Jumat, 08 Maret 2013

Review film animasi terbaik 2012; Brave Vs. Wreck-it ralph

Brave Vs. Wreck-it Ralph
Jika anda follower akun twitter saya @teguhsano, anda mungkin pernah membaca kekesalan saya menutup tahun 2012 dengan melewatkan 2 film animasi terbaik, 1 produksi Pixar (Brave), dan 1 yang lain, produksi Walt Disney (Wreck-it Ralph) Walau Pixar sudah dibeli oleh Walt Disney di tahun 2006 lalu, masih banyak orang (termasuk saya) yang masih membandingkan film animasi produksi 2 studio besar itu (oh ya 1). 
 
Walt Disney, sudah dikenal lama sebagai penghasil film animasi terbaik, baik segi kualitas maupun box office. Film Disney selalu tampil sederhana, tapi penuh “keajaiban” khas Disney simak The Lion king, Beauty and the beast, Bambi, Snow white, Cinderella, dan lain-lain. Sayangnya, seiring dengan makin “menuanya” saya (halah…), saya merasa ada kejenuhan dalam cerita dan karakter. Disney selalu membuat karakter hitam putih yang mudah tertebak, peran protagonis yang terlalu baik, dan antagonis yang selalu buruk. Karakter Disney ini kerap kali menjadi plesetan/olok-olok banyak film (dan olok-olok terbaik ada di film Shrek).  
   
Di tengah kelesuan film animasi Disney, Pixar dengan animasi CGI mulai bersiap merebut pasar. Film animasi pixar selalu sukses menghadirkan “keajaiban” dalam cerita yang berbeda dari yang Disney sampaikan. Simak bagaimana kita bisa ikut sedih melihat 2 kisah cinta robot tanpa dialog, atau bagaimana para orang dewasa dan anak-anak bisa bersama-sama menikmati petualangan ikan badut melintas samudera, kakek tua dengan rumah terbangnya, kisah kehidupan para mainan & mobil, atau simak bagaimana bisa mereka sukses meramu cerita seekor tikus yang menjadi koki handal? Apa namanya jika bukan keajaiban?. Tahun 2012 lalu, 2 produser film animasi ini mengeluarkan 2 film animasi terbaiknya, dan berikut reviewnya :
  
Brave
Bercerita tentang putri seorang raja skotlandia King Fergus of Clan Dunbroch (Billy conoly) bernama Merida (Kelly Mc Donald). Alih-alih tampil anggun bak seorang putri kerajaan dari negeri dongeng, Merida tumbuh menjadi wanita bebas, yang tak mau terikat aturan. Dia lebih jago memanah, berkuda, dan kemampuan kesatria lainnya. Karuan tingkah Merida membuat sang ibu, Quenn Elinor (Emma Thompson) berang, dia sibuk memperbaik attitude purtinya.
  
Witch (brave)  Vs Yababa (Spirited away)
Masalah mulai timbul saat Merida, sebagai putri kerajaan harus menikahi salah satu dari pangeran dari negeri sekutu mereka. Merinda menolak untuk segera menikah apalagi dijodohkan, tetapi paksaan Quenn Elinor membuat Merida tak punya pilihan lain. Merasa frustasi tak punya pilihan, Merida lari ke hutan dan secara tak sengaja dia bertemu seorang penyihir (Julie walters). Kepada penyihir dia meminta sebuah ramuan yang bisa mengubah karakter ibunya. Sayangnya penyihir (yang mengingatkan saya pada karakter Yababa di film Spirited away ) ini malah memberikan cake dengan jampi-jampi yang salah. Quenn elinor justru berubah menjadi beruang raksasa setelah makan cake dari penyihir aneh itu.
 
Melihat ada beruang besar di dalam istananya, membuat King Fergus dan raja-raja negara sekutunya yang waktu itu berkumpul mengejarnya. King Fergus tak tahu beruang besar dalam istananya adalah jelmaan istrinya, dia mengira beruang itu adalah Mor'du, beruang raksasa bernama Mor’du yang menyerang & mamakan lengan King fergus .
  
Aksi King Fergus ini,membuat Merida pontang panting menyembunyikan & menyelamatkan si beruang jelmaan ibunya, sekaligus memikirkan cara mematahkan jampi-jampi dari penyihir (apa ya bahasa indonesianya “magic spell” ?). Mereka terpaksa lari & bersembunyi di hutan bahkan bertemu beruang raksasa Mor'du yang ternyata punya cerita yang sama dengan Merida & ibunya. Ditengah usahanya ini, Merida justru menemukan sisi lain ibunya, begitu juga sebaliknya, sehingga…*bisa ditebak!
  
