Sabtu, 07 Desember 2013

Festival Film Indonesia 2013

Masih seperti tahun – tahun sebelumnya FFI tahun ini masih dirundung kontroversi, yang Kabar bagusnya skalanya menurun. Disini saya tidak akan membahas kontroversi, mari membahas pemenang FFI 2013 sebagai seorang moviefreak.Dari 15 kategori untuk film bioskop panjang, saya hanya ada 5 kategori dimana selera saya sama dengan selera juri FFI. Berikut daftar nominasi & pemenang FFI tahun 2013 yang tahun ini acara puncaknya dilangsungkan di Kota Semarang pada 7 Desember 2013 lalu.
 
1. Film Bioskop Terbaik :
Sang Kiai
Pemenang citra : Sang Kiai (Rapi Films)
Pilihanku  :  Belenggu (Falcon Pictures)
Nominasi lainnya :
1. 5 cm (Soraya Intercine Films)
2. 3. Habibie & Ainun (MD)
3. Laura & Marsha (Inno Maleo Pictures)
Mungkin para juri citra berfikiran film terbaik adalah yang mengumpulkan piala citra terbanyak. Film Sang Kiai memang tampil dengan teknik penggarapan di atas rata-rata film Indonesia, tetapi film ini gagal dalam menyampaikan cerita yang menghibur. Film Sang Kiai terasa panjang dan berat, bahkan untuk saya pecinta film serius.
Film terbaik pilihan saya jatuh pada : Belenggu, dia mewakili generasi baru film Indonesia, dan membawa film horror-thriller Indonesia ke level yang lebih tinggi.

2. Sutradara Terbaik
Pemenang citra : Rako Prijanto (Sang Kiai)
Pilihanku  :  Upi (Belenggu)
Nominasi lainnya :
1. Dinna Jasanti (Laura & Marsha)
2. Hanung Bramantyo dan Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda)
3. Rizal Mantovani (5 cm)
Rako prijanto memang cukup baik mengarahkan teknik, tapi lemah untuk penuturan cerita (dan bukankah itu tugas utama sutradara?). Pilihan saya jatuh pada Upi yang bisa menghadirkan "level baru" bagi horror-thriller Indonesia.
 
3. Pemeran Utama Pria Terbaik
Pemenang citra & Pilihanku : Reza Rahadian (Habibie & Ainun)
Nominasi lainnya :
1. Abimana Aryasatya (Belenggu)
2. Ikranagara (Sang Kiai)
3. Joe Taslim (La Tahzan)
4. Lukman Sardi (Rectoverso)
Rasanya Reza Rahadia sudah booking gelar ini sejak tahun lalu. Reza menjadi roh filmnya, dan menghadirkan karakter yang jauh berbeda dengan karakter normalnya. Lukman sardi jadi pilihan kedua disini, sayangnya dia melakukan satu kesalahan : bersaing dengan Reza !
 
Adini wirasti & Reza rahadian
4. Pemeran Utama Wanita Terbaik
Pemenang citra : Adinia Wirasti (Laura & Marsha)
Pilihanku  :  Imelda Therinne (Belenggu)
Nominasi lainnya :
1. Happy Salma (Air Mata Terakhir Bunda)
2. Laudya Cinthya Bella (Belenggu)
3. Laura Basuki (Madre)
Adinia wirasti seakan tak punya lawan berarti dalam list. Bukan karena dia tampil teramat istimewa, tetapi saingannya tidak terlalu menonjol #IMO. Sayangnya saya tidak terlalu suka karakter Marsha di film tersebut, saya lebih tertarik 2 karakter dalam film Belenggu.
 
5. Penulis Skenario Terbaik
Pemenang citra : Ginatri S. Noer dan Ifan Ardiansyah (Habibie & Ainun)
Pilihanku  :  Upi (Belenggu)
Nominasi lainnya :
1. Danial Rifki, Endri Pelita dan Kirana Kejora (Air Mata Terakhir Bunda)
2. Novia Faizal, Perdana Kertawiyudha dan Taty Apriliyana (Cinta Tapi Beda)
3. Titien Wattimena (Laura & Marsha)
Habibie & ainun memang berhasil memvisualisasikan kisah cinta yang sangat romantis & emosional, dari sosok yang tak pernah terpikirkan bisa romantic. Walau Habibie & Ainun berhasil memvisualisasikan sebuah cerita biografi menjadi sebuah tayangan menghibur tetapi saya lebih tertarik dengan scenario Belenggu.
 
6. Naskah Asli Terbaik
Pemenang citra : Titien Wattimena (Sang Pialang)
Pilihanku  :  Mouly Surya (They Don’t Talk About When They Talk About Love)
Nominasi lainnya :
1. Hestu Saputra (Cinta Tapi Beda)
2. Reni dan Dinna Jasanti (Laura & Marsha)
3. Upi (Belenggu)
Kejutan saat Titien wattimena keluar menjadi pemenang untuk filmnya Sang pialang, karena skenario buatan Titien yang lain : Laura & Marsha tampil lebih menarik. Pilihan saya ada di kisah cinta wanita - wanita berkebutuhan khusus
 
7. Pengarah Sinematografi Terbaik
Pemenang citra & pilihanku : Yudi Datau (5 cm)
Nominasi lainnya :
1. Ical Tanjung (Belenggu)
2. Fachmi J. Saad (Madre)
3. Rachmat Syaiful (Habibie & Ainun)
4. Roy Lolang (Laura & Marsha)
Film 5 cm adalah film yang mampu membuat sehingga landscape middle earth di film The Hobbit terlihat biasa saja. Jadi tak ada film lain yang menandingi sinematografi 5cm
 
8. Pengarah Artistik Terbaik
Pemenang citra & pilihanku : Iqbal Marjono (Belenggu)
Nominasi lainnya :
1. Eros Eflin (Laura & Marsha)
2. Frans Paat (Sang Kiai).
3. Mai Harison (Air Mata Terakhir Bunda)
4. Vida Sylvia (5 cm)
Saya pikirJuri FFI akan memilih sang kiai di kategori ini, ternyata juri FFI masih memperhatikan selera film generasi baru yang punya artistic lebih unik.
 
