Rabu, 13 Februari 2013

Habibie & Ainun: Icon Baru Romantisme Indonesia



Sebelumnya saya hanya mengenal Bacharudin Jusuf Habibie sebagai seorang Insinyur pesawat hebat, yang gagal menjual hasil karyanya, atau sebagai seorang Presiden yang melepas wilayah negaranya. Tokoh negatif? Anggapan saya tentang Habibie selama ini bisa jadi salah, toh kebenaran itu bisa bersifat relatif, tergantung pada waktu dan dari sudut pandang mana kita melihat seorang tokoh. Di tulisan ini saya tak ingin membahas Habibie sebagai seorang insinyur atau seorang presiden transisi, saya ingin melihat sosok Habibie secara personal seperti yang ingin ditampilkan film ini, sebagai pasangan yang romantis

Sebelumnya, rasanya mustahil saya melihat sisi romantisme dari habibie. Jangankan hal – hal yang berbau romantis, saya bahkan tak percaya ada joke yang bisa keluar dari seseorang yang selalu berapi-api, mimik serius, dengan mata melotot setiap berbicara. Saya sampai skeptis mendengar rencana dibuatnya film drama romantis berdasarkan kisah nyata Habibie & Ainun. Terlebih, Reza rahardian terpilih memerankan karakter Habibie, yang notabene punya fisik yang jauh berbeda dengan Habibie.

Film di buka saat Habibie muda menjelaskan suatu teori, didepan insinyur-insinyur Jerman yang diam-diam terpukau, hingga dia jatuh pingsan dan diketahui mengidap penyakit dunia ketiga. Kejeniusan & kegandrungan Habibie akan teknologi sudah terlihat saat dia masih duduk di bangku sekolah. di saat itu Ainun, hanyalah saingan berat Habibie di kelas. Belum ada benih – benih cinta, karena Habibie kecil lebih memilih jadi si kutu buku dari pada membuat kisah kasih di sekolah.  

Bertahun-tahun kemudian cinta tumbuh di keduanya, saat itu Habibie yang telah berkuliah di Jerman sedang pulang Indonesia. Dia mendapati, saingan beratnya di sekolah telah berubah menjadi seorang dokter cantik. Dari sini kita diajak menikmati romantisme remaja di tahun 60an. Mulai dari bagaimana Habibie menaklukan saingannya dengan amat sangat elegan, menaklukan hati orang tua Ainun, hingga bagaimana kedua pasangan ini berkencan di masa itu, dimana ciuman pertama bisa terjadi diatas becak yang sedang diguyur hujan.

Habibie kemudian menyuntingnya dan memboyongnya Ainun ke Jerman. Mereka menjalini rumah tangga baru mereka di negeri asing, jauh dari keluarga, serta dalam suasana keterbatasan. Tapi, lagi – lagi, kekurangan menjadi bumbu romantisme yang paling yahud. Di bagian ini kita diajak, bagaimana cerita romantis bisa terbangun dari kehidupan di flat kecil bersama sang istri yang rindu rumah,atau di saat sang istri gagal memasak,atau di saat dua pasangan tropis ini melalui kejamnya musim dingin di Jerman.

Di saat sulit, Hanya harapan yang bisa membuat mereka bertahan. Janji Habibie untuk membuatkan Ainun sebuah pesawat, hingga mimpi Habibie membangun Industri hi-tech di Indonesia menjadi sumber kekuatan pasangan muda ini unuk menghadapi masalah – masalah mereka.
    
Berbagai sederet prestasi Habibie di Jerman membawanya dipanggil pemerintah orde baru untuk membangun teknologi & industri hi-tech Indonesia. Habibie & keluarganya pun kembali ke tanah air dan memulai membangun IPTN. Mendapat kepercayaan yang besar dari Pemerintah Soeharto, tidak serta merta memuluskan Habibie mewujudkan mimpinya. Dalam mewujudkan berbagai impiannya tak sedikit dia harus berhadapan dengan calo & politisi busuk, tetapi idelisme menghantarkan dia menggapai puncak karirnya.

