibu-anak hanya dihadirkan saat Danyang yang "ngambek" dan bertanya kepada Tuhan "mengapa Ibunya tidak pulang", itupun diselesaikan dengan pernyataan Ibu Tania "nanti dia akan baik sendiri"
  
Film 7 hari 24 jam lebih memilih untuk menjadi seperti halnya film Before surise/before sunset, yang membangun cerita melalui obrolan Tania dan Prasetyo tentang definisi cinta dan arti pernikahannya selama 5 tahun. Di sini, Kita diajak melihat masalah seorang suami kebanyakan, dimana Prasetyo bangga punya istri yang bisa mendukung karirnya tapi dia kesulitan menunjukkan dukungan kepada karir istrinya. Alih-alih menunjukkan dukungan untuk karir sang istri, Prasetyo justru "cemburu" dengan karir sang istri yang lebih cerah. 
  
Ide membangun cerita melalui obrolan ringan suami istri dalam satu ruangan di rumah sakit hampir menjadi bumerang bagi film ini. Kita belum punya penulis sebrilian Richard Linklater yang bisa mempertahankan kesegaran cerita dengan ruangan yang sangat terbatas. Sebagai penyelamat kesegaran film 7 hari 24 jam menghadirkan komedi-komedi slapstik seperti hubungan unik dr Hengky dan dr. Verdi, HAV yang diplesetkan menjadi HIV, tingkah seorang ustadz yang salah kamar, pria pengharum ruangan, atau bagaimana Prasetyo yang harus kucing-kucingan untuk bisa meeting dengan 2 assistennya (Indra birowo dan Husein Idol). Saya mengakui kehandalan sang sutradara Fajar nugros dalam mempresentasikan komedi penyegar cerita, akan tetapi hadirnya adegan-adegan slapstik ini mengurangi fokus dari isu yang paling menarik dari film ini.
  
Terus terang, Dian satrowardoyo adalah faktor utama (dan mungkin banyak penonton lain) saya untuk datang ke bioskop. Film ini jadi ajang come back Dian ke layar lebar setelah vakum 6 tahun lamanya. Alasan saya tak salah, Dian sastrowardoyo sukses menjadi kekuatan film ini, ia tak kehilangan daya pikatnya dalam berakting didepan kamera. Kita disuguhi bagaimana seorang wanita cantik, pintar dan penuh dedikasi menjalankan perannya sebagai seorang ibu, istri, dan wanita karir. Kita melihat bagaimana gigihnya Tania memenuhi semua tuntutan kepadanya, dia memastikan hasil kerjanya memuaskan bosnya, memastikan sang anak mendapat dongeng sebelum tidur, sekaligus bagaimana dia berupaya untuk menjaga komunikasi dengan sang suami yang sama-sama super sibuk, tak peduli itu akan menguras tenaga dan kesehatannya. Karakter Tania seakan menjadi jawaban akan penggemar yang penasaran akan kehidupan pribadi Dian satrowardoyo saat menjadi istri dan ibu. Karakter Tania yang cantik, tapi tak pernah ragu untuk tidak tampil cantik juga lebih mendekati karakter Cinta (Ada apa dengan cinta, 2002) setelah 12 tahun berlalu dibanding reuni Ada apa dengan cinta yang dihadirkan Line. Yang paling membuat saya terkesan dengan karakter Tania adalah dia dihadirkan untuk mengetuk hati ditengah dominasi pria yang menuntut peran total istri untuk mendukung suami dan mengurus keluarga.
 
Score : 3/5

Jumat, 21 November 2014

Mockingjay Part 1; Pengantar Tak Penting Dari Seri Terakhir Film Hunger Games

Dari review film the hunger games yang pertama dan sekuelnya, catching fire, anda akan tahu saya Mockingjay adalah film yang saya tunggu-tunggu. Spirit memberontak, isu ketidakadilan serta penampilan Jenifer lawrence membuat saya jatuh cinta pada film ini. 