9. Penyunting Gambar Terbaik
Pemenang citra :  Cesa David Lukmansyah & Ryan Purwoko (Rectoverso)
Pilihanku : Wawan I. Wibowo (Belenggu)
Nominasi lainnya
1. Aline Jusria (Laura & Marsha)
2. Cesa David Luckmansyah & Ryan Purwoko (Get M4rried)
3. Wawan I. Wibowo (Habibie & Ainun)
Rectoverso memang berhasil menampilkan 4 cerita dalam satu timeline. Ada faktor kesulitan tinggi merangkai bebrapa cerita dengan puncak alur yang berbeda. Teknik ini bisa menguntungkan untuk suatu segmen lemah, tapi bisa berefek kontradiktif untuk segmen yang kuat. Pilihan favorit saya untuk best editing ada di film Belenggu (in oscar, best editing should win best picture :-p)
 
10. Penata Suara Terbaik
Pemenang citra :  Khikmawan Santosa (Sang Kiai)
Pilihanku : Khikmawan Santosa (Belenggu)
Nominasi lainnya
1. Adityawan Susanto (Sang Pialang)
2. Aufa R. Triangga & Khikmawan Santosa (Laura & Marsha)
3. Satrio Budiono (Habibie & Ainun)
Mungkin karena hadir secara  kolosal, Juri citra lebih menilai Sang Kiai punya kesulitan lebih tinggi dan pantas meraih citra. Favorit saya ada di film Belenggu, yang meletakkan tata suara sebagai unsur thriller dalam film. Tak apa-apa film belenggu tak menang di kategori ini, toh penata suranya juga sama dengan Sang Kiai :-p.
 
11. Penata Musik Terbaik
Pemenang citra :  Aksan Sjuman (Belenggu)
Pilihanku : Aghi Narottama dan Bemby Gusti (Laura & Marsha)
Nominasi lainnya
1. Aghi Narottama (Sang Kiai)
2. Thoersi Argeswara (Kisah 3 Titik)
3. Tya Soebijakto (Bidadari-Bidadari Surga)
Saya lebih cenderung memilih score Laura & Marsha yang seakan menghadirkan sebuah playlist menyegarkan yang menemani kita dalam suatu perjalanan.Belenggu juga tampil tak buruk.
 
12. Penata Efek Visual Terbaik
Pemenang citra & pilihanku : Eltra Studio (Moga Bunda Disayang Allah)
Nominasi lainnya:
1. S. Suryadi (Gending Sriwijaya)
2. Galih Mahardika (The Legend Of Trio Macan)
Cukup berani untuk mengadakan kategori ini disaat teknik efek visual Indonesia masih pas-pasan.Semoga citra kategori ini mamp memicu para pembuat film membuat visual effect lebih serius lagi
 
13. Penata Busana Terbaik
Pemenang citra & pilihanku : Retno Ratih Damayanti (Habibie & Ainun)
Nominasi lainnya:
1. Aldie Harra (Air Terjun Pengantin Phuket)
2. Aldie Harra (Sang Pialang)
3. Darwyn Tse (Laura & Marsha)
4. Andhika Dharmapermana (Belenggu)
Habibie & ainun tak punya lawan sepadan di kategori ini. BTW Saya terheran – heran melihat film yang pemainnya lebih banyak memakai bikini & bertelanjang dada bisa masuk nominasi kategori ini.
 
14. Pemeran Pendukung Pria Terbaik
Pemenang citra :  Adipati Dolken (Sang Kiai)
Pilihanku : Alex Komang (9 Summers 10 Autumns)
Nominasi lainnya
1. Didi Petet (Madre)
2. Igor Saykoji (5 cm)
3. Norman Akyuwen (Tak Sempurna)
 Kejutan besar melihat seseorang yang masuk nominasinya saja dianggap kejutan. Saya justru jatuh cinta dengan karakter ayah yang keras kepala yang dibawakan Alex komang di film 9 summers 10 autumns.
 
15. Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
Pemenang citra :  Jajang C. Noer (Cinta Tapi Beda)
Pilihanku : Ayusitha (What They Don’t Talk About When They Talk About Love)
Nominasi lainnya
1. Dewi Irawan (Rectoverso)
2. Meriza Febriyani (Sang Kiai)
3. Poppy Sovia (Merry Go Round)
Kejutan saat Jajang C noer meraih citra untuk film cinta tapi beda. Bukan berarti akting Jajang C noer jelek, tetapi Dewi irawan lebih menarik perhatian saya sebagai peran seorang ibu dengan anak yang menghadapi masalah.fyi Dewi irawan berperan sebagai seorang ibu di 5 film sepanjang tahun ini (Rectoverso, 9summer 10 autumn, Cinta brontosaurus, Wanita tetap wanita & Manusia setengah salmon). Dibanding ibu – ibu itu saya lebih menikmati acting ayusitha.
 