Di era puncak karir Habibie, romantisme muncul dari bagaimana Ainun melihat suaminya masih seperti anak – anak yang perlu ingatkan untuk makan saat asyik bermain mereka masih muncul. Salah satu scene menarik, saat Ainun memarahi Habibie sebagai seorang Presiden, agar mau tidur. Sayangnya saat asyik mengejar mimpinya habibie hampir melupakan dan mengabaikan Ainun,istrinya.
    
Dengan durasi film kurang dari 2 jam, film Habibie & Ainun terlalu berambisi menghadirkan masa kehidupan Habibie – Ainun dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun. Untuk mengatasi padatnya cerita, film ini sudah tepat untuk lebih memilih berfokus pada romantisme di setiap jaman, sedangkan rangkaian momen sejarah ditampilkan sambil lalu. Disisi lain, berbagai momen sejarah yang ditampilkan sambil lalu justru mengusik rasa keingintahuan sebagian penonton (saya). Sehingga, beberapa penonton (seperti saya) merasa film ini tampil dangkal.itu bukan masalah besar, karena kekuatan film ini hadir dari kisah romantisme sehari – hari Habibie – Ainun dalam menjalani tahapan hidup mereka.

Jika dulu Indonesia punya ikon romantisme Galih dan Ratna, atau Rangga dan Cinta, kita sekarang punya Habibie dan Ainun. Hebatnya lagi ikon romantisme baru Indoensia sekarang adalah tokoh nyata. Film ini diangkat dari sebuah buku yang ditulis sendiri oleh Habibie sebagai terapinya saat dia merasa kesepian ditinggal istri tercinta. Tak disangka terapi ini justru menjadi salah satu legenda kisah cinta Indonesia.

Bisa saya katakan, kekuatan film ini ada pada kekuatan akting Reza rahardian yang mampu menjawab keraguan publik dimana fisik reza rahardian awalnya dianggap “terlalu baik” untuk karakter Habibie. Tak disangka,, Reza rahardian bisa menampilkan bahasa tubuh khas Habibie yang membuat kita tak lagi mempermasalahkan dia terlalu tinggi atau terlalu ganteng atau erlalu kurus untuk Habibie tua dan lain sebagainya. Sebuah kerja keras yang pantas diacungi jempol, karena bisa merubah sikap skeptis saya terhadap Habibie secara personal.

Ainun & Hab
Sebagai pasangan Reza rahardian,, Bunga citra lestari tidak bisa dikatakan tampil buruk, penampilannya adalah alasan manisnya cerita cinta ini. Sayangnya, Bunga citra lestari tak kuasa mengimbangi perhatian penonton saat harus berbagi layar dengan Reza rahardian. Bahkan pada beberapa moment, saya tak lagi merasakan kehadiran karakter Ainun. Saya masih bisa merasakan bagaimana kegaulauan Ainun tinggal jauh dari negerinya, tapi saya tidak merasakan kegaulauan Ainun, saat sang suami sedang tergila-gila dengan mimpinya dan hampir mengabaikannya, kita tak juga mengetahui apa yang dirasakan Ainun saat media mencap suaminya dengan sebutan “gila”. Aksi reza rahardian merebut semua perhatian scene di film ini, juga hampir melupakan kehadiran anak – anak Habibie & Ainun.
  
Untuk film dengan menampilkan periode 50 tahun, art director & tata make up akan memiliki peran besar. Saya masih bisa merasakan secuil suasana romantis Kota Bandung di tahun 60a, tetapi selebihnya itu setting film tampil tanpa kekhasan dimensi waktu dan ruang, bahkan iklan-iklan mengaburkan itu semua.

Saya memaklumi teknologi make-up kita tertinggal jauh dengan Hollywood, seperti yang ditunjukkan dalam film Curious case of Benjamin button, atau di film Iron lady. Tim make-up film Habibie & Ainun sudah bekerja cukup baik mempermak wajah Reza rahardian dan Bunga Citra Lestari, walau saya merasa wajah Reza kian terlihat mudah di akhir film. Saya sempat tergelak melihat foto Reza rahardian yang disandingkan dengan foto Suharto, saat scene Habibie diangkat menjadi wakil presiden. 
  