Setelah Katniss everdeen (Jennifer lawrence) diselamatkan dari arena the hunger games yang telah ia porak porandakan, dia dilarikan ke distrik 13. Aksi Katniss berani di arena The Hunger Games ke-75 telah memicu banyak distrik untuk melakukan pemberontakan, khususnya di distrik 12 tempat tinggal Katniss. Pemerintah Pusat Panem tak tinggal diam, mereka menurunkan pasukan untuk memborbardir daerah-daerah pemberontak. Distrik 12 hancur lebur, ratusan ribu orang tewas di jalan. Beruntung ibu Katniss, adiknya Prim telah diselamatkan kekasih Katniss, Gale (Liam hemsworth) yang selanjutnya berkumpul bersama Katniss dalam bunker bawah tanah di distrik 13.
 
Di bawah bunker, Katniss mendapat tawaran oleh President pemberontak Alma coint (Julianne moore) untuk bergabung bersama mereka. President Alma coint merasa sosok Katniss adalah sosok yang tepat sebagai maskot pemberontak Mockingjay yang akan menyatukan banyak kelom[pok pemberontak dari berbagai distrik untuk berjuang bersama membebaskan diri dari pemerintah tirani Panem. Melihat kekejaman pasukan pemerintah pusat Panem dan juga janji President Alma coint untuk membebaskan Peeta (Josh hutcherson) dan sang juara lain yang ditawan Presiden Snow (Donald sutherland) di ibu kota,  Katnis setuju untuk menjadi sang Mockingjay.

Lalu tim sukses distrik 12 di ajang Hunger games pun beralih fungsi, mereka membuat propaganda dengan Katniss sebagai simbol untuk mengobarkan aksi-aksi pemberontakan di seluruh negeri Panem. 

Score : 2,5/5

Sabtu, 12 Juli 2014

How To Train Your Dragon 2; Episode Baru Si Penakluk Naga

Bagi saya sebenarnya film "How To Train Your Dragon" adalah bukan film yang spesial, bahkan saya sedikit terkejut, ketika film ini masuk nominasi "Best Animated features" Oscar 2011. Film ini tampil sederhana, tak berusaha untuk menjadi kompleks, tapi memang menghibur. Lalu ketika film ini laris dari segi finansial, project sekuel pun digulirkan. Dengan cerita awal yang menurut saya punya ruang terbatas,maka sekuel film ini akan hadir mengada-ada untuk bisa melanjutkan cerita atau harus tampil "lebih" dari sekedar film anak-anak. Rupanya How to train your dragon mengambil pilihan kedua.

Film "How To Train Your Dragon 2" mengambil setting waktu 5 tahun setelah film pertama. anak-anak Bangsa Viking di Desa Berk di film pertama telah tumbuh menjadi remaja. Tokoh utama dari film pertama sudah menjadi seorang remaja, Hiccup (Jay baruchel) yang melanjutkan kisah asmaranya bersama Astrid.

Desa Berk berubah, dari masyarakat pemburu naga menjadi "pawang naga". Film dibuka dengan mengajak kita para penonton untuk menikmati asyiknya terbang dengan berbagai manuver dalam permainan mengumpulkan domba-domba yang ditangkap dari naga -sekilas mengingatkan kita akan permainan quidditch dari film Harry Potter-. 

Ketika anda bisa mengendarai naga, dunia menjadi sangat tak terbatas, dan di saat dunia menjadi tak terbatas akankah kita hanya berdiam di satu tempat?  Tetapi ketika dunia menjadi sangat tak terbatas, kita makin punya banyak pilihan dalam hidup, dan semakin banyak pilihan dalam hidup, semakin kita merasa tak tahu apa yang kita mau. Itulah yang dirasakan Hiccup, alih-alih untuk menjelajahi daerah-daerah baru bersama Toothless naganya, Hiccup sebenarnya lari dari konflik dengan sang ayah, Stoick (Gerard butler) yang menginginkan putra semata wayangnya mulai belajar memimpin desanya.