Untuk kategori  - kategori berikut saya tidak punya pilihan karena memang belum pernah melihat satupun nominatornya
16. Film Pendek Terbaik - Gazebo sutradara Senoaji Yulius (Sanggar cantrik)
 Nominasi Lainnya :
1. Dino - Edward gunawan (Add word production)
2. Pohon penguhan - Andra Fembrianto (Studio Asanggar, cantrikmarana, main studio, jalan benda studio)
3. Simanggale - Donni (FFTV IKJ)
4. Tikus - Khusnul khitam (Malioboro pictures & Lookout pictures)

17. Film Animasi Pendek Terbaik - Sang Suporter sutradara W Darmawan (Pink blues)
Nominasi Lainnya : 
1. Florist - M Paji sofiullah (Clubink)
2. Hebring & Bagol – Mar lan sugawa & Dennis adhiswara (Andi martin)
3. Inspektur Jonni – Mohamad fajar (FFTV IKJ)
4. Kripik sukun mbok darmi - Heri kurniawan (Oranginzenk production)

18. Film Dokumenter Panjang Terbaik - Denok dan Gareng sutradara Dwi Susanti Nugraeni (Jawa dwipa film)
Nominasi Lainnya : 
1. Mangga golek matang di pohon – Toy trimarsanto (Rumah dokumenter)
2. Superglad rock together – Andibachtiar yusuf, Meega setiawati (Bogalakon pictures)
3. Jejak nusantara Episode. Teknologi para leluhur- Yoga nugraha (Kompas gramedia)
4. Batak, Perjalanan ke tanah leluhur – Mahatma putra, Tasha may (Mahatma putra)

19. Film Dokumenter Pendek - SplitMind sutradara Andri Supiansyah ( FFTV IKJ)
Nominasi Lainnya :
1. Dongeng sebuah batik – Ony wahyu pahlevi (FFTV IKJ)
2. Pagare - Juwita asri (Prodi TV & film STSI Bandung)
3. Manisnya garam– Eryawan sri martyono (TVRI)
4. The man come around - Adi saputra (Blues film)

Rabu, 04 Desember 2013

Frozen; Kembalinya Animasi Musikal Disney Era 90an

Awalnya  saya pikir era film animasi musikal buatan Disney. Film Shrek (2001) mengukuhkan “habisnya” era itu dengan menampilkan karakter - karakter yang mengolok – olok karakter dalam dongeng Disney. Hadirnya Pixar, makin  membuat animasi Disney tenggelam. Disney kemudian justru sukses dengan film – film yang mengolok-olok filmnya sendiri, seperti : Enchanted (2007), The Princess and the frog (2009) , Tangled (2010), dan Wreck it ralph (2012). Hingga di tahun ini hadir Frozen, yang diangkat dari dongeng klasik karya Hans Christian Anderson "Snow Quenn". Di dalam trailernya, Frozen seakan ingin mengulang kejayaan disney di era 90-an, dengan klaim sebagai animasi “yang terbesar” sejak era Lion king (1994). Pernyataan yang mengundang kesinisan, dan hampir membuat saya menskip film ini.
  
Kesinisan saya tidak bertahan laman, Musikal di pembukaan film ini sudah mematahkannya . Setting musim salju disajikan sangat indah, selingan komedi dari kristof & sven kecil, dengan iringan score dan lagu – lagu indah yang bisa dinikmati segala usia, serasa menghadirkan kembali keajaiban film Disney era 90an.

Diceritakan Elsa kecil, putri dari kerajaan Arendelle punya kekuatan membekukan segala sesuatu. Hingga kecelakaan yang terjadi saat dia bermain dengan adiknya Anna, membuat sang ayah menyadari kekuatan putrinya makin besar dan dikhawatirkan suatu saat tak terkendali. Sesuai saran dari Troll, Sang Raja & Ratu membatasi kehidupan Elsa, mereka menutup gerbang istana, mengurung Elsa dalam kamar dan tak semua orang bisa bertemu dengan Elsa termasuk adiknya. Anna kecil yang tidak tahu apa terjadi merasa kehilangan sosok sang kakak yang tiba-tiba menjauh dan tertutup darinya.
   
Anna & Elsa
Suatu saat, raja & ratu meninggal karena sebuah kecelakaan laut, membuat  Elsa naik tahta. Di hari pengukuhannya sebagai ratu, Elsa (Indiana menzel) yang tidak sepenuhnya bisa mengendalikan kekuatannya, merasa ketakutan bertemu orang banyak umtuk pertama kalinya. Sebaliknya sang adik, Anna (Kristian bell) mengartikannya hari itu sebagai hari dia bisa melihat orang lain dan kesempatan bertemu jodohnya. Euforia berlebihan Anna, bahkan membuatnya menerima pinangan Pangeran Hans yang baru ditemuinya hari itu. Hal ini membuat berang sang kakak dan membuat Elsa mengeluarkan kekuatannya secara tak terkendali. Elsa membekukan semua yang dipegangnya dan membawa badai salju di tengah musim panas ke kerajaan Arendelle.
  
Merasa ketakutan Elsa lari ke hutan, dan membentuk kerajaannya sendiri. Anna yang merasa bersalah, mencari kakaknya untuk membujuknya menghentikan musim dingin yang membekukan Kerajaan Ardele. Upaya Anna membujuk kakaknya untuk menghentikan musim dingin dibantu oleh Kristoff (Jonathan gruff), rusanya Sven, dan manusia salju ciptaan elsa, Olaf (Josh gad) menghadirkan petualang mengasyikan, yang mengundang tawa sekaligus simpati dalam satu waktu.
  