Akhirnya, Film Habibie & Ainun memang bukan film  Indonesia terbaik, tetapi film ini wajib disaksikan untuk yang mencari referensi film romantis Indonesia.

Nilai : 2,5 dari nilai maks 5

Membicarakan cinta dengan cin(T)a

Permainan jari khas film cin(T)a
Dear God,
Dear El,
Dear Allah,
In your majesty, you create differences
In my arrogance,i question your wisdom
In your mistery,you create temptation
In my inferiority,you make me more than I am
So here i am
I surrender me in the agony of your love
I surrender me in the irony of your law
Lead me to joy of love redmined
Teach me how to love you more

Adalah Cina (sunny soon) seorang pemuda Kristen asal Tapanuli yang cerdas, idealis cenderung lugu. Walau sebenarnya anak pejabat tarutung, tapi dia memilih berkuliah di arsitektur ITB dengan mengandalkan ajuan beasiswanya plus bekerja sebagai therapis pijat refleksi, dari pada berkuliah di Singapura atas biaya orang tuanya. Eits…  Cina disini bukan nama suku, tetapi nama tokoh utama film ini, dia menyandang nama Cina, hanya karena kesalahan petugas catatan sipil.
Annisa : “Tega banget ya bapak loe, sudah tahu anaknya bermuka cina tapi masih diberi nama cina”.
Cina : “Bapak kamu juga tega banget sudah jelas anaknya perempuan masih diberi nama perempuan”

Annisa - Cina
Beda karakter , Annisa (Saira jihan) seorang gadis jawa muslim. Dia adalah senior tercantik di kampus yang juga merupakan seorang artis dengan berbagai kontroversi yang melingkupinya. Annisa digambarkan seperti tak tahu harus berbuat apa untuk hidupnya, dengan tugas akhir yang tak kunjung selesai.
  
Awal pertemuan Cina dengan Annisa tidak berlangsung baik. Cina yang memegang teguh hukum Newton I bahwa wanita cantik berbanding terbalik dengan otaknya, membuatnya bersikap sinis terhadap Annisa. Hingga rasa bersalah cina, karena telah merusakkannya maket annisa plus kebutuhan akan uang mendorongnya untuk menerima job sebagai pembuat maket tugas akhir Annisa.
   
Kedekatan Cina & Annisa berbuah cinta. Cina mulai cemburu melihat Annisa dekat dengan teman-teman cowoknya. Sinematografi di atas rata-rata, music dari homogenic, serta sikap “skeptic” Annisa melihat hubungannya dengan Cina mereka membuat kita menikmati bagian ini seperti melihat potongan film 500 days of summer.
Cina  : “kau cantik aku ganteng, kau yatim aku piatu, kau bego aku pintar, kau..”
Anisa :” lo kristen gue islam”
Cina  : “exactly ! ntar kita bisa di display taman mini, jadi simbol kerukunan umat beragama, kau kan belum pernah main beda agama, atau kau pindah kristen aja nis?”
Anisa :” yakin lo mau sama gue? Tuhan gue aja berani gue khianatin. apalagi lo entar?”
Lama-kelamaan keunikan Cina membuat Annisa mulai mengalami "ketergantungan" terhadap hadirnya Cina. Disini tak hanya Cina & Annisa yang jatuh cinta Sebagai penonton saya bagai orang ketiga yang jatuh cinta pada 2 karakter ini. Obrolan-obrolan ringan mereka tentang arti nama, kesamaan arsitek dengan Tuhan, dialog tentang agama & perbedaan, memiliki efek yang maha dahsyat… eits mungkin saya hanyalah generasi baru yang mereka katakana dangkal dengan mengandalkan filosofi dari sebuah film  yang belum tentu bisa dipertangung jawabkan. Makin jelas saat saya makin jatuh cinta pada 2 karakter ini saat tahu Cina mengidolakan beautiful minds & Annisa mengidolakan American beauty.
  