Film yang ini disutradarai dan ditulis oleh Mark Andrews, dan Brenda chapman, menghadirkan sebuah kisah klasik yang merupakan “area walt Disney” Film ini mencoba menghadirkan sisi lain hubungan ibu-anak yang jatuhnya malah seperti Film Disney kebanyakan. Hubungan Miranda – Ibunya masih kalah frontal bila dibandingakan hubungan Abigail breslin-Cameron diaz di film My sister’s keeper. Hubungan mereka juga kalah menyentuh dari Merryl streep – Amanda seyriend di film Mammamia! (bukan hafal tetapi film-film ini memang lebih berkesan).

Saya tidak mengatakan Brave jelek, tetapi untuk ukuran film pixar film ini tergolong "pas-pasan". Saya tidak menemukan keasyikan, keoriginalan dan keajaiban khas Pixar seperti yang saya temui di Wall E, Up, Toy story, Finding nemo, dll. 
Nilai : 3 dari nilai max 5
    
Wreck-it ralph
Sugar rush - Wreck-it Ralph - Hero's duty
Film ini merupakan debut perdana sutradara Rich more, dan juga debut perdana penulis scenario Phill jhonston & Jenifer lee. Bercerita tentang "kehidupan" dalam sebuah video games

Fix-it Felix adalah nama video games lawas, tentang upaya seorang bocah bernama felix dengan palu ajaibnya beradu cepat membenahi semua kerusakan yang dibuat Ralph (John C reilly). Ralp adalah seorang pria dengan tangan besar yang punya hobi menghancurkan bangunan. Di balik itu, para “actor” video games ternyata punya kehidupan. Walau semua peran dalam video games didasarkan atas program, tetapi Ralph masih ditempatkan dalam label antagonis dalam "dunia nyatanya". Hal ini menjadikan ia dikucilkan, kontribusinya tak dianggap, bahkan tidak diundang dalam perayaan 30 tahun games dia sendiri. Masyarakat membencinya hanya karena sebuah label! (merasa senasib?).
   
Menolak menyerah pada label, Ralph berusaha membuat suatu “prestasi” dengan memenangkan sebuah medali. Ralph kemudian meninggalkan mesin games Fix-it Felix, dan masuk ke video games baru yang lebih modern bernama Hero’s duty. Walau dia agak shock dengan kekerasan dalam video games itu, akhirnya dia berhasil mendapatkan sebuah medali.
    
Sayangnya tingkah Ralph memenangkan medali justru menimbulkan kekacauan. Hilangnya Ralph dalam mesin video games Fix-it Felix, membuat mesin video games ini dianggap rusak dan akan dipensiunkan. Bukan itu saja, Ralph justru terdampar di games kart-racing bernama sugar rush bersama sebuah cy-bug “serangga mutan” yang ternyata bisa menjadi virus yang merusak video games sugar rush.
   
Sugar rush  adalah sebuah games balap mobil di negeri permen, di sana ia berjumpa Vanellope von Schweetz (Sarah silverman) yang mencuri medali Ralph. Vanellope sebenarnya karakter utama dalam video games Sugar rush, tetapi dia adalah program rusak, sehingga harus disingkirkan. Vanellope mencuri medali Ralph, hanya untuk bisa kembali jadi pembalap di video gamesnya sendiri. Lalu jadilah duet Ralph - Vanellope, menjadi sebuah kisah perjuangan para tokoh menghapus label yang diberikan masyarakat. 
  
Felix (Jack McBrayer) & seorang komandan wanita dari games hero’s duty bernama Calhoun (Jena lynch) pun menyusul Ralph ke dunia sugar rush. Felix punya misi membawa kembali Ralph ke dunia Fix-it Felix, sementara Calhoun berupaya menemukan Cy-bug sebelum dia berkembang biak dan menghacurkan dunia video games Sugar rush. 
     
Saya selalu jatuh cinta dengan film yang menampilkan karakter yang menentang label yang diberikan masyarakat. Ralph dibenci hanya karena dia memainkan peran antagonis, dia berusaha membuktikan bahwa dirinya masih layak untuk dicintai. Ralph tidak sendiri, ada karakter Venellope yang berjuang lepas dari label “rusak” yang ternyata diberikan oleh orang yang pemimpin yang sebenarnya lebih busuk. Ada banyak karakter menarik di film ini dan rasanya berkorelasi pada label-label negatif yang bertaburan di ...…*ok fokus ke film Wreck-it Ralph .
   