Anna - Olaf - Kristof - Sven
Disney ternyata mengadaptasi bebas dongeng klasik Snow Quenn, bahkan saking bebasnya hasilnya malah jauh berbeda dari versi aslinya. Adaptasi versi Disney, yang ditulis oleh Jeniffer Lee & Chris buck (juga duduk sebagai sutradara) menghasilkan karakter – karakter yang lebih kompleks, dan menarik. Sulit untuk tidak suka dengan semua karakter di film ini. Putri Anna, bisa disebut perwakilan dari karakter putri modern disney (bisa dikatakan disfungsional princess, seperti Raspunzel di film Tangled). Sedangkan  Ratu elsa mewakili karakter putri – putri disney klasik. Layaknya cerita dongeng klasik, ada 2 tokoh pangeran disini, Pangeran Hans dan Kristoff sebagai pemuda kampung. Bedanya Pangeran - pangeran disini dihadirkan bukan untuk merubah nasib 2 tokoh utama, layaknya cinderela, snow white, dll. Bukan film Disney jika tidak ada karakter side kick yang menjadi scene stealer dengan tingkah slaptiknya. Di frozen posisi ini dijalankan dengan baik oleh Olaf, sebagai manusia salju yang merindukan musim panas!
  
Camoe Raspunzel (from Tangled)
Mungkin bagi penonton Indonesia kebanyakan, format musikal akan dirasa sangat mengganggu. Tetapi, musikal film ini justru menjadi kekuatan akan keindahan dan keajaiban yang dihadirkan film ini.  Christophe beck adalah orang yang bertanggung jawab atas hadirnya musik – musik indah di Frozen (Hey kemana composer langganan Disney, Alan menke?). Seperti halnya film musikal, seperti Les miserable, musik & lagu di film ini tidak hanya sebagai pemanis/pelengkap, dia menjadi bagian dari cerita. Simak lagu “Do you want to build a snowman” yang mengiringi perkembangan Ana kecil sampai remaja, yang dipenuhi bagaimana dia kesepian dan merindukan kakaknya. Lagu “ For the first time” menggambarkan euphoria berlebihan si Anna melihat dunia luar, sekaligus alasan mengapa dia mau menerima lamaran pria yang baru ditemuinya pertama kali. Lewat “in summer song” kita tidak hanya diajak sekedar berkenalan dengan Olaf, tetapi juga punya ikatan emosi disana. Musical "Let it go" yang beberapa scene menghadirkan duet Ana- & elsa mengingatkan saya akan “Defying gravity” dari musical broadway berjudul Wicked.  Musikal – musikal ini membuat cerita Frozen bergerak cepat dan dinamis, tetapi tidak meninggalkan penontonnya.


Singkat kata entah karena saya masih jatuh cinta dengan film musical, atau film Frozen memang benar- benar tampil menakjubkan. Frozen sukses menghadirkan kembali keindahan dan keajaiban film animasi musical Disney tahun 90an.

Nilai : 4 dari nilai max 5

Senin, 25 November 2013

The Hunger Games; Catching Fire: Not teen movie anymore

 Awal tahun 2012 yang lalu, Review Film The Hunger Games yang pertama menuai kritikan. Saya jatuh cinta dengan semangat memberontak yang disampaikan film itu, hingga menginspirasi saya dalam men-sinis-i tatanan masyarakat kita. Kali ini saya tidak akan membahasnya lagi, mari kita bicara sekuel Film The Hunger games; Catching fire sebagai layaknya moviefreaks.
  
Kemenangan Katnis everdeen (Jenifer Lawrence) di pertandingan Hunger games tidak serta merta membuat hidupnya damai. Berbagai kematian yang dilihatnya selama pertandingan membuatnya mengalami trauma dan mimpi – mimpi buruk yang terus mengganggunya. Katnis juga tidak bisa lagi hidup sebagai dirinya, dia harus menyembunyikan kisah cintanya dengan Gale (Liam hemsworth) dan terus melanjutkan kisah cinta sandiwaranya dengan Peeta (Josh hutcherson), karena itulah satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Katnis tidak hanya harus memalsukan kisah cintanya, tetapi juga semua yang ia lakukan & bicarakan, terlebih setelah Presiden Snow (Donald Sutherland) menemuinya secara langsung untuk mengancamnya.
 
Aksi “memberontak” Katnis selama pertandingan hunger games terakhir, hingga membuat Pemerintah mau merubah peraturan, menjadi sebuah simbol sebuah harapan terjadinya perubahan hidup. Harapan yang membuat Primrose (Willow shields) adik Katnis , Ibunya (Paula Malcolm), serta orang - orang tertindas lainnya untuk bertahan, sekaligus menginspirasi masyarakat 12 distrik untuk mencetuskan pemberontakan. Hal ini membuat pemerintah perlu mengontrol apapun yang Katnis dan Peeta lakukan, sayangnya mereka sudah terlanjur menjadi simbol perlawanan (sayangnya simbol – simbol ini kurang tersampaikan di film ini, faktor durasi).  Tour perayaan pemenang The Hunger games yang dilakukan Katnis & Peeta seakan menjadi api yang menyulut terjadinya revolusi.
  