Walau sudah pas sebagai pasangan, Cina & Annisa sadar perbedaan agama diantara keduanya akan menjadi penghalang besar hubungan mereka. Hingga rangkaian ledakan bom pada gereja-gereja di saat malam natal membuat hubungan Cina – Annisa makin absurd. Annisa merasa marah dan malu , sedangkan Cina langsung bersifat skeptic terhadap agama. Dia menyerah atas segala keidealismenya, bahwa pandangan streotip orang lain terhadap dirinya membuatnya gagal mendapatkan beasiswa, Dia sadar tak akan bisa menjadi pemimpin negeri ini karena dia bukan muslim, apalagi untuk menikahi Annisa. Dia pun memutuskan untuk pindah ke Singapura, di saat yang bersamaan Annisa menerima pria yang dijodohkan oleh orang tuanya
Anisa : “kenapa Alloh nyiptain kita beda beda, kalo Alloh cuma pengin disembah dengan satu cara”
Cina  :” makanya Allah nyiptain cinta, biar yang beda beda, bisa nyatu. tapi tetep yang bener cuma satu!”
Anisa : “duuh cape deh gue ngomongin ginian. lo nggak bisa ya kaya cowo normal lainnya? ajakkin gue ke paris kek, beliin gue berlian kek, bikinin gue puisi kek…”
Cina  : “yuk kita ke Ambon yuk biar kau liat, agama sudah jadi propaganda paling murah dan efektif sepanjang sejarah bunuh bunuhan manusia. kita dikasih previlage lebih buat belajar mempelopori perdamaian, orang bodoh yang tak tau apa apa. lebih mudah untuk di provokasi!”
Anisa : “duuuh dunia ini udah kebanyakan agama,kebanyakan Tuhan! siapa si lo coba nyelesein konflik agama dunia, Tuhan aja gabisa! Cin, lo ngomong panjang lebar disini pun Yerusalem tetep perang! Ambon tetep bunuh2an! kalo lo nggabisa nyelesein konflik agama yang jauh disana, the less you can do, jangan coba bikin konflik baru disini deh!”

Film ini punya kekuatan besar pada scenario cerdas dengan dialog-dialog nakal yang mengelitik iman kita. Dari segi teknis, film ini hadir dengan sinematografi diatas rata-rata yang sukses menghadirkan berbagai adegan dengan gambar yang sangat efektif. Jangan lupakan Homogenic, band yang bertanggung jawab memberikan atmosphere unik dalam film ini. Kelemahan terbesar hanya ada pada sound yang terdengar sangat berisik plus pronounce Annisa yang membuat banyak isi dialog tidak tersampaikan dengan baik. Saya memaklumi film ini dibuat dengan berbagai keterbatasan dana. Selain itu, film ini punya kelemahan film Indonesia pada umumnya dengan berlama-lama di adegan mellow, dan seperti “kehabisan bensin” di ujung cerita. Saya tetap memberi acungan jempol untuk sang sutradara Sammaria simanjutak yang juga menulis scenario film ini bersama Sally anom sari. Film ini meraih piala citra untuk penulis scenario terbaik di tahun 2009.
 Anisa : “maksud gue, cuma Tuhan yang tau rasanya jadi selebritis. Tuhan emang suka dipuji dan disembah…”
Cina  : “selebritis macam kau aneh sekalipun, susah2 kerja biar dikenal orang. udah terkenal. ee malah gak mau dikenal orang”
Anisa : “lo pikir kenapa Tuhan nyiptain atheis? cape tau disembahin terus sama orang setiap saat. Ga bisa ya orang liat gue apa adanya?”
Cina  : “cuma aku sama Tuhan yang cinta kau bukan karna kau cantik
Nilai : 3,5 dari nilai max 5

Minggu, 10 Februari 2013

The 55th Grammy award 2013 (Part 4 Daftar pemenang)

Berikut daftar pemenang The 55th Grammy Award 2013 : 