Dalam petualangannya menjelajah daerah baru, Hiccup berjumpa dengan seorang pemburu naga bernama Eret (Kit harington). Dia dan kawanan bajak lautnya bertugas mengumpulkan naga untuk diserahkan ke master naga bernama Drago bludvist (Djimon Honsou) yang punya cita-cita menaklukan seluruh naga di dunia. Hiccup memberikan peringatan ke penduduk Desa Berk, lagi-lagi dia berkonflik dengan sang Ayah. Hiccup berkeinginan untuk berhadapan langsung dengan Drago, sedangkan sang Ayah memberikan perintah untuk bersembunyi.

Kalimat pertama Stoick saat bertemu istrinya
Lalu Hiccup (kemudian diikuti teman-temannya) berupaya mencari Drago sendiri. Di tengah perjalanan dia berjumpa seorang master naga lainnya bernama Valka (Cate blanchet) yang merupakan ibu kandung Hiccup yang mereka sangka telah meninggal. Valka merupakan penjaga seekor Naga Alpha, raja dari raja naga berukuran raksasa yang bisa mempengaruhi naga-naga lainnya dan menyemburkan es bukan api.

Lalu pertemuan kembali keluarga kecil Valka-Stoick-Hiccup terjadi di tengah pertempuran dahsyat 2 naga Alpha milik Valka dan Drago.

How to train your dragon 2 tampil mengejutkan, film ini masih tampil mengasyikkan ala seri pertamanya dengan pengembangan cerita lebih dewasa. Film ini salah satu dari sedikit sekuel yang mampu mengembangkan diri dari ide cerita awalnya. Konflik ayah-anak antara Hiccup-Stoick tersaji rapi dan lebih dewasa dibanding film awalnya, lalu masuknya karakter si ibu, Valka menyempurnakannya. Keasyikan dari film pertamanya hadir lebih berlipat-lipat. How to train your dragon 2 mampu memenuhi fantasi kita untuk merasakan serunya terbang bersama naga. Hubungan antara anak-anak desa Berk pun juga makin terasa lebih mengingit komedinya. Dengan berbagai modal ini, sepertinya How to train your dragon 2, tak kesulitan untuk melengang lagi ke nominasi best animated features oscar 2015.

Terakhir, Jangan lewatkan untuk menyaksikan film ini dalam bentuk 3D apalagi dalam versi 4DX

Nilai 3.5/5

Rabu, 02 Juli 2014

Selamat Pagi Malam; Mentertawakan Kehidupan Jakartans

Kita sudah menikmati sekilas seksinya malam Kota Jakarta melalui film Jakarta undercover. Kita juga pernah menikmati keheningan malam jalanan Kota Jakarta yang eksotik melalui film Lovely Man.  Kali ini kehidupan malam Kota Jakarta kembali dihadirkan  melalui film yang ditulis, disutradarai, dan diedit oleh Lucky Kuswandi berjudul Selamat Pagi Malam. Lucky menceritakan keunikan kehidupan malam Jakarta dari perjalanan 3 wanita, yaitu : Gia (Adini wirasti), Indri (Ina pangabean) dan Ci surya (Dayu wijanto), yang dihadirkan secara paralel walau tidak berhubungan secara langsung. 
  
Gia dan Naomi
Gia, wanita independen berusia 32 tahun. Dia memutuskan meninggalkan New York untuk kembali ke Jakarta. Di awal kepindahannya, Gia mengalami shock culture saat berhadapan dengan keluarganya, dengan pertanyaan umum “Kapan kawin?”, nyinyiran gaya hidup single Gia, dan banyak lainnya walau sebenarnya si komentator tidak benar-benar peduli dengan orang yang dikomentarinya. 
  