Pemerintah tak mau menyerah, mereka makin menekan masyarakat dengan menyebarkan ketakutan, menghukum mati ditempat semua orang yang mengeluarkan simbol – simbol perlawanan (termasuk salam 3 jari), membungkam pers dengan menyembunyikan berbagai kerusuhan, dan lain sebagainya. Di saat pemerintah, membuat hidup rakyat di 12 distrik sengsara, pemerintah pusat membuat pesta besar untuk memanjakan rakyat di ibu kota seakan menangatakan segalanya baik – baik saja…. Sounds familiar?  Aksi Pemerintah Panem membuat saya teringat Indonesia di Jaman Orde baru. "Bagi yang suka menyebarkan foto bapak tua bertanya apa kabar?.. tolong bedakan hidup dalam kondisi aman dan kejadian kerusuhan/korupsi tidak boleh diberitakan (..lah malah curhat)."
  
Saat kondisi makin tak terkendali, pemerintah punya ide untuk membungkam semua inspirator revolusi. Pemerintah membuat para pemenang The Hunger games kembali bertarung di pertandingan The Hunger Games berikutnya. Mau tidak mau 24 juara dari 12 distrik, termasuk Katnis & Peeta, kembali mengangkat senjata mempertahankan hidup mereka, dan kembali saling bunuh.. di titik ini, kita serasa akan mengulang lagi bagian awal filmnya, dan ini hampir membuat saya mengalami anti klimaks…  (tapi ini khan adaptasi buku, dan dibuku memang ditulis ada pertandingan The Hunger games lagi :-D)
  
Untungnya, Film Catching fire tahu mengatasi kebosanan ini. sang sutradara Francis Lawrence, dan para penulis skenario menyajikan pertandingan Hunger games menjadi lebih padat, dengan setting dan tantangan yang lebih hingar bingar dibanding sebelumnya. Semua kontestan hunger games kali ini juga dtampilkan abu – abu, untuk membuat kita menebak dia kawan atau lawan.
  
The hunger games memang sudah meletakkan dasar emosional kuat di tiap karakter, sehingga di sekuelnya ini semua cast terlihat tampil lebih dalam lagi seperti si tangan besi yang sedang risau yang dimainkan Donald Sutherland, atau karakter 2 kaki yang dimainkan Woody harrelson & Phillip Seymour Hoffman, dan juga ke-esentrikan karakter yang dimainkan Stanley tucci.  Yang tak kalah menarik di film ini, melihat bagaimana Peeta & Gale bisa bermain menarik simpati. Menurut kalian mana yang lebih sukses menarik simpati : Peeta yang rela memberikan nyawanya untuk melindungi wanita yang hatinya sudah jadi milik orang lain atau, Gale yang harus melihat wanita yang dicintainya dengan pria lain demi keselamatannya *puk-puk Katnis. Seperti bagian awalnya, lagi – lagi aktris peraih oscar 2013, Jenifer Lawrence menjadi roh dari keseluruhan film Catching fire.
  
Ending dari film ini akan membuat anda terbengong – bengong, sembari mencerna apa yang terjadi, suara cold play di credit scene akan sangat membantu menenangkan anda..dan setelah itu anda pasti akan bertekat kembali lagi ke bioskop untuk menyaksikan 2 bagian terakhir the Hunger games.
  
Bagian kedua The hunger games ini membuat saya lupa bahwa Hunger games sebenarnya adalah film remaja. Catching fire sukses tampil lebih dewasa, Tema tentang harapan, revolusi, kesenjangan, dan pemerintah tangan besi mengalahkan cerita cinta, cemburu, dan kegalauan. Saking dewasanya film ini, 3 orang ABG  yang duduk disebelah saya kebingungan membahas bagaimana kisah cinta dalam film ini bisa terjadi. Keributan mereka makin absurd saat mereka baru tersadar bahwa ‘The hunger games itu bukan sekuel dari twilight” *tepok jidat.
Nilai :  3,5 / 5

Sabtu, 23 November 2013

Sokola Rimba; Protes Dari Orang Rimba



Pendidikan sepertinya sebuah isu besar di Indonesia yang tak pernah habis diceritakan. Tak perlu bicara kurikulum, sertifikasi, UNAS dll, cukup tentang pendidikan sebagai hak dasar semua orang saja masih banyak kita jumpai cerita miris. Sekolah bagi beberapa anak di negara ini seperti barang mahal, dan untuk mendapatkannya, mereka harus melalui petualangan besar nan seru bak Indiana jones. Oleh sebab itulah Film Indonesia tak pernah berhenti menghadirkan petualangan - petualangan anak - anak Indonesia di pedalaman untuk bersekolah, sebut saja : Laskar pelangi, Denias negeri di atas awan, atau serdadu kumbang. Setelah sukses menghantarkan Laskar pelangi & Sang pemimpi, produser Mira lesmana bersama sutradara Riri riza kembali menghadirkan petualangan untuk mendapatkan pendidikan. Kali ini giliran dunia pendidikan anak - anak rimba dari bukit dua belas Jambi. Film ini diangkat ke layar lebar berdasarkan buku Sokolah rimba.
 
Film ini menceritakan kisah nyata dari seorang wanita bernama Butet Manurung (Prisia nasution) seorang aktivis LSM wana raya. Tugasnya memberikan pendampingan kepada suku-suku rimba di Hutan Bukit Dua belas Jambi, dengan memberikan pendidikan dasar berupa membaca, menulis, dan berhitung sederhana  kepada anak – anak rimba. Kehidupan orang –orang rimba makin lama makin terdesak oleh perluasan perkebunan kelapa sawit, pembalakan liar, hingga berdirinya taman nasional. 
 