1. Record Of The Year :   Somebody that I used to know - Gotye ft. Kimbra 
2. Album Of The Year :  Babel - Mumford & sons 
3. Song Of The Year : We Are Young - Fun. Featuring Janelle Monáe 
4. Best New Artist  : Fun 
Teori pemenang record of the year saya salah, tetapi yang menarik disini adalah kemenangan Mumford & sons sebagai album of the year. Album Babel dari Mumford & sons hanya meraih 1 grammy dan itu album of the year!. Babel sendiri bahkan tidak menang di kategori Americana album (kalah oleh Bonnie rat), Lagu I will wait dari album Babel juga kalah di best rock performance dan best rock song oleh The Black keys. Hal tersebut membuat kemenangan Babel sebagai album of the year menjadi kejutan besar malam itu. ada yang salah? sistem penjurian grammy memungkinkan terjadinya ini (baca di bagian akhir tulisan ini)
     
Kelly clarkson got "best speech"
5. Best Pop Solo Performance :  Set Fire To The Rain [Live] - Adele 
6. Best Pop Duo/Group Performance : Somebody that I used to know - Gotye ft. Kimbra
7. Best Pop Instrumental Album : Impression - Chriss botti
8. Best Pop Vocal Album : Stronger - Kelly clarkson 
11. Best Traditional Pop Vocal Album : Kisses On The Bottom - Paul McCartney
Dominasi Fun di kategori utama membuat saya yakin dia akan berjaya di kategori pop, ternyata saya melupakan adanya Gotye & Kelly clarkson.
    
9. Best Dance Recording : Bangarang - Skrillex ft. Sirah
10. Best Dance/Electronica Album : Bangarang - Skrillex
68. Best Remixed Recording, Non-Classical : Promises (Skrillex & Nero Remix) - Joseph ray, skrillex,& Daniel stephen
Juri Grammy tak bisa move-on dari skrillex, tapi album yang ini memang lebih asik sih
     
12. Best Rock Performance : Lonely Boy - The Black Keys
13. Best Hard Rock/Metal Performance : Love Bites (So Do I) - Halestorm
14. Best Rock Song : Lonely Boy - The Black Keys 
15. Best Rock Album : El Camino - The Black Keys
16. Best Alternative Music Album : Making Mirrors - Gotye
Dari semua kategori, Rock adalah yang paling bisa saya tebak  minus rock performance, (saya lebih menjagokan Mumford & sons). Congratulation for Halestrom, band hard rock baru ini mengalahkan  5 legenda metal ( Iron maiden, megadeth, Marilyn manson, Anthrax, Lamb of God)
     
17. Best R&B Performance : Climax - Usher
18. Best Traditional R&B Performance : Love on Top - Beyonce knowles
19. Best R&B Song : Adorn - Miguel
20. Best Urban Contemporary Album : Channel Orange - Frank Ocean 
21. Best R&B Album : Black Radio - Robert Glasper Experiment
Sebenarnya semua pemenang masuk range prediksi, dan masih kecewa seharusnya ada lebih banyak grammy lagi untuk Miguel & Frank ocean
    
22. Best Rap Performance : N****s In Paris - Jay-Z & Kanye West
23. Best Rap/Sung Collaboration : No church in the wild - Jay Z & kanye west & frank ocean The-dream
24. Best Rap Song : N****s In Paris - Jay-Z & Kanye West
25. Best Rap Album : Take care - Drake
Saya hanya bisa menebak 1 pemenang  di kategori ini, Kategori rap tahun ini masih milik Jay-Z & Kanye west
      
Zac brown band
26. Best Country Solo Performance : Blown Away - Carrie Underwood 
27. Best Country Duo/Group Performance : Pontoon - Little big town
28. Best Country Song : Blown away - Carrie underwood (Josh kier & Chris tompkins)
29. Best Country Album : Uncaged - Zac Brown Band
Walau masih dalam range prediksi, tetapi sepertinya Carrie underwood mendapatkan grammy "terlalu banyak",  dia harus berbagi dengan dengan eric church :-p

30. Best New Age Album : Echoes of love - Omar akram
31. Best Improvised Jazz Solo : Hot House - Gary burton & Chick corea
32. Best Jazz Vocal Album : Radio Music Society - Esperanza Spalding
33. Best Jazz Instrumental Album : Unity band - Pat metheny
34. Best Large Jazz Ensemble Album : Dear Diz (Every Day I Think Of You) - Arturo Sandova
35. Best Latin Jazz Album : ¡Ritmo! - The Clare Fischer Latin Jazz Big Band
Selera telinga saya teryata masih sama dengan juri grammy khususnya jika ada Esperanza spalding, Chick corea dalam daftar nominasi
       