Best scene : Sesi curhat para tokoh antagonis video games
Terlihat jelas beberapa tahun terakhir ini, Disney berusaha keras keluar dari jebakan karakter, simak Lilo & stitch, yang punya karakter utama seorang mahkluk yang menyebalkan, The pricess and the frog yang menampilkan bahwa semua orang berhak menjadi “putri”, dengan menampilkan putri berkulit hitam pertama sebagai tokoh utama, atau simak Tangled yang menampilkan tokoh utama seorang putri yang memiliki free spirit, dan puncaknya ada di film Wreck-it Ralph ini. Film ini telah sukses melepas karakter hitam putih di tokoh animasi Disney. Mungkin juga karena factor Jhon laseter, tokoh Pixar yang duduk di kursi produser.

Bagi yang suka video games, film ini bertabur tokoh-tokoh video games lawas
Nilai : 4 dari nilai max 5
   
Overall
Saving bear,  #eh Mother
Dari segi kualitas animasi, Brave tampil lebih baik. Brave sukses menghadirkan detail landscape hutan skotlandia yang misterius sekaligus mengagumkan. Rasanya untuk ini, belum ada teknologi CGI animasi yang mampu mengungguli buatan Pixar.
  
Dari segi kualitas sound, Brave masih jadi pemenang mengingat Pixar menggunakan teknologi tata suara terbaru yang diberi nama dolby atmos
  
Dari segi music, Brave lagi-lagi jadi pemenang. Brave yang berlatar skotlandia menggunakan music folk scotland dengan komposer Patrick doyle. Soundtrack Brave pun didominasi musisi folk handal seperti, Julie fowles sebagai dikenal sebagai penyanyi folk scoties, dan juga Mumford and sons sebagai band folk rock America, yang baru-baru ini meraih Grammy. Wreck-it Ralph hadir lebih ringan, Henry jackman membuat score ala video games. Soundtrack Wreck-it Ralph pun diisi music pop, yang easy listening & bertempo cepat seperti : Skrillex, Rihanna, Owl city, & juga (surprise) AKB48.
  
Dari segi karakter & cerita/skenario : sudah dijelaskan di atas bahwa, karakter Wreck-it Ralph lebih menarik & memorable dibanding Brave.
   
Dari segi box  office : sampai Maret 2013, Film Brave masih unggul. Hadir di puncak musim panas, Brave yang dibuat dengan Budged US$185 juta, mengumpulkan US$ 535  juta dari seluruh dunia. Hasil box office film Wreck-it Ralph tak  bisa dikatakan buruk. Film yang hadir saat liburan thanks giving ini mencetak hasil US$ 435 juta, dengan budged pembuatan US$ 165 juta.

Dari segi award : Brave juga lebih unggul. Brave memegang 3 penghargaan utama Best Animated Features dari : Oscar, Golden globe dan BAFTA, sedangkan Wreck-it Ralph menerima penghargaan Best Animated features dari Producer guild award. Menurut catatan saya, ada sekitar 9 penghargaan yang menominasiakan Brave & Wreck-it Ralph sebagai Best Animated features bersama. Brave menang 3x, Wreck-it Ralph 3x sementara 3 lainnya mereka harus mengalah dengan pranorman 2x & rise of the guardians.
   
Dari segi pilihanku : Memang Brave lebih banyak disukai, but I love Wreck-it Ralph. Bagaimana pilihan kalian?

Minggu, 03 Maret 2013

Rectoverso; kisah-kisah cinta yang tak tersampaikan

Indonesia dibanjiri film-film adaptasi buku, kali ini dalam bentuk film omnibus. Rectoverso, sebuah omnibus  yang diambil dari kumpulan cerita pendek karya Dee lestari. Filmnya sendiri mengambil 5 dari 11 cerita pendek yang ada dibuku, dengan mengambil tema; cinta yang tersampaikan. 