Film dibuka dengan bagaimana susahnya ibu guru (begitu Butet dipanggil anak-anak rimba) menjangkau wilayah tempatnya mengajar di daerah Makekal hulu. Butet harus menempuh. 3 jam berkendara sepeda motor hingga mencapai desa transmigrasi terakhir, lalu dia harus berjalan kaki masuk jauh ke dalam hutan. Hingga siang itu, kondisi fisiknya yang kurang prima membuatnya pingsan di pinggir sungai kecil. Seorang anak rimba misterius yang diam-diam mengikutinya, menyelamatkannya tepat waktu. Dari sini Butet menyadari bahwa anak yang menolongnya secara sembunyi – sembunyi ikut memperhatikan aktivitas Butet dalam mengajar. 
  
Bungo (Nyungsang Bungo), nama anak rimba misterius itu. Dia datang dari suku rimba pedalaman terjauh. Dia rela berjalan sangat jauh dari desanya di daerah Makekal hilir untuk diam-diam mengikuti pelajaran Butet sambil membawa sebuah surat dari notaris.
Kehadiran Bungo, memacu Butet untuk memperluas area mengajarnya. Butet ditemani Nengkabau & Beindah (diperankan oleh mereka sendiri, 2 anak dari makekal hulu) berjalan 3 hari melintasi hutan untuk mencapai rombong tempat Bungo tinggal. Tentangan sang bos yang haus popularitas demi keuntungan pribadi, kejaran para pembalak liar, dan sergapan penyakit malaria, tak menghalangi upaya Butet membuka kelas di desa tempat Rombong Bungo tinggal. Setelah berhasil membuka kelas, dia masih harus menghadapi sikap sinis masyarakat Rombong yang dikepalai Tumenggung (kepala suku) Balawan Badai. Bagi mereka, Pensil dan kertas adalah sebuah kutukan dan membawa penyakit dan kesialan.  
  
Selama berabad – abad orang rimba bisa hidup berdampingan dengan alam. Mereka bisa hidup tanpa ada ilmu pengetahuan dari luar. tanpa pelajaran baca tulis, karena hutan tempat tinggal mereka sudah memenuhi kebutuhan mereka. Dr Astrid, seorang peneliti dari Jerman yang jatuh cinta pada kehidupan suku di pedalaman ini menyatakan dari berbagai banyak hal Suku Rimba punya pikiran lebih maju dari kehidupan masyarakat modern. Mereka menjadikan  alam sebagai cerminan bagaimana mereka harus menjalani hidup. Salah satunya digambarkan secara apik melalui animasi tentang pohon madu yang jadi sumber kehidupan orang rimba. 
  
Mapannya kehidupan orang rimba bersama alam, membuat mereka seakan menutup diri dari dunia luar. Mereka menjaga diri untuk melihat dunia luar, dan itulah sebabnya Butet merasa harus menerima tatapan sinis dari orang –orang rimba makekal hilir. Bagi mereka ilmu yang dibawa Butet akan membawa anak – anak mereka membawa anak-anak mereka keluar dari rombong dan tak kembali, hingga Butet harus menerima keputusan pengadilan adat, untuk segera menutup sekolah dan pergi dari Rombong Bungo.
   
Spirit belajar Bungo agar dirinya tak dibodohi lagi oleh orang luar membuat Butet tak menyerah atas penolakan orang rimba. Atas jasa Bu Pariyan (Netta kd), Butet membuka sekolah di desa tempat berkumpulnya orang – orang suku rimba menjual hasil hutan.  Ide yang efektif untuk menarik lebih banyak anak- anak rimba untuk bersekolah termasuk Bungo .Hingga suatu kejadian membuatnya mulai mempercayai bahwa pensil dan kertas memang benar kutukan untuk orang rimba.
   
Film ini berulangkali menekankan bahwa ada yang salah dengan pemerintah (dan juga kita) dalam melihat orang rimba. Selama ini kita melihat mereka sebagai orang yang terbelakang, yang perlu dikasihani dan dibantu. Orang rimba tidak perlu orang luar, mereka hanya perlu hutan mereka untuk hidup, seperti halnya yang terjadi selama berabad-abad. Hingga perkebunan sawit, dan pembalakan liar merusak hutan mereka.Upaya pemerintah menetapkan hutan mereka sebagai kawasan taman nasional, membuat orang rimba tak boleh lagi mengambil hasil hutan atau berburu di hutan mereka. Hal ini membuat orang – orang rimba kehilangan rumah, kehilangan penghidupan mereka, hingga merubah kehidupan mereka. 
   
Cerita ini mengingatkan saya akan kehidupan suku Na’vi, penduduk asli Planet Pandora dari Film Avatar besutan James cameron. Bedanya, cerita orang rimba yang kehilangan kehidupannya ini nyata dan ada dinegara kita. Para pendatang masuk ke rumah mereka seakan memaksakan suatu kehidupan yang berbeda dari mereka, lalu dengan seenaknya kita cap kehidupan mereka terbelakang.
   
Sayangnya  di film ini kita hanya melihat persoalan suku rimba hanya dari satu padang Butet manurung seorang. Kekuatan suku rimba dan ekselerasinya dengan alam hanya hadir berupa pernyataan lisan dari Dr astrid & Butet, dengan minim visualisasi layaknya animasi pohon madu. 
  
Dengan iringan musik yang membawa atmosfer misterius, damai, nan eksotik, film Sokola rimba memilih  tampil sederhana, dan jujur. Film Sokola rimba berupaya menghindari dramatisasi berlebihan, walau film ini punya potensi untuk tampil dengan berbagai dramatisasi masalah. Idealisme sang produser dan sutradara ini membawa film ini menjadi  sangat segmented untuk bisa dikonsumsi sebagai hiburan. 
  