36. Best Gospel/Contemporary Christian Music Performance : 10,000 reasons - Matt redman 
37. Best Gospel Song : Go Get It - Mary Mary
38. Best Contemporary Christian Music Song : 10,000 reasons - Matt redman & Jonas myrin & Your presence is heaven - Israel Houghton & Micah massey
39. Best Gospel Album : Gravity - lecrae
40. Best Contemporary Christian Music Album : Eye on it - Toby mac
Kalau saya sampai salah semua memprediksi kategori gospel, anda pasti tahu penyebabnya. Kategori ini memperkaya wawasan bahwa lagu rohani tak perlu harus menye-menye
          
41. Best Latin Pop Album : MTV unplugged deluxe edition - Juanes
42. Best Latin Rock, Urban or Alternative Album : Imaginaries - Quetzal
43. Best Regional Mexican Music Album (Including Tejano) : Pecados Y Milagros - Lila Downs 
44. Best Tropical Latin Album : Retro - Marlow rosado Y La Riquena
Tebakan saya tak ada yang benar di kategori latin....
    
How come they lost with Bonnie ratt?
45. Best Americana Album : Slipstream - Bonnie ratt
46. Best Bluegrass Album : No body knows you - Steep canyon rangers 
47. Best Blues Album : Locked down - Dr. John
48. Best Folk Album : The Goat Rodeo Sessions - Yo-Yo Ma, Stuart duncan, Edgar meyer, Chris thile
49. Best Regional Roots Music Album :  The band courtbouillon - Wayne toups, Steve riley, Wilson savoy 
50. Best Reggae Album : Rebirth - Jimmy cliff 
 51. Best World Music Album : The living room sessions Part 1 - Ravi shankar
Pada kategori "music daerah", saya hanya bisa menebak satu di kategori folk. Selebihnya salah, karena memang masih asing dengan genre music ini dan  adanya kejutan seperti kalahnya mumford & sons & The lumineers pada Bonnie rat dan juga sean paul pada Jimmy cliff
 
52. Best Children's Album : Can you canoe ? - Okee Dokee Bros
53. Best Spoken Word Album : Society's child: My Autobiography - Janis ian 
54. Best Comedy Album : Blow Your Pants Off - Jimmy Fallon 
Hanya bisa menebak jimmy fallon di categori comedy album. Di kategori spoken album, memang buku terbaik yang masih menang dan dari pada gaya bercerita yang lebih unik. Untuk kategori children, saya memang memilih okee dokee bros & The pops up untuk meraih grammy kategori ini.
      
55. Best Musical Theater Album : Once: A New Musical - Steve Kazee & Cristin Miliot
56. Best Compilation Soundtrack For Visual Media : Midnight in Paris - Various Artists
57. Best Score Soundtrack For Visual Media : The Girl with the dragon tattoo - trent reznor & atticus rosr
58. Best Song Written For Visual Media : Safe & sound - Taylor swift & T bone burnett
Kejutan juga terjadi di kategori soundtrack, para pemenang grammy di sini bahkan tidak banyak dilirik oleh juri oscar. Telinga orang film mungkin beda dengan telinga orang musik.
 
59. Best Instrumental Composition : Mozart goes dancing - Chick corea
60. Best Instrumental Arrangement : How about you - Gil Evans
61. Best Instrumental Arrangement Accompanying Vocalist(s) : City Of Roses - Esperanza Spalding
Asalkan di daftar nominasi ada Esperanza spalding, saya pasti bisa menebak ;-p
 
62. Best Recording Package : Biophilia - Björk
63. Best Boxed Or Special Limited Edition Package : Woody at 100: The woody Guthrie centennial collection
64. Best Album Notes : Singular genius: The complete ABC singles - billy vera (album notes writer : Ray charles)
65. Best Historical Album : The smile session - Alan boyd, Mark linett, brian wilson, dennis wolfe.
66. Best Engineered Album, Non-Classical : The goat rodeo sessions - Richard king
67. Producer Of The Year, Non-Classical : Dan Auerbach 
69. Best Surround Sound Album : Modern cool - Jim Anderson, Darcy proper, Michael friendman
70. Best Engineered Album, Classical : Life & Breath - Choral Works By René Clausen
Untuk kategori teknik memang sulit menentukan pemenang tanpa melihat & mendengar fisik album, tetapi lumayan bisa menebak 2 kategori.
     