Sebenarnya alasan utama Gia pulang demi agar bisa bertemu dengan seseorang yang dicintainya, Naomi (Marissa anita). Sayangnya Gia menemukan Naomi yang berbeda dari yang ia kenal di New York. Naomi sekarang adalah Naomi penduduk Jakarta yang merasa perlu punya telepon genggam lebih dari satu, yang merasa harus bergaul dengan orang-orang narsis yang sibuk dengan gadgednya walau duduk bertatap muka, yang memilih untuk menggunakan mobil pribadi dari pada berjalan di trotoar untuk melewati malam (karena memang Jakarta tidak memilikinya). Hingga Gia pun mengajak Naomi untuk menikmati malam Jakarta layaknya kota New York dengan menyusuri gang-gang kecil dengan berjalan kaki dan mencoba menggali memori mereka bedua.
  
Indri
Indri, adalah seorang petugas fitness center yang terpukau akan glamournya kehidupan warga kelas menengah Jakarta. Indri adalah gambaran dari jutaan orang Jakarta yang rela melakukan apapun demi agar bisa memiliki gaya hidup yang mengikuti trend. Indri berencana untuk menghabiskan malam ulang tahunnya seperti layaknya warga kelas menengah Jakarta. Dia mencuri sepatu, membeli tas belanja (walau kosong), makan di tempat mewah, dan menutupnya dengan berkencan dengan pria berbadan sempurna yang baru dia kenal dari chat online. 

Sayangnya indri tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Di saat terakhir malam ulang tahunnya berakhir, Jalanan Jakarta membuatnya menemui pria yang bisa membuatnya untuk menjadi diri sendiri.
  
Ci Surya, adalah seorang wanita pengusaha, Dia merasa kesepian saat sang suami meninggal dunia. Kesepian Ci Surya berubah menjadi kegalauan saat dia menemukan nama wanita, dengan nomor telepon di salah satu baju mendiang suaminya. Ci Surya memutuskan untuk mencari tahu siapa Sofia (Dira Sugandi), nama wanita yang tertulis di dalam baju suaminya. Hasil pencariannya membuatnya harus mencicipi kehidupan klab malam kelas bawah. Tak hanya bisa bertemu Sofia, Ci Surya mengetahui bahwa suami Sofia adalah seorang gigolo. Hal ini membuat Ci Surya mendapat ide untuk melakukan balas dendam atas yang pernah mendiang suaminya lakukan.
  
Lalu kisah perjalanan Gia, Indri, dan Ci Surya malam itu berakhir di sebuah hotel kelas melati bernama lone star. Sebuah hotel yang dikamarnya dilengkapi kitab suci tetapi disewakan short time untuk para tamu untuk melepaskan nafsu birahinya. Di hotel itu ketiga wanita itu melepaskan cinta, hasrat, dan dendam yang menyelimuti mereka.
  
Lucky kuswandi menghadirkan realita keseharian orang Jakarta dan menamparnya dengan indah. Simak saat Tante Gia (Mak gondut) menceramai Gia dengan berbagai nasehat lalu beberapa menit kemudian, dia tenggelam dengan gadgednya. Simak pula bagaimana rekan Indri rela menjadi gigolo demi bisa memiliki gaya hidup orang kelas menengah, atau bagaimana teman keAgamaan Ci Surya yang membawa Agama laksana sebuah ritual belaka, atau bagaimana sebuah Negara religius bisa menjadi Negara dengan korupsi tertinggi. Semua kritik hadir indah, tajam, nakal dan manis yang membuat kita yang terkena kritik tersenyum hingga tergelak. Yang unik, kritik-kritik ini hadir dari seseorang yang seharusnya mendapat cap pendosa menurut masyarakat kita sehingga membuat kritik hadir tanpa ada kesan menghakimi.
   