Dari segi cast, secara visual saya belum puas akan penampilan Prisia sebagai Butet, tetapi dia seakan punya daya tarik atau aura yang membuat kita susah untuk tidak suka kepada karakter Butet. Ada eksotisme alami dalam diri Prisia yang seperti selaras dengan kehidupan manusia rimba, membuat saya tak punya bayangan aktris lain selain Prisia nasution yang menjadi pilihan tepat memainkan karakter Butet manurung. 
  
Seperti halnya, Laskar pelangi, lagi – lagi Mira lesmana & Riri riza menggunakan aktor dari orang rimba asli untuk bermain dalam film ini. Saya bisa memaklumi bagaimana susahnya mengajari orang – orang awam  berakting, terlebih kepada orang yang tak mengenal film. Lagi – lagi Riri riza tahu, bagaimana mengatasi kekakuan mereka menjadi suatu hal yang natural. Penampilan Nengkabau, Beindah, dan Bungo diam-diam memikat dan selanjutnya mengikat saya secara emosional. Saya ikut tertawa saat mereka sudah lancar berhitung, dan bisa berbelanja. Saya juga tak kuasa menahan haru, melihat akhirnya Bungo bisa membaca surat Notaris yang selama ini selalu dibawa-bawanya. Surat yang dicap jempol oleh Tumenggung mereka tanpa satu pun dari orang desa tau isinya karena mereka tak bisa membacanya. Surat itu berisi ijin penebangan pohon-pohon di hutan tempat mereka menggantungkan hidup yang hanya ditukar oleh beberapa bungkus kopi dan beberapa kaleng biskuit!.  Sebuah perjanjian yang membulatkan tekad Bungo untuk belajar, bukan untuk keluar dari adat orang rimba, tetapi untuk membantu orang rimba beradaptasi menghadapi perubahan jaman.
  
 Nilai : 3 dari nilai max. 5

Rabu, 30 Oktober 2013

Adu seram : Mama Vs The Conjuring Vs Insidious Chapter 2


 
Tahun ini sudah ada 3 film horor yang sukses membuat saya berteriak macho di dalam bioskop, yaitu Mama (Januari 2013), The Conjuring (Agustus 2013) dan Insidious chapter 2 (September 2013). Persamaan dari ketiga film ini adalah penggunaan resep horor klasik, yang menakuti dan meneror penonton dengan sound effect, acting, alur cerita, sinematografi, dan editing. Berbeda dengan horor modern, Horror klasik minim adegan berdarah -darah seperti halnya film Saw, Friday the 13th, Cabin in the wood, dll. Resep horror klasik ini makin naik daun setelah film Insidious menangguk kesuksesan di box office tahun lalu.
       

Mama, merupakan debut layar lebar perdana sutradara Andres Muschietti. Film Mama ini adalah versi panjang dari film pendek buatan Andres berjudul sama. Film ini diback-up penuh oleh spesialis horror Guilermo del torro. Sedangkan Film The Conjuring & Insidious chapter 2 dibesut oleh sutradara kelahiran Malaysia, James wan (Cc: GoodNewsFromMalaysia), yang sebelumnya sukses dengan franchise film Saw.
 

REVIEW MAMA

Dr dreyfuss & Victoria
Setelah mengalami serentetan kejadian penculikan & upaya pembunuhan yang dilakukan sang ayah, dua gadis cilik, Victoria (Megan charpenter) & Lily (Isabelle nelisse) diselamatkan & diasuh oleh sebuah arwah penasaran dalam sebuah rumah terpencil dalam hutan (bukan… ini bukan cabin in the wood).  Setelah 5 tahun  mereka ditemukan oleh sang paman, Jeffry (Nikola costr-waldau).

Victoria & Lily ditemukan dalam kondisi yang mengenaskan, mereka lupa cara berkomunikasi dengan manusia, berjalan dengan merangkak, dan takut akan sentuhan manusia. Jeffrey dibantu oleh sang istri, Anabelle (Jessica Chastain) dan seorang psikiater Dr. Dreyfuss (Daniel kash), berupaya memulihkan kondisi kedua keponakannya.
Hingga mereka menyadari kehadiran sosok arwah jahat bersama 2 keponakan mereka. Terapi pemulihan Victoria & lily pun berubah menjadi teror horor, karena arwah penasaran yang disebut “Mama” ini adalah wanita sakit jiwa yang punya sifat cemburu & posesip berlebihan. “Mama” tak rela Victoria & Lily disayangi oleh orang lain, dan membunuh siapapun yang menghalanginya.
  

REVIEW THE CONJURING

Warren dengan 3 langkah teror hantu
Berkisah seputar keluarga  Roger & Carolyn perron (Ron livingston & Lily taylor)  dengan 5 putrinya Andrea (Shanley caswell) , Nancy (Haylay McFarland) , Christine (Joey king), Cindy (Mackenzie foy), dan April (Kyla deaver) yang memulai hidup di rumah baru mereka. Tanpa disadari, rumah baru mereka ini adalah rumah tua yang dihuni arwah seorang penyihir yang berupaya merasuki wanita-wanita yang tinggal dirumah itu untuk mendapatkan tumbal. Kejadian aneh kecil dalam rumah mereka lambat laun menjadi terror yang mengusik kehidupan mereka, hingga mereka merasa perlu meminta bantuan pengusir hantu.

Berpararel dengan itu, dikisahkan aksi sepasang suami istri pengusir hantu Ed & Loarine Warren (Patrick Wilson & Vera farmiga)  dalam mengusir hantu. Mereka melakukan pekerjaanya dengan amat professional, dan berupaya mengilmiahkan kasus - kasus yang dihadapi,  mulai dari terror hantu (sungguhan) seperti hantu boneka Anabele, hingga teror akibat ketakutan berlebihan. Sebuah kuliah tamu di sebuah universitas, menghantarkan Ed & Loaraine ke kasus rumah keluarga Perron. 