Untuk yang belum tahu, omnibus adalah film yang terdiri dari beberapa film pendek. Ada 2 jenis alur di film Omnibus yang saya tahu, ada yang diceritakan terpisah antara satu film pendek dengan pendek lain seperti kita lihat di film Takut, kita vs korupsi, Paris, I love you. Ada pula yang alurnya dibuat paralel walau belum tentu punya waktu yang sama atau bahkan ceritanya tidak bersinggungan (dikenal dengan sebutan interwoven) seperti yang kita lihat di film love actually, LOVE dan juga film rectoverso ini. Saya sendiri sangat menikmati film omnibus Indonesia, mengingat cerita dan alur yang cukup beragam, dan karena film pendek, tentunya film disini tak punya waktu panjang untuk adegan khas Indonesia yang tak saya sukai seperti memperpanjang adegan melankolis, meratap,dan menangis.
   
Malaikat juga tahu
Bagian ini disutradarai oleh Marzella zalianty, dan skenarionya ditulis oleh Ve handojo. Berkisah tentang seorang seorang penyandang autis, yang biasa dipanggil Abang (Lukman sardi), bersama ibunya (Dewi irawan) mengelola rumah kost. Diam-diam Abang menaruh hati dengan seorang wanita penghuni kost tersebut Leia (Prisia nasution). Leia sendiri juga dikenal sebagai orang yang paling bisa “ngemong” si abang. Masalah timbul saat Leia justru jatuh cinta pada adik abang, Hans (Marcell domits).
Tak asing? Iya ini adalah cerita yang sama yang diambil dari sebuah video klip lagu berjudul sama. Bagian terbaik disini, saat Glenn fredly, sukses mendaur ulang lagu “malaikat juga tahu” menjadi versi cowok. Roh film pendek ini ada pada duet akting Lukman sardi – Prisia nasution, bisa dikatakan ini adalah pencapaian terbaik dalam karir mereka. Sayangnya walau sudah punya durasi pendek tapi film ini masih memperpanjang di bagian yang tidak saya sukai : meratap!, ya mungkin sebagai penahbisan keunggulan acting Lukman sardi (Nilai 3)
   
Senja (Asmirandah)
Firasat
Bagian ini disutradarai oleh Rachel maryam dan skenarionya ditulis oleh Indra herlambang. Berkisah tentang seorang gadis bernama Senja (Asmirandah) yang sepertinya punya masalah berat dan mimpi-mimpi yang menerornya. Si ibu (Widyowati) digambarkan selalu berusaha untuk menenangkan si anak, hingga akhirnya sebuah klub firasat mempertemukannya dengan Paca (Dwi sasono). Tetapi, lagi-lagi Senja mendapat firasat buruk saat Panca harus pulang ke padang.
Sebenarnya saya tidak cukup paham masalah Senja ada dimana, dan mengapa sampai sebuah firasat bisa mengganggu, bahkan apa sebenarnya yang mereka lakukan di klub, sampai dirasa bisa membantu Senja …. untungnya yang jadi Senja cantik #eh (Nilai : 1)
     
Curhat buat sahabat
Bagian ini disutradarai oleh Olga lydya dan skenarionya ditulis oleh Ilya Sigma dan Priesnanda dwisatria. Berkisah tentang sebuah malam perayaan titik balik, yang dihabiskan Amanda (Acha septriasa) untuk mencurahkan segala uneg-uneg kegagalan kisah cintanya, kepada sahabatnya Reggie (indra birowo). Di balik curhat itu tersirat ada cinta yang tak tersampaikan, yang tertutup egosime seorang wanita yang merasa (WTH) “didzalimi”.
Ini adalah bagian terkuat dalam omnibus ini, hadir sederhana film ini justru punya cerita tersirat yang lebih padat. Cukup mengejutkan, saat gaya annoying acting Acha septriasa justru  menjadi kekuatan karakter Amanda, sementara Indra birowo sukses menahan diri untuk tidak menjadi dirinya yang biasa (Nilai 4)
    
Cicak di dinding
Bagian ini disutradarai oleh Cathy saron dan skenarionya ditulis oleh Ve handojo. Bekisah tentang seorang pelukis muda yang digambarkan introvert dan pemalu bernama Taja (Yama carlos) yang terlibat one night stand dengan wanita misterius bernama Saras (Sophia latjuba). Hubungan mereka berlanjut dengan one night stand lainnya dan kemudian Saras menghilang. Taja tak tahu apapun tentang Saras, kecuali tato cicak di pinggangnya, hingga akhirnya Saras muncul, dan dikenalkan ke Taja sebagai tunangan sahabatnya (Tio pakusadewo).
Bagian ini serasa ingin tampil misterius, yang sebenarnya bisa dieksekusi dengan baik oleh masing-masing pemainnya. Rangkaian adegan film ini justru membuat saya bertanya untuk apa semua dibuat misterius toh akhirnya bisa terjawab dalam beberapa adegan ke depan. (Nilai:2)
   