Film selamat pagi malam hadir dengan gambar-gambar wajah Jakarta yang romantis, syahdu. Ending film ini makin menguatkan karakternya melalui suara powerful Dira Sugandi yang menyanyikan lagu pergi untuk kembali

Nilai 3/5

Minggu, 08 Juni 2014

Maleficent; Sisi Lain Dongeng Putri Tidur

Pada dasarnya kita semua itu terlahir sebagai orang baik. Saat lingkungan merubah kita menjadi seuatu yang jahat, akan ada sisi baik yang akan masih tertinggal dari diri kita tuk membawa kita kembali menjadi orang baik. Ini bukan sebuah khotbah, Saya hanya mengingatkan sebuah pola yang dilupakan dongeng masa kecil kita. Coba ingat kembali hampir semua dongeng (bahkan banyak film sampai saat ini) menghadirkan suatu tokoh dengan sifat karakter hitam-putih. Sang protagonis digambarkan manusia yang sangat baik tanpa cela bak malaikat, dan sang tokoh antagonis digambarkan sangat jahat bak iblis.

Saya adalah salah satu penggemar "Wicked" yang menghadirkan sisi lain dari cerita film "The Wizard of Oz". Di "Wicked" mereka menceritakan kembali bahwa sang penyihir jahat yang diceritakan film "The Wizard of Oz" adalah korban judgement masyarakat hanya karena dia tampak berbeda, dan dimana tokoh sang penyihir baik adalah seorang baik yang sangat naif. Lalu ketika saya mendengar project disney untuk membuat The untold story dongeng "Sleeping beauty" (1959) dengan menceritakan sisi lain sang penyihir jahat, saya sudah berfikir akan mendapat sensasi yang sama seperti saat saya menyaksikan "Wicked". Di "Sleeping beauty" kita tahu seorang penyihir jahat yang memberikan kutukan ke seorang putri cantik tak berdosa hanya karena dia tidak diundang di sebuah pesta kerajaan.... tapi Maleficient meluruskan kisah ini.

Maleficent (Angelina Jolie) adalah seorang peri dari dunia yang indah dan misterius bernama Moors. Dunia Moors dihuni oleh mahkluk-mahkluk unik dengan berbagai keajaibannya. Walau punya banyak mahkluk unik yang beragam, dikisahkan kehidupan antar mahkluk di dunia Moors sangat damai. Kuncinya : mahkluk-mahkluk ini hidup saling percaya (sindiran untuk para penentang prularisme) hingga mereka tidak memerlukan seorang raja untuk mengatur kehidupan mereka. Masalahnya, dunia mereka berbatasan langsung dengan kerajaan manusia. Sang raja King henry (Kenneth cranham) sangat berambisi menyerang dan menguasai dunia Moors, tetapi kesaktian mahkluk Moors dibawah komando Maleficent yang sakti, dengan sayapnya yang kuat bisa mematahkan serangan pasukan raja.

Lain cerita, Maleficent kecil (Elle purnel) bersahabat dengan seorang bocah laki-laki yatim piatu bernama Stefan. Saat mereka dewasa hubungan mereka pun berlanjut menjadi suatu hubungan yang spesial. Maleficent merasa Stefan adalah cinta sejatinya saat dia mendapatkan ciuman pertamanya dari Stefan. Lalu ambisi Stefan (Sharlto copley) untuk menjadi raja merusak segalanya. Stefan memotong sayap Maleficent untuk memenuhi syarat menjadi penerus tahta King Henry.

Tak hanya menjadi raja, Stefan menikahi Leila (Hannah new) putri raja. Hal ini membuat Maleficent marah besar dan membangkitkan sisi jahat di dalam dirinya. Sebagai pengganti sayap, Maleficent yang tidak bisa terbang mengangkat seorang gagak (Sam riley) untuk menjadi mata-matanya di kerajaan Stefan. Hidup Maleficent berubah, dia mengisi hidupnya untuk balas dendam. Maleficent lalu membuat kerajaan di dunia Moors dan mengangkat dirinya sebagai Raja. Rencana balas dendamnya dimulai saat dia mendatangi pesta pembastisan putri pertama King Stefan.