REVIEW INSIDIOUS CHAPTER 2

Film ini dimulai tepat setelah Insidious pertama berakhir. kematian sang paranormal Ellise (Lin shayne), serta trauma teror membuat Josh lambert (Patrick wilson...lagi) membawa keluarganya pindah ke rumah ibu josh, Loraine (Barbara hersey). Alih-alih pulih, mereka mulai mendapat teror baru, mulai dari Renai, istri josh (Rose byrne) yang mendengar dentingan piano lagu suaminya (spoiler : yang ternyata kode) hingga dia "digampar" seorang arwah wanita, hingga anak- anak josh yang mencurigai bahwa josh di rumah tersebut bukan ayah mereka.
Loraine diam-diam menghubungi paranormal-paranormal yang pernah membantu Josh di masa kecil. Sama seperti putranya, Josh pun punya masalah yang sama dengan putranya yang suka meninggakan raganya. Tak tanggung- tanggung gerombolan paranormal ini pun menghadirkan arwah Ellise untuk membantu mereka mengungkap siapa wanita yang meneror keluarga Josh.
 

INTENSITAS HOROR
Bagi yang terbiasa melihat horror modern yang "berdarah-darah", The Conjuring, Mama dan Insidious chapter 2 akan tampak biasa saja. Seram itu memang relatif dan sangat subyektif, tetapi jika disuruh memilih antara 3 film tersebut, maka saya akan memilih The Conjuring sebagai film terseram. 

Di bagian awal film, Mama sudah cukup solid meneror kita, akan tetapi eksploitasi berlebihan arwah mama yang terlalu sering muncul membuat saya mencapai titik jenuh sebelum akhir cerita. Terlebih, sosok CGI Mama benar-benar membuat anti klimaks.
Mama dancing, sure?

Urusan meramu horor, James wan tampil lebih unggul terutama saat menghadirkan The conjuring. Dia bisa menggiring kita, dari hal - hal remeh, diselipi keanehan kecil, pelan - pelan berubah menjadi teror yang bisa membuat kita berteriak ketakutan (atau kaget). Simak bagaimana permainan petak umpet dengan tepuk tangan, bisa berubah menjadi sebuah trauma horor, atau simak bagaimana dia bisa membuat kita selalu memastikan lemari kamar dalam kondisi tertutup, dan semua pasti tidak akan melupakan adegan horror ini :

 

 ups.... salah, maksudku adegan ini :

 



Berbeda dengan The conjuring, Insidious chapter 2 hadir tanpa pemanasan. Merasa sudah teralu banyak fair play teror di chapter yang pertama, Insidious chapter 2 hadir dengan teror di menit pertama. Beberapa orang yang tidak melihat chapter pertamanya mungkin akan merasa terlalu berat dengan teror ini. Berbeda dengan The conjuring, teriakan yang muncul akibat menonton Insidious chapter 2 lebih banyak disebabkan karena kaget dibanding karena takut. 

KUALITAS FILM

Dari segi cerita, The Conjuring tampil lebih rapi dan punya plot yang lebih “kaya” . Keunggulan The Conjuring karena sumber cerita bukan pada satu kaus teror, tetapi  pada aksi dua ghostbuster. Hal ini memungkinkan si penulis memasukkan banyak sub plot yang dan menambah intensitas horror utama film. 
Insidious chapter 2 masih tampil apik, walau plot yang ada tidak sekaya the conjuring. bagian terbaik saat Insidious chapter 2 berupaya berkoneksi dengan film pertamanya, juga saat dia menjadikan adegan pembuka film sebagai jawaban klimaks film.
Dibandingkan 2 film pesaingnya, Mama tampil lebih lemah dari segi plot & alur cerita. Mama yang merupakan versi panjang dari sebuah film pendek, justru nyaris gagal saat memasukkan plot tambahan (seperti adanya karakter bibi jane, mimpi Jeffrey, aksi Dr. dreyfuss yang kadang membingungkan dll). 
  

Anabelle with Victoria & lily
Dari segi akting, Mama beruntung punya Jessica Chastain yang sukses mentransformasikan Anabele (bukan bonekanya conjuring loh) dari anak band menjadi seorang ibu yang berjuang mempertahankan keluarganya. Duo actris cilik Victoria & Lily juga tampil pas. 
Apa yang ada di film Mama dari segi akting, dimiliki berlipat oleh film The Conjuring. Ada dua sosok mama yang berbeda karakter yang tampil sangat meyakinkan (Lily taylor & Vera farmiga), dan 6 anak kecil yang berhasil membuat kita melihat terror dari mata mereka. Pengalaman di Conjuring ini, dibawa James wan dengan menghadirkan cast Insidious chapter 2 lebih cemerlang dibanding seri pertamanya.
  

Dari segi pendapatan. The conjuring lebih beruntung, karena punya jadwal edar di musim panas. film berbudged US$ 20 ini mengumpulkan lebih dari US$ 300 juta dari seluruh dunia. Mama dengan yang dibuat dengan budged US$ 15 juta, menghasilkan lebih US$ 145 juta dari seluruh dunia. Insidious chapter 2 dibuat dengan budged lebih minimal US$ 5 juta, menghasilkan lebih dari US$ 137 juta


Nilai (Max 5):

Mama : 2,5
The Conjuring : 3,5
Insidious chapter 2 : 3