Cerita tentang punggung
Hanya isyarat
Bagian ini disutradarai oleh Happy salma dan skenarionya ditulis oleh Key mangunsong. Bercerita tentang 5 orang backpacker (Amanda Soekasah, Hamish Daud, Fauzi Baadilla, Rangga Djoned dan Kims) yang awalnya hanya bertemu di millist, kali ini bertemu dalam sebuah pantai. Bagan ini di habiskan dengan dialog penuh “cekakak-cekikik” tak jelas, dan filsafat yang tak tahu apa esensinya. Hingga akhirnya sebuah cerita dari Al (Amanda soekasah) tentang punggung membuat cerita ini layak dinikmati. Btw kira-kira apa yang menyebabkan Al tak bisa mengutarakan cintanya ya? (Nilai:2,5)
   
   
Secara keseluruhan bisa dikatakan omnibus ini cukup layak untuk anda nikmati dengan gebetan anda di gedung bioskop, walau beberapa adegan membuat saya mengernyitkan dahi (tak mengerti mengapa mereka membuat beberapa adegan/dialog tersebut). Mungkin karena ini adalah film pertama yang saya saksikan setelah marathon film-film nominator oscar, kualitas film ini jadi terasa terbanting. 

Satu hal yang buat saya agak ragu novel Dee lestari di filmkan adalah banyaknya puisi-puisi filosofi yang sangat indah dalam bentuk tulisan tetapi akan sangat aneh jika diucapkan dalam bentuk dialog, dan ini terasa di di semua dialog dalam film ini (minus curhat buat sahabat). Ide memparalelkan cerita, cukup bagus untuk menyelamatkan beberapa scene yang saya anggap aneh dan membosankan, tetapi juga jadi boomerang, karena-masing-masing cerita memiliki puncak scene yang berbeda-beda pula.

Rata-rata : 2,5 dari nilai max 5

Sabtu, 02 Maret 2013

Orang Gila Jatuh Cinta di Film Silver linings playbook)

Pat jr (Bradley cooper) - Tiffany (Jennifer lawrence)
Saya baru tahu bahwa kata “silver lining” bermakna "bagian menggembirakan dari situasi yang sulit". Sekelam apapun kehidupan kita, selalu ada bagian yang bisa kita nikmati, apalagi itu adalah jatuh cinta. Seperti itulah yang ingin diceritakan dalam film yang diangkat dari novel karangan Mathew quick berjudul Silver lining playbook, cerita tentang orang yang jatuh cinta di saat mengalami bagian terburuk hidupnya. Bahwa jatuh cinta = menjadi gila, sudah sering diceritakan di banyak film, tetapi bagaimana jika ada “orang gila” jatuh cinta. Selama ini film-film bertema cinta selalu hadir cerah, bergenre drama romantis, atau komedi romantis, tetapi bagaimana jika kisah cinta dua orang gila itu digambarkan dalam “film gelap” penuh adu teriakan amarah sepanjang film?... jadilah film bergenre “black romantic comedy” berjudul Silver lining playbook. 
 
Patrizio solitano Jr. (Bradley cooper) atau dipanggil Pat Jr. adalah seorang pria yang baru lepas dari rehabilitasi mental. Pat Jr. kesulitan mengendalikan emosi dirinya sehingga selalu bersikap agresif & temperamental. Pat Jr. dibawa ke pusat rehabilitasi mental atas perintah pengadilan setelah menyerang seorang pria yang berselingkuh dengan istrinya, Nikki. Selepas dari rehabilitasi, Pat masih mengikuti rangkaian therapy bersama Dr. Patel (Anupam kher). Sebenarnya Pat Jr. sendiri tidak sepenuhnya sembuh, karena dia sering tidak mengikuti aturan pusat rehabilitasi itu khususnya dalam meminum obat, sehingga dia tetap kesulitan untuk bisa mengontrol diri. Dia bisa mengamuk saat mendengar lagu pernikahannya, marah kepada buku Ernest Hemmingway, atau seringkali saat pagi buta masuk ke kamar kedua orang tuanya (Robert de niro & Jacky wiever) dan ngomel tak keruan. 
  