71. Producer Of The Year, Classical : Blanton Alspaugh
72. Best Orchestral Performance : Adams: Harmonielehre & short ride in a fast maschine - Michael tilson thomas
73. Best Opera Recording : Wagner: Der Ring Des Nibelungen
74. Best Choral Performance : life & breath - Choral works by Rene clausen
75. Best Chamber Music/Small Ensemble Performance : Meanwhile -Eight blackbird
76. Best Classical Instrumental Solo : Kurtág & Ligeti: Music For Viola - Kim Kashkashian
77. Best Classical Vocal Solo : Poèmes -Renée Fleming (Alan Gilbert & Seiji Ozawa; Orchestre National De France & Orchestre Philharmonique De Radio France)
78. Best Classical Compendium : Penderecki: Fonogrammi; Horn Concerto; Partita; The Awakening Of Jacob; Anaklasis
79. Best Contemporary Classical Composition : Hartke, Stephen: Meanwhile - Incidental Music To Imaginary Puppet Plays - Eight balckbird
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, bahwa saya selalu tertidur setiap mendengar semua nominator musik klasik, jadi jika di perhatikan tebakan saya selalu pada nominator pertama & terakhir pada saat saya terbangun. Jadi wajar ya kalo sampai salah semua (...hehehehe ngeles)
      
80. Best Short Form Music Video : We Found Love - Rihanna Feat Calvin Harris
81. Best Long Form Music Video : Big Easy Express - Mumford & sons, Edward sharpe & The magnetic zeros & Old crow medicine show
Masih di range prediksi, rihana bisa mengalahkan woodkid dan U2 gagal mengalahkan rombongan music folk america. Sebenarnya agak kurang tepat saja menyebutkan grammy kategori long form music video adalah grammy kedua Mumford & sons karena Big easy express bukan bercerita tentang album Babel saja, tetapi 3 band folk.
     
Gotye & Kimbra
Pada malam penghargaan grammy tahun ini hampir tak ada dominasi yang menonjol. Ada 3 artis/band yang  meraih 3 grammy seperti Gotye, Skrillex, The Black keys, Jay z & Kanye west. Mungkin yang perlu berbagga adalah Gotye, karena 3 grammy yang direbutnya dari 3 kategori berbeda : Alternatif, kategori utama (record of the year), dan Pop.
  
Uniknya pemenang grammy utama justru banyak rontok di kategori genre musicnya sendiri. Fun peraih 2 grammy di kategori utama, harus puas dengan jadi penggembira di kategori pop. Peraih album of the year, Mumford & sons justru lebih tragis lagi, kalah di genre rock & americana album. Sistem penjurian grammy memungkinkan terjadinya ini, karena pada genrenya masing-masing penjurian dilakukan hanya oleh para spesialis di genre itu, sedangkan pda kategori utama semua spesialis dari semua genre ikut memilih.  Contohnya pemenang Genre Pop hanya dipilih oleh pengamat musik pop, musik rock hanya dipilih oleh pengamat musik rock, tetapi kategori utama (Album, record, song of the year, & new artis) dipilih oleh semua pengamat musik pop, rock, folk, dll). 
 
Jadi jika Mumford & sons tidak disukai oleh pengamat musik rock & folk, bisa jadi dia menang karena mendapat suara dukungan dari pengamat musik dari genre lain. Jika spesialis pengamat musik saja punya selera berbeda-beda, jadi wajar donk saya hanya bisa menebak 28 kategori saja...... jiaaah ngeles

Note :
Daftar nominasi dapat dibaca di : Part 1 (no 59 – 81), Part 2 (no 31 – 58), dan Part 3 (no 1 -30)