Di bagian ini tentunya para penggemar dongeng putri tidur sudah sangat akrab, Maleficent mengutuk sang putri Aurora untuk tertidur saat dia berumur 16 tahun dan baru bangun setelah mendapat ciuman dari cinta sejatinya. Sebuah syarat yang diyakini Maleficent tidak ada. Alih-alih menyelamatkan putrinya, Sang raja justru memperkuat pasukannya untuk bisa menyerang kerajaan Moors. Sedangkan sang putri Aurora di serahkan kepada ketiga peri dari Moors Knotgras (Imelda stauton), Thistlewit (Juno Temple), dan Flittle (Lesley Manville) yang menyembunyikan Aurora di sebuah hutan. Dari sini cerita berkembang menjadi aneh.
Princess Aurora : I know you're there. Don't be afraid.
Maleficent : I'm not afraid.
Princess Aurora : Then come out.
Maleficent : Then you'll be afraid.
Maleficent pun menghabiskan 15 tahun hidupnya untuk memantau kehidupan Aurora. Sayangnya (atau untungnya) ketidak kompetenan ketiga peri penjaga Aurora dalam mengurus anak, membuat Maleficent berkali-kali harus menyelamatkan Aurora kecil. Lambat laun Maleficent bagai peri pelindung bagi Aurora, dan dendam Maleficent ke Aurora (Elle fanning) pun luluh. Maleficent melindungi Aurora seperti seorang ibu yang melindungi anaknya sendiri. Sayangnya dia tidak mampu mematahkan kutukannya, hingga hari kutukan itu tiba... Sebuah twist ending yang seharusnya bisa lebih segar disampaikan tanpa naga, bahkan saya merasa tidak perlu menceritakan sang pangeran dalam dongeng itu

Film Maleficent punya premis yang sempurna, mereka berhasil membuat sudut pandang yang membuat kita berpandangan berbeda terhadap kisah klasik "Sleeping Beauty". Angelina Jolie juga patut diacungi jempol dalam menghidupkan karakter Maleficent. Dia berhasil membawakan karakter yang misterius, dingin, terlihat tangguh dan bengis tapi punya hati lembut yang kemudian rapuh karena sebuah pengkhianatan cinta. Walau punya 2 komponen (Premis & Jolie) yang bagus Film "Maleficent" gagal mengembangkan kekuatannya.

Film ini seharusnya bisa lebih fokus lagi menghadirkan transformasi Maleficent dari seorang periang menjadi seseorang yang penuh dendam, kemudian kembali menemukan dirinya yang dulu saat Aurora hadir. Jika berhasil, sangat mungkin Jolie melenggang ke pertarungan "best actress" tahun depan. Alih-alih menggali kekuatan akting Jolie, film ini sibuk bercerita banyak hal yang tak penting, dan skenario yang ditulis Linda Woolverton pun makin menguatkan ketidakkonsistenan alur cerita di film ini. 

Sang Sutradara Robert Stomberg pun terlihat tak begitu kreatif, banyak scene yang tampak megah saat diceritakan tapi terlihat biasa saja di film ini. Ketiga peri yang seharusnya jadi penyegar, menjadi suatu hal yang mengganggu. Keindahan dunia Moors yang misterius pun hadir hanya sebagai kata-kata, tak tampak lagi kejaiban dunia gelap yang dihadirkan Stomberg di film Alice in wonderland atau "Oz; The great and powerful".

Selain Premis dan Jolie, Score music yang dihadirkan James Newton howard menjadi "faktor penyelamat" film ini. James berhasil menghadirkan nuansa gelap dan magis di film ini dari musiknya. Nilai positif ditambah saat Lana del ray sukses menghadirkan kembali soundtrack film sleeping beauty "Once upon a dream" menjadi lebih gelap.

Nilai : 2.5/5