Walau belum sembuh total Pat Jr. punya tekad untuk menata kembali hidupnya, hidup normal dan kembali bersama Nikki istrinya. Di satu sisi keinginan bertemu nikki menjadi kekuatan Pat Jr untuk memperbaiki diri, termasuk menurunkan beran badan. Di sisi lain, keinginan bertemu Nikki, akan membuat Pat Jr. seperti hidup dalam khayalannya, mengingat Nikki tak mau lagi bertemu Pat, dan pengadilan memutuskan agar Pat Jr. menjauhi istrinya, atau dia masuk penjara lagi.
Gak kebayang jika punya kencan seperti ini
Dalam makan malam dengan seorang kerabatnya, Ronnie & istrinya  (John Ortiz – Julia styles), Pat Jr bertemu Tiffany Maxwell (Jennifer lawrence), seorang wanita yang punya penyakit mental sama. Dia frustasi saat suami tercintanya meninggal. Perjumpaan pertama dengan Pat, Jr. membuat Tiffany jatuh cinta, sayangnya harapan Pat Jr. untuk kembali ke Nikki membuatnya dia menjaga jarak dengan Tiffany. Tak mau menyerah, Tiffany menempuh berbagai cara unik (aneh) untuk mendapat perhatian Pat Jr.  Lucu? Kebanyakan seram, karena tiffany & Pat Jr tak henti saling berteriak adu mulut.
Tiffany : I was a slut. There will always be a part of me that is dirty and sloopy, but I like that, just like all the other parts of myself. I can forgive can you say the same for yourself? Are you capable of that?
Lalu sebuah perjanjian dibuat, Tiffany mau sebagai pengantar surat Pat ke istrinya, asal Pat mau berlatih menari, lalu mengikuti sebuah kompetisi menari di kota mereka. Hubungan Tiffany & Pat Jr makin dekat, terlebih saat sang ayah, Pat Sr. mempertaruhkan semua modal usahanya dalam taruhan dalam kompetisi menari itu. Di hari kompetisi menari berlangsung, mendadak Nikki datang membuat Pat Jr. harus menentukan pilihan, kembali ke istri tercintanya atau Tiffany.
 Pat : “The only way to beat my Crazy was by doing something even crazier. And Thank you. I love you”
Silver linings playbook adalah jenis film dengan serombongan cast dengan karakter yang luar biasa unik. Bagaimana uniknya Jennifer lawrence yang membawakan karakater wanita (gila) dengan tatapan mata tajam berjuta makna (saya benar-benar jatuh cinta dengan tatapan mata aneh Tiffany & teriakan emosinya), ada pula Bradley cooper membawakan karakter Pat Jr. yang berupaya mengalahkan dirinya dari amarah walau masih gagal. 
  
Dolores (Jackie weaver) - Robert de niro (Pat Sr)
Tak hanya tokoh utama, tokoh pembantu bahkan figuran pun hadir begitu kuatnya, simak Robert de niro yang membawa karakter Pat Sr. kehilangan pensiunannya dan harus memulai memulai usaha dengan dana pas-pasan dan bayangan kegagalan didepan mata. Lalu ada Jacky wiever, membawakan karakter Dolores si ibu yang mencoba tabah mengurus suami & anak nya yang sama-sama agresif & temperamen atau Danny (Chris tucker) sahabat Pat Jr, yang berusaha melarikan diri dari pusat rehabilitasi mental

Salut untuk semua cast, serta sang sutradara yang meramu cerita dan scene-scene penuh teriakan yang seharusnya menjadi annoying tetapi justru jadi kekuatan film ini. Hasilnya? Nominasi di 7 kategori utama Oscar (best picture, best director, best actor-actress, best sup actor-actress, best screen play adapted) yang berbuah 1 oscar untuk Jennifer Lawrence. Prestasi ini menyamai film reds (1981)

Jennifer lawrence as best actress
Saya suka scene terakhir film ini, -bukan saat Pat Jr. menentukan pilihan- tetapi saat semua keluarga berpesta menyambut nilai 5 (max 10) dari penampilan Pat-Tiffany di sebuah kompetisi menari. Hal ini mengingatkan, bahwa tak perlu sempurna untuk bahagia. Kita semua selalu berusaha untuk jadi orang yang lebih baik terlepas dari kita gagal atau tidak, tetapi penerimaan tentang apapun pencapaian kita menjadi hal yang sangat menguatkan, and that’s what friends/family are for. Ah orang-orang gila ini ternyata lebih waras dari kita yang waras.

Nilai : 4 dari nilai